Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Psikiater Ingatkan Konten Digital Bisa Jadi Pemicu Perilaku Bunuh Diri

M Iqbal Al Machmudi
05/4/2026 14:28
Psikiater Ingatkan Konten Digital Bisa Jadi Pemicu Perilaku Bunuh Diri
ilustrasi(MI/Duta)

PSIKATER dr. Lahargo Kembaren, Sp.KJ, mengingatkan bahwa konsumsi konten digital seperti film, serial, hingga pemberitaan, dapat meningkatkan risiko perilaku bunuh diri (suicidal behavior) jika ditampilkan secara sensasional.

Menurutnya, penggambaran yang tidak tepat di ruang publik maupun layar gawai dapat menjadi pemicu berbahaya bagi kelompok masyarakat yang sedang dalam kondisi rentan.

"Semakin seseorang merasa 'itu saya banget' terhadap karakter atau narasi tersebut, semakin tinggi risiko identifikasi psikologisnya," ujar Lahargo, Minggu (5/4).

Faktor Pemicu dalam Tontonan

Lahargo merinci beberapa elemen dalam konten yang berisiko tinggi memicu peniruan atau perburukan kondisi mental, di antaranya:

  • Romantisasi kematian dan penggambaran bunuh diri sebagai solusi masalah.
  • Pengulangan visual adegan kematian secara eksplisit.
  • Narasi keputusasaan (hopelessness) yang ekstrem.
  • Identifikasi penonton yang terlalu kuat dengan karakter yang mengakhiri hidup.

Baliho Film dan Keamanan Psikologis

Pernyataan ini muncul menyusul keprihatinan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) terhadap pemasangan baliho promosi film berjudul Aku Harus Mati di ruang publik.

Meski konten visual atau baliho bukan penyebab tunggal, Lahargo menekankan bahwa hal tersebut bisa menjadi pemantik (trigger) bagi individu yang sudah memiliki kerentanan, seperti penderita depresi, gangguan bipolar, korban bullying, hingga mereka yang mengalami krisis finansial.

"Media menjadi pemantik pada 'bahan bakar' yang sudah ada, yaitu situasi psikologis yang tidak baik-baik saja," jelasnya.

Ia menyarankan agar promosi di ruang publik maupun konten viral lebih mempertimbangkan aspek psychological safety (keamanan psikologis). Pesan yang ditampilkan seharusnya tidak hanya mengejar viralitas, tetapi juga melindungi kesehatan mental masyarakat luas.

"Tidak semua yang viral aman bagi jiwa. Ada judul yang menjual rasa takut, tetapi bisa melukai mereka yang sedang berjuang untuk tetap hidup," pungkasnya.

(P-4)

Disclaimer: Tulisan ini bukan dimaksudkan menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Jika Anda merasa depresi, berpikir untuk bunuh diri, segera konsultasikan segala masalah Anda ke tenaga profesional seperti psikolog, klinik kesehatan mental, psikiater, dan pihak lain yang bisa membantu.

Layanan konseling darurat 24 jam:
- Menelepon 119 Ext 8
- Chat Whatssapp 081380073120
- Chat via healing119.id



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akmal
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik