Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
PAKAR pencemaran dan ekotoksikologi dari IPB University, Prof. Etty Riani, meluruskan kekeliruan pandangan mengenai partikel plastik yang masuk ke dalam tubuh manusia.
Menurutnya, partikel yang memiliki kemampuan menembus dinding usus hingga masuk ke aliran darah bukanlah mikroplastik, melainkan nanoplastik.
Perbedaan mendasar terletak pada skalanya. Nanoplastik berukuran sangat kecil, berkisar antara 1 hingga 1.000 nanometer (sebagai perbandingan, 1 mm setara dengan 1 juta nanometer).
Prof. Etty menjelaskan bahwa partikel yang dikonsumsi harus berukuran sangat spesifik untuk bisa melewati sistem pertahanan tubuh:
"Karena usus itu tidak bisa dilalui kalau ukurannya mikroplastik, maka akan keluar melalui feses. Kalau melalui udara bisa, tapi ukurannya harus sangat kecil," jelasnya.
Selain melalui sistem pencernaan, plastik berukuran mikroskopis ini dapat masuk melalui udara, khususnya partikel kategori PM1.0 (kurang dari satu mikron).
Nanoplastik juga diduga kuat dapat mencapai organ vital seperti otak hingga air ketuban, asalkan ukurannya cukup kecil untuk menembus filter alami tubuh.
Sebaliknya, Prof. Etty menegaskan bahwa mikroplastik secara definisi mustahil ditemukan dalam air ketuban karena ukurannya terlalu besar untuk menembus sistem sirkulasi darah manusia.
Prof. Etty mengingatkan agar peneliti dan masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan temuan plastik dalam tubuh jika hanya menggunakan mikroskop biasa.
Penggunaan alat manual tersebut berisiko tinggi menimbulkan kesalahan identifikasi antara plastik dengan plankton atau senyawa lain.
Ia menekankan penggunaan teknologi analisis lanjutan seperti:
"Saya kebetulan di Osaka, Jepang, waktu itu mengiranya mikroplastik. Ketika ditembak dengan spektroskopi mikro-Raman, ternyata itu bukan mikroplastik. Kalau hanya mikroskop saja, enggak mungkin bisa memastikan," ungkap Prof. Etty.
Melalui penjelasan ini, diharapkan publik dan akademisi lebih berhati-hati dalam menginterpretasi hasil penelitian agar tidak terjadi kekeliruan data terkait dampak plastik pada kesehatan manusia. (Z-1)
Studi terbaru mengungkap mikroplastik di sungai dan pesisir membawa biofilm berbahaya yang memicu resistensi antibiotik.
Studi terbaru mengungkap kandungan mikroplastik pada tumor kanker prostat 2,5 kali lebih tinggi dibanding jaringan sehat. Benarkah plastik picu kanker?
Peneliti menemukan botol air minum kemasan mengandung jauh lebih banyak partikel nanoplastik dibandingkan air keran olahan.
Mikroplastik sendiri merupakan partikel plastik berukuran sangat kecil (kurang dari 5 mm) yang berasal dari produk konsumen dan limbah industri.
Peneliti ungkap bagaimana kombinasi panas, garam, dan plastik merusak kesehatan tanah kota. Temukan mengapa satu faktor stres bisa mengubah segalanya.
Peneliti menemukan botol air minum kemasan mengandung jauh lebih banyak partikel nanoplastik dibandingkan air keran olahan.
Riset terbaru mengungkap bahaya air kemasan dalam botol plastik.
Penelitian terbaru memicu kekhawatiran global setelah ilmuwan menemukan sekitar 27 juta ton nanoplastik mengambang dan tersuspensi di Samudra Atlantik Utara.
Tim peneliti dari Graz University of Technology mengembangkan metode inovatif untuk mendeteksi partikel nanoplastik dalam cairan tubuh manusia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved