Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
TANTANGAN sektor pertanian di masa depan tidak lagi terbatas pada persoalan hulu seperti teknik budidaya atau serangan hama. Ketika era disrupsi informasi dan teknologi, mahasiswa pertanian dituntut memiliki "senjata" baru berupa kemampuan artikulasi gagasan melalui tulisan esai untuk mengawal kebijakan pangan dan mengedukasi publik.
Pandangan tersebut mengemuka dalam Pelatihan Giat Prestatif Mahasiswa Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi (FPST), Universitas Warmadewa (Unwar) yang digelar di Denpasar, Jumat (27/3). Hadir sebagai narasumber utama, Dr. I Nengah Muliarta, S.Si., M.Si, akademisi Program Studi Agroteknologi Unwar sekaligus Koordinator Wilayah Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali-Nusra.
Dalam paparannya, Muliarta menegaskan bahwa esai bukan sekadar gugusan kalimat dalam lembar akademik, melainkan alat navigasi bagi mahasiswa untuk tetap relevan di tengah banjir informasi dan perubahan teknologi yang serba cepat. Menurutnya, kemampuan menulis esai memaksa mahasiswa untuk melakukan riset mendalam, berpikir kritis, dan mensintesis solusi atas masalah pertanian yang kian kompleks.
"Dunia pertanian saat ini menghadapi disrupsi dari berbagai sisi, mulai dari perubahan iklim hingga digitalisasi pasar. Tanpa kemampuan menuangkan ide secara sistematis melalui tulisan, gagasan brilian mahasiswa hanya akan mengendap di laboratorium dan gagal menjadi solusi di tengah masyarakat," ujar Muliarta di hadapan puluhan mahasiswa FPST Unwar.
Ia menambahkan, esai menjadi "senjata" karena sifatnya yang argumentatif. Mahasiswa pertanian yang mampu menulis esai dengan tajam akan memiliki posisi tawar kuat dalam mengkritisi kebijakan pemerintah atau menawarkan inovasi teknologi tepat guna yang lebih manusiawi bagi petani.
Sebagai sosok yang juga berkecimpung erat dalam dunia media siber, Muliarta menyoroti adanya jurang pemisah antara temuan ilmiah di kampus dengan pemahaman masyarakat luas. Mahasiswa pertanian, menurutnya, harus menjadi penerjemah sains (science translator) yang mampu mengalihbahasakan data teknis pertanian menjadi narasi yang mudah dicerna namun tetap berbobot.
"Persoalan kedaulatan pangan atau konversi lahan seringkali hanya berakhir sebagai statistik. Mahasiswa harus masuk ke ruang publik melalui esai untuk memberikan nyawa pada data tersebut. Esai adalah jembatan agar publik tahu bahwa pertanian adalah sektor masa depan yang patut diperjuangkan," tegasnya.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa pelatihan menulis esai merupakan bagian dari pembentukan karakter intelektual. Menulis esai melatih ketajaman analisis dan empati sosial mahasiswa terhadap nasib sektor agraria.
Pelatihan Giat Prestatif ini diharapkan menjadi pemantik bagi mahasiswa FPST Unwar untuk tidak hanya unggul secara teknis di lapangan, tetapi juga cakap dalam diplomasi ide. Dengan penguasaan literasi yang mumpuni, lulusan pertanian diharapkan mampu menjadi pemimpin opini (opinion leader) yang tidak mudah tergilas oleh arus disrupsi, melainkan justru menjadi penggerak perubahan di sektor pangan nasional.
"Kemampuan menulis adalah investasi jangka panjang. Saat teknologi terus berganti, kekuatan narasi dan kedalaman berpikir akan tetap menjadi pembeda utama seorang sarjana pertanian," pungkas Muliarta.
Muliarta, yang juga sering mengulas isu lingkungan dan ekonomi sirkular, mengingatkan bahwa esai yang kuat lahir dari kepekaan terhadap realitas lapangan. Ia mendorong mahasiswa untuk sering turun ke subak dan berdiskusi dengan petani agar tulisan mereka memiliki "ruh" dan tidak sekadar tumpukan teori.
"Disrupsi menuntut kita untuk adaptif. Mahasiswa pertanian harus bisa menggunakan data digital, namun tetap menjaga kedalaman analisis manusiawi yang tidak bisa digantikan oleh kecerdasan buatan," tambah Muliarta.
Senada dengan itu, Wakil Dekan III FPST-Unwar Ir. Wayan Sudiarta, MP menegaskan bahwa pihak fakultas akan memberikan wadah bagi karya-karya terbaik mahasiswa hasil dari pelatihan ini. Langkah ini diambil agar semangat menulis tidak berhenti di ruang kelas, melainkan berlanjut hingga ke kompetisi tingkat nasional, internasional maupun publikasi di media massa.
Melalui bimbingan intensif, diharapkan muncul talenta-talenta baru dari Universitas Warmadewa yang mampu mewarnai diskursus publik mengenai masa depan pertanian Indonesia. Dengan penguatan literasi ini, FPST Unwar optimistis lulusannya tidak hanya akan menjadi praktisi yang andal, tetapi juga intelektual organik yang mampu menjaga kedaulatan pangan bangsa di tengah arus perubahan global yang tak menentu.
Saat Pelatihan Giat Prestatif, mahasiswa tidak hanya diberikan pelatihan penulisan esai tetapi juga cara membuat video kreatif, poster dan merancang Business Plan. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh mahasiswa di lingkungan Fakultas Pertanian Sains dan Teknologi-Unwar. (H-2)
YAYASAN Merah Putih Kasih atau JHL Foundation kembali menyalurkan Beasiswa Kelapa kepada mahasiswa pertanian.
YAYASAN Indonesia Setara (YIS) bersama SKIES Indonesia menggelar Workshop Baking Takjil Viral di Aula Kelurahan Jatisampurna, Bekasi pada Kamis (12/3) lalu.
Status Gold Learning Partner merupakan tingkat tertinggi dalam program kemitraan pembelajaran NEBOSH.
Pelaku usaha dapat berkonsultasi dengan mentor berpengalaman di bidang UMKM mengenai permasalahan dalam bisnisnya
Program kolaborasi ini dirancang secara terstruktur melalui mentoring bisnis, forum diskusi strategis, dan akses ke jaringan global JCI.
Keterbukaan untuk belajar, merefleksikan diri, bertumbuh, dan berkolaborasi menunjukkan komitmen mendalam dalam mendidik siswa dan masa depan pendidikan di Kabupaten Sanggau.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved