Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Sering Ditanya 'Kapan Nikah' saat Lebaran? Pakar UGM: Itu Budaya Masa Lalu yang Kini jadi Toxic

Despian Nurhidayat
20/3/2026 13:50
Sering Ditanya 'Kapan Nikah' saat Lebaran? Pakar UGM: Itu Budaya Masa Lalu yang Kini jadi Toxic
Ilustrasi: Warga berkeliling dari rumah ke rumah untuk bersilaturahim bersama keluarga serta kerabat di kawasan Duri Kosambi, Jakarta Barat, Minggu (19/7/2015).(MI/IMMANUEL ANTONIUS)

HARI Raya Idulfitri atau Lebaran selalu menjadi momen hangat untuk bersilaturahim. Namun, di balik tradisi saling memaafkan, kerap muncul pertanyaan yang kini dianggap mengganggu privasi, seperti "kapan menikah?", "kapan punya anak?", hingga komentar mengenai fisik seseorang.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Lu’luatul Chizanah, menjelaskan bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan sisa atau artefak budaya kolektif yang dahulu sangat kental dalam masyarakat Indonesia. 

Budaya Kolektif: Masalahmu Adalah Masalahku

Dalam budaya kolektif, nilai kepedulian dijunjung tinggi demi menjaga harmoni sosial.  Masalahmu adalah masalahku juga. Barangkali demikian ungkapan untuk menggambarkan situasinya,” ujarnya, Jumat (20/3). 

Menurutnya, pada awalnya pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan bentuk kepedulian dan keinginan untuk memahami kondisi orang lain. Namun, seiring pergeseran nilai sosial, budaya kolektif mulai luntur dan digantikan oleh nilai-nilai yang lebih menekankan batasan personal. 

“Akibatnya, pertanyaan-pertanyaan tersebut kini terkesan sebagai pertanyaan julid atau toxic,” jelasnya. 

Pergeseran Nilai Menuju 'Toxic'

Luluk menambahkan, saat ini sebagian orang memandang pertanyaan semacam itu mengganggu privasi. Nilai kolektif dengan semangat “masalahmu adalah masalahku juga” bergeser menjadi “urusanku adalah urusanku, dan urusanmu adalah urusanmu.” 

Ia menegaskan bahwa tidak tepat membandingkan mana nilai budaya yang lebih baik, karena masing-masing memiliki dinamika, kelebihan, dan kekurangan. 

Menurutnya, budaya kolektif yang diterapkan secara berlebihan dapat mendorong seseorang mencampuri urusan orang lain. Misalnya, kebiasaan menggunjing bersama yang berpotensi menimbulkan penghakiman sosial. 

Sebaliknya, nilai individual yang diterapkan terlalu ketat juga berisiko menimbulkan isolasi sosial. Luluk menekankan bahwa jika nilai kolektif melampaui batas, hal itu berpotensi melanggar privasi individu dan mengusik perasaan orang yang ditanyai. Akibatnya, orang yang menjadi sasaran pertanyaan dapat merasa tidak nyaman, kesal, bahkan marah. 

“Terlebih jika seseorang tidak memiliki kesiapan menghadapi pertanyaan yang menyentuh ranah pribadi, hal itu bisa menjadi pengalaman yang traumatis,” pungkasnya. (P-4)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akmal
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik