Headline

Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.

Rahasia Katak Bertaring Kalimantan: Benarkah Ada Belasan Spesies Tersembunyi?

Thalatie K Yani
10/3/2026 12:30
Rahasia Katak Bertaring Kalimantan: Benarkah Ada Belasan Spesies Tersembunyi?
katak bertaring Borneo:(Chan Kin Onn, Michigan State University)

DALAM dunia sains, penemuan spesies baru sering kali dibayangkan sebagai petualangan dramatis seorang penjelajah di pedalaman hutan terpencil. Namun, kenyataannya sering kali jauh dari kesan glamor tersebut. Banyak spesies baru justru ditemukan di atas meja laboratorium melalui pembedahan kode genetik (DNA) pada hewan yang sudah lama dikenal manusia.

Chan Kin Onn, ahli herpetologi dari Michigan State University (MSU), menjelaskan bahwa teknologi genetik modern kini memungkinkan ilmuwan mengungkap "spesies kriptik", hewan yang secara fisik tampak identik namun secara genetik sangat berbeda. Salah satu fokus utamanya adalah kelompok katak cokelat kecil asal Asia Tenggara yang dikenal sebagai katak bertaring Kalimantan.

"Kebanyakan orang memiliki gambaran tentang penjelajah pemberani yang menantang gunung terisolasi atau tempat terpencil lainnya, dan secara tidak sengaja menemukan makhluk yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya," ujar Chan. Namun, ia menambahkan, "Sering kali prosesnya jauh lebih tidak glamor."

Teka-teki Katak Bertaring Borneo

Katak bertaring, yang mendapatkan namanya dari tonjolan mirip gigi di rahang mereka, telah menjadi subjek penelitian intensif. Salah satu anggotanya, Limnonectes kuhlii, telah dikenal sejak1838. Selama dua dekade terakhir, penelitian genetik sempat menunjukkan apa yang terlihat sebagai satu spesies tunggal ini kemungkinan terdiri dari 18 spesies berbeda.

Untuk menguji klaim tersebut, Chan dan timnya mengumpulkan DNA dari spesimen di hutan hujan pegunungan Malaysia Timur (Borneo). Mereka memeriksa lebih dari 13.000 gen di seluruh genom katak tersebut. Hasilnya, yang diterbitkan dalam jurnal Systematic Biology, menunjukkan angka yang lebih moderat.

"Ini bukan hanya satu spesies. Tapi juga bukan 18 spesies," tegas Chan. Bukti genetik menunjukkan bahwa hanya sekitar enam hingga tujuh kelompok yang memenuhi syarat sebagai spesies yang benar-benar berbeda.

Dampak Nyata bagi Konservasi

Penentuan jumlah spesies bukan sekadar debat akademik, melainkan memiliki konsekuensi nyata bagi perlindungan alam. Amfibi saat ini menghadapi ancaman kepunahan paling serius di antara kelompok vertebrata lainnya. Analisis tahun 2023 terhadap 8.000 spesies amfibi menunjukkan bahwa dua dari lima spesies terancam punah.

Chan menekankan memberikan nama pada spesies adalah langkah awal untuk melindungi mereka. "Ada begitu banyak spesies di dunia yang masih belum kita temukan, dan bisa punah sebelum kita sempat memberi mereka nama," katanya.

Namun, ia juga memperingatkan bahaya membagi spesies secara terlalu agresif. Jika satu kelompok hewan dipecah menjadi terlalu banyak spesies kecil, hal itu dapat membuat status konservasi mereka tampak lebih parah dari yang sebenarnya secara geografis.

"Kita tidak mungkin mengonservasi semuanya, jadi kita harus melakukan triase dan memutuskan bagaimana mengalokasikan sumber daya yang terbatas pada apa yang kita anggap sebagai prioritas tertinggi," jelas Chan.

Garis Abu-abu Evolusi

Penelitian ini juga menemukan adanya aliran gen atau kawin silang yang signifikan di antara kelompok katak tersebut. Fenomena ini mengaburkan batasan tegas yang biasanya digunakan ilmuwan untuk mendefinisikan sebuah spesies.

Katak bertaring Kalimantan menjadi bukti bahwa pembentukan spesies baru jarang terjadi secara mendadak. "Ini tidak seperti tiba-tiba, 'boom'. Ini lebih merupakan sebuah kontinum (rangkaian berkelanjutan)," ungkap Chan.

Studi ini menunjukkan bahwa di balik kemajuan teknologi DNA, masih ada "zona abu-abu" dalam proses evolusi yang menantang para ilmuwan untuk lebih bijak dalam menarik garis batas antara satu spesies dengan yang lainnya. (Science Daily/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya