Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA ilmuwan berhasil mengonfirmasi temuan hewan laut dalam berwarna kuning cerah, Corallizoanthus aureus, sebagai spesies baru karang laut. Uniknya, makhluk ini memancarkan cahaya hijau saat merasa terganggu, menjadikannya kasus bioluminesensi pertama yang pernah terdokumentasi di dalam gua laut dalam.
Penemuan ini tidak hanya menambah daftar keanekaragaman hayati, tetapi juga mengubah peta persebaran makhluk hidup berpendar di samudra, sekaligus menunjuk pada habitat tersembunyi yang selama ini luput dari survei biologi.
Hewan ini merupakan jenis karang lunak yang hidup berkoloni pada inang karang lain di pintu masuk gua bawah laut dekat Pulau Minamidaito, Jepang selatan. Melalui observasi langsung yang didokumentasikan oleh Dr. Hiroki Kise dari National Institute of Advanced Industrial Science and Technology (AIST), terekam kilatan hijau berulang yang berasal dari spesies tersebut.
Cahaya ini hanya muncul saat hewan tersebut disentuh secara fisik dan hanya terbatas pada tubuh mereka sendiri, tidak menyebar ke karang inangnya.
"Sepanjang pengetahuan kami, studi ini mewakili laporan pertama bioluminesensi yang diamati di dalam gua laut dalam," tulis Kise dalam laporannya.
Penelitian ini dilakukan menggunakan kendaraan bawah air yang dioperasikan jarak jauh (ROV). Pada kedalaman sekitar 384 meter, tim menemukan polip kuning cerah yang menghiasi cabang-cabang karang Pleurocorallium inutile. Nama aureus diambil dari bahasa Latin yang berarti emas, merujuk pada warna tubuhnya yang ikonik.
Setiap polip memiliki 24 hingga 26 tentakel. Menariknya, pendaran cahaya hanya muncul dari bagian kepala yang bertentakel, sementara jaringan penghubung antar polip tetap gelap. Analisis mikroskop menunjukkan bahwa cahaya tersebut kemungkinan besar berasal dari reaksi kimia internal (sistem luciferin-luciferase), bukan dari bakteri yang menempel pada tubuh mereka.
Mengapa karang ini berpendar? Meski belum teruji secara pasti, para peneliti memiliki beberapa teori. Kilatan cahaya di kegelapan abadi bisa berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri. Cahaya tersebut mungkin memancing predator yang lebih besar untuk memakan organisme yang mengganggu karang tersebut, atau meninggalkan lendir bercahaya pada penyerangnya sehingga posisi sang predator mudah ketahuan.
Penemuan Corallizoanthus aureus membuktikan betapa sedikitnya informasi yang kita miliki tentang dasar samudra. Jika gua-gua laut dalam terus menghasilkan temuan seperti ini, maka manajemen konservasi dan pemanfaatan hasil laut perlu ditinjau ulang demi menjaga ekosistem yang rapuh ini.
Penelitian ini telah dipublikasikan secara resmi di National Library of Medicine. (earth/Z-2)
Peneliti di Jepang menemukan hewan mungil bermata enam dengan warna biru cerah yang ternyata merupakan spesies baru.
Spesies baru yang digali di Kawah Haughton di Pulau Devon, Nunavut, diberi nama Epiatheracerium itjilik. Nama spesiesnya, "itjilik", berarti "beku" atau "embun beku"
Tiga spesies baru ikan siput (snailfish) berhasil ditemukan di kedalaman Samudra Pasifik.
Spesies ini diberi nama Morchella rinjaniensis, merujuk pada lokasi penemuannya, dan menjadi spesies jamur Morchella tropis pertama dari Indonesia yang dideskripsikan secara ilmiah.
Spesies ini diberi nama Morchella rinjaniensis, merujuk pada lokasi penemuannya, dan menjadi spesies jamur Morchella tropis pertama dari Indonesia.
Penelitian terbaru mengungkap gunung-gunung bawah laut atau seamount menjadi pusat kumpulan hiu dan predator besar. Namun habitat unik ini terancam overfishing dan trawl dasar.
Karena ternyata spesies tersebut yang diberi nama Paracalliactis tsukisome tidak hanya menempel pada kepiting pertapa, tetapi juga membangun rumah seperti cangkang buatannya sendiri.
Selama ini, ilmuwan percaya bahwa hewan dan tumbuhan di seluruh dunia tidak tersebar secara acak. Mereka diyakini mengikuti pola tertentu. Namun, membuktikan pola ini bukan perkara mudah.
Baru-baru ini ditemukan adanya produksi oksigen lainnya di laut dalam yang tidak terkena sinar matahari oleh ilmuwan. Studi yang diterbitkan di jurnal Nature Geoscience pada 22 Juli 2024,
Klaim nodul logam di dasar laut dalam mampu menghasilkan oksigen tanpa bantuan cahaya matahari, mendapat tanggapan skeptis dari ilmuwan dan perusahaan penambangan laut dalam.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved