Headline

YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.

Spesies Karang Baru Ditemukan Mampu Berpendar di Gua Laut Dalam

Thalatie K Yani
10/2/2026 11:00
Spesies Karang Baru Ditemukan Mampu Berpendar di Gua Laut Dalam
Gambar morfologi eksternal Corallizoanthus aureus sp. nov. Gambar in situ (a), polip in situ tampak dekat (b), spesimen rileks (c) dan spesimen rileks tampak dekat (d).(Dok. National Library of Medicine)

PARA ilmuwan berhasil mengonfirmasi temuan hewan laut dalam berwarna kuning cerah, Corallizoanthus aureus, sebagai spesies baru karang laut. Uniknya, makhluk ini memancarkan cahaya hijau saat merasa terganggu, menjadikannya kasus bioluminesensi pertama yang pernah terdokumentasi di dalam gua laut dalam.

Penemuan ini tidak hanya menambah daftar keanekaragaman hayati, tetapi juga mengubah peta persebaran makhluk hidup berpendar di samudra, sekaligus menunjuk pada habitat tersembunyi yang selama ini luput dari survei biologi.

Mengenal Corallizoanthus aureus

Hewan ini merupakan jenis karang lunak yang hidup berkoloni pada inang karang lain di pintu masuk gua bawah laut dekat Pulau Minamidaito, Jepang selatan. Melalui observasi langsung yang didokumentasikan oleh Dr. Hiroki Kise dari National Institute of Advanced Industrial Science and Technology (AIST), terekam kilatan hijau berulang yang berasal dari spesies tersebut.

Cahaya ini hanya muncul saat hewan tersebut disentuh secara fisik dan hanya terbatas pada tubuh mereka sendiri, tidak menyebar ke karang inangnya.

"Sepanjang pengetahuan kami, studi ini mewakili laporan pertama bioluminesensi yang diamati di dalam gua laut dalam," tulis Kise dalam laporannya.

Eksplorasi di Kedalaman 384 Meter

Penelitian ini dilakukan menggunakan kendaraan bawah air yang dioperasikan jarak jauh (ROV). Pada kedalaman sekitar 384 meter, tim menemukan polip kuning cerah yang menghiasi cabang-cabang karang Pleurocorallium inutile. Nama aureus diambil dari bahasa Latin yang berarti emas, merujuk pada warna tubuhnya yang ikonik.

Setiap polip memiliki 24 hingga 26 tentakel. Menariknya, pendaran cahaya hanya muncul dari bagian kepala yang bertentakel, sementara jaringan penghubung antar polip tetap gelap. Analisis mikroskop menunjukkan bahwa cahaya tersebut kemungkinan besar berasal dari reaksi kimia internal (sistem luciferin-luciferase), bukan dari bakteri yang menempel pada tubuh mereka.

Misteri di Balik Cahaya Hijau

Mengapa karang ini berpendar? Meski belum teruji secara pasti, para peneliti memiliki beberapa teori. Kilatan cahaya di kegelapan abadi bisa berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri. Cahaya tersebut mungkin memancing predator yang lebih besar untuk memakan organisme yang mengganggu karang tersebut, atau meninggalkan lendir bercahaya pada penyerangnya sehingga posisi sang predator mudah ketahuan.

Penemuan Corallizoanthus aureus membuktikan betapa sedikitnya informasi yang kita miliki tentang dasar samudra. Jika gua-gua laut dalam terus menghasilkan temuan seperti ini, maka manajemen konservasi dan pemanfaatan hasil laut perlu ditinjau ulang demi menjaga ekosistem yang rapuh ini.

Penelitian ini telah dipublikasikan secara resmi di National Library of Medicine. (earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya