Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
SERINGKALI kita mendengar bahwa rajin makan wortel akan membuat mata setajam elang. Namun, benarkah demikian secara medis? Sejarah mencatat bahwa popularitas wortel sebagai "obat mata" diperkuat oleh propaganda Inggris pada Perang Dunia II untuk menyembunyikan teknologi radar mereka. Meski klaim "penglihatan super" adalah hiperbola, sains modern di tahun 2026 membuktikan bahwa wortel memang memiliki peran krusial dalam menjaga integritas struktural retina dan fungsi visual.
Wortel mengandung senyawa beta-karoten yang merupakan prekursor utama Vitamin A, nutrisi yang tidak bisa diproduksi sendiri oleh tubuh manusia namun sangat dibutuhkan oleh sel-sel fotoreseptor di mata.
Retina adalah lapisan tipis di bagian belakang mata yang sangat sensitif terhadap cahaya. Di dalamnya terdapat sel fotoreseptor yang membutuhkan senyawa kimia tertentu untuk mengubah cahaya menjadi sinyal listrik ke otak. Di sinilah wortel memainkan peran utamanya.
Wortel kaya akan beta-karoten, sebuah karotenoid yang diubah oleh tubuh menjadi Vitamin A (retinol). Di dalam retina, retinol bergabung dengan protein yang disebut opsin untuk membentuk rhodopsin. Rhodopsin adalah pigmen ungu yang sangat sensitif terhadap cahaya rendah. Tanpa asupan beta-karoten yang cukup, produksi rhodopsin akan terhambat, yang secara medis memicu kondisi nictalopia atau rabun senja.
Selain beta-karoten, penelitian terbaru menunjukkan bahwa wortel varietas tertentu juga mengandung Lutein dan Zeaxanthin dalam jumlah yang signifikan. Kedua senyawa ini terkonsentrasi di makula, bagian pusat retina yang bertanggung jawab untuk penglihatan detail dan warna.
Lutein berfungsi sebagai "tabir surya internal" bagi mata. Ia menyerap energi berlebih dari cahaya biru (blue light) yang dipancarkan oleh layar perangkat digital dan sinar matahari. Dengan menyaring cahaya ini, Lutein melindungi sel-sel retina dari kerusakan oksidatif yang dapat menyebabkan Degenerasi Makula Terkait Usia (AMD), salah satu penyebab utama kebutaan di era digital saat ini.
Ini adalah salah satu miskonsepsi terbesar. Secara ilmiah, mata minus (miopia) disebabkan oleh kelainan bentuk bola mata atau kelengkungan kornea, bukan karena kekurangan nutrisi. Wortel berfungsi untuk menjaga kesehatan seluler retina dan kejernihan penglihatan, namun tidak dapat mengubah struktur fisik bola mata yang sudah mengalami miopia. Nutrisi dalam wortel bersifat preventif dan suportif, bukan korektif terhadap kelainan refraksi.
Banyak orang mengonsumsi wortel mentah dengan harapan mendapatkan vitamin yang utuh. Namun, fakta biokimia menunjukkan hal yang berbeda. Beta-karoten terkurung di dalam dinding sel tanaman yang keras (selulosa). Memasak wortel dengan cara dikukus atau direbus sebentar justru akan memecah dinding sel tersebut, sehingga meningkatkan bioavailabilitas beta-karoten hingga tiga kali lipat.
Wortel memang bukan ramuan ajaib yang bisa menghilangkan kacamata dalam semalam. Namun, secara ilmiah, ia adalah sumber bahan baku vital bagi operasional sistem visual kita. Dengan menjaga asupan nutrisi dari wortel, kita memberikan proteksi jangka panjang bagi retina dari ancaman oksidasi dan degenerasi dini di masa depan. (H-3)
Layanan Kesehatan Mata Terintegrasi dengan CKG
Meskipun menawarkan pemandangan yang memukau, fenomena gerhana matahari cincin 17 Februari medatang secara teknis lebih berbahaya bagi mata.
Panduan Aman Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026
Di Indonesia, gangguan penglihatan akibat kelainan refraksi yang tidak terkoreksi masih menjadi tantangan serius.
Lingkungan di dalam toko didesain menyerupai area bermain dengan warna-warna ceria, zona Lego, area Montessori, dan tempat mewarnai.
Benarkah wortel bisa menyembuhkan mata minus? Simak penjelasan ilmiah mengenai peran beta-karoten bagi kesehatan retina dan fakta di balik mitosnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved