Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Soal Beda 1 Ramadan 1447 H, Menteri Agama Ajak Umat Islam Jadikan Perbedaan sebagai Rahmat

Enrich Samuel
17/2/2026 20:59
Soal Beda 1 Ramadan 1447 H, Menteri Agama Ajak Umat Islam Jadikan Perbedaan sebagai Rahmat
Menteri Agama Nasaruddin Umar(MI/Ramdani)

MENTERI Agama Nasaruddin Umar mengajak umat Islam menjadikan perbedaan awal Ramadan sebagai rahmat, bukan sumber perpecahan. Pernyataan tersebut disampaikan saat konfrensi pers penetapan 1 Ramadan 1447 Hijriah yang jatuh pada Kamis (19/2) di Hotel Borobudur Jakarta.

Nasaruddin menyampaikan pesan tersebut usai memimpin sidang isbat penetapan awal Ramadan di Jakarta. Ia menekankan bahwa keputusan diambil berdasarkan hasil hisab dan rukyat yang dilakukan di 96 titik pengamatan di seluruh Indonesia, serta mengacu pada kriteria visibilitas hilal MABIMS.

“Dengan demikian, berdasarkan hasil hisab serta tidak adanya laporan hilal terlihat, disepakati bahwa 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026,” ujar Nasaruddin.

Meski demikian, ia menyadari kemungkinan adanya perbedaan pandangan di tengah masyarakat. Karena itu, ia mengimbau umat Islam agar menyikapi perbedaan dengan bijak dan dewasa.

“Seandainya ada di antara warga kita umat Islam yang mungkin akan melakukan hal yang berbeda sesuai dengan keyakinannya masing-masing, kami juga menghimbau kepada segenap masyarakat, mari perbedaan itu tidak menyebabkan kita berpisah atau berbeda dalam artian negatif,” tegasnya.

Menurut dia, Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam merawat keberagaman. Perbedaan metode penentuan awal bulan kamariah, lanjutnya, tidak seharusnya menggerus persatuan sebagai sesama anak bangsa.

“Jadikanlah perbedaan itu sebagai satu konfigurasi yang sangat indah. Indonesia sudah berpengalaman berbeda tapi tetap utuh dalam sebuah persatuan yang sangat indah,” kata dia.

Nasaruddin berharap keputusan sidang isbat dapat menjadi momentum kebersamaan umat Islam di Indonesia dalam menyambut Ramadan. Ia menilai awal puasa yang dimulai secara serentak akan memperkuat simbol persatuan dan solidaritas sosial.

“Kita semua berharap semoga keputusan ini memungkinkan seluruh umat Islam di Indonesia ini untuk memulai ibadah puasanya secara bersama-sama. Semoga hal ini dapat menjadi simbol kebersamaan umat Islam di Indonesia,” ucapnya.

Ia pun mengajak masyarakat menjaga suasana Ramadan tetap kondusif dan penuh toleransi. Pemerintah, kata dia, membuka ruang musyawarah dengan melibatkan DPR, Majelis Ulama Indonesia, ormas Islam, serta para ahli falak dan astronomi demi menghadirkan keputusan yang akuntabel dan inklusif.

Dengan semangat persatuan tersebut, Nasaruddin mengajak umat Islam memaknai Ramadan sebagai momentum mempererat ukhuwah dan memperkuat harmoni kebangsaan. “Mari kita songsong masa depan yang baik dengan kebersamaan,” pungkasnya. (MGN/P-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik