Headline
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
MEMASUKI tahun 2026, paradigma industri kehutanan di Indonesia telah bergeser secara drastis. Jika dahulu pemanenan hutan identik dengan kerusakan ekosistem yang masif, kini teknologi pemanenan hutan modern hadir sebagai solusi untuk menjaga prinsip berkelanjutan. Fokus utamanya bukan lagi sekadar seberapa banyak kayu yang bisa dihasilkan, melainkan seberapa sedikit dampak negatif yang ditinggalkan terhadap lingkungan.
Implementasi teknologi ini menjadi krusial seiring dengan target pemerintah Indonesia untuk mencapai Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink pada tahun 2030. Dengan teknologi yang tepat, perusahaan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) dapat meningkatkan efisiensi operasional sekaligus menjaga nilai serapan karbon dan biodiversitas.
Salah satu pilar utama dalam pemanenan hutan modern adalah metode Reduced Impact Logging (RIL) atau Pembalakan Berdampak Rendah. Berbeda dengan metode konvensional yang sering kali merusak tegakan tinggal (pohon yang tidak ditebang), RIL menggunakan perencanaan yang sangat detail.
Dalam metode RIL, setiap pohon yang akan ditebang dipetakan secara digital. Arah rebah pohon diatur sedemikian rupa agar tidak menimpa pohon muda di sekitarnya.
Hal ini sangat penting karena kerusakan tegakan tinggal pada metode konvensional bisa mencapai 40%-50%. Sedangkan dengan RIL, kerusakan dapat ditekan hingga di bawah 20%.
Teknologi Precision Forestry atau kehutanan presisi telah menjadi standar baru di tahun 2026. Penggunaan sensor LiDAR (Light Detection and Ranging) memungkinkan pengelola hutan mendapatkan gambaran struktur hutan dalam format 3D dengan akurasi tinggi.
Data dari sensor LiDAR yang dipasang pada drone diolah menggunakan algoritma AI untuk menentukan jalur sarad (jalur pengangkutan kayu) yang paling efisien. Dengan menentukan jalur yang tepat, pemadatan tanah akibat alat berat dapat diminimalisasi, sehingga kesuburan tanah tetap terjaga dan regenerasi alami hutan dapat berlangsung lebih cepat.
Modernisasi tidak hanya terjadi pada sistem pemetaan, tetapi juga pada mesin yang digunakan di lapangan. Alat berat seperti Harvester dan Forwarder kini dilengkapi dengan sistem komputerisasi yang mampu memotong dan mengupas kulit kayu secara otomatis di dalam hutan.
Baca juga: Apa itu Silvikultur Bedah Mata Kuliah, Keahlian, dan Peran Vitalnya
Keunggulan alat ini dibandingkan ekskavator modifikasi adalah distribusi beban yang lebih merata melalui penggunaan ban bertekanan rendah atau sistem track yang lebar. Investasi untuk unit mesin ini memang mencapai miliaran dalam mata uang rupiah. Namun efisiensi yang dihasilkan serta pengurangan biaya rehabilitasi lahan menjadikannya pilihan yang jauh lebih ekonomis dalam jangka panjang.
| Aspek Perbandingan | Pemanenan Konvensional | Pemanenan Modern (RIL & Digital) |
|---|---|---|
| Perencanaan Jalur | Berdasarkan insting operator | Berbasis data LiDAR dan GPS |
| Kerusakan Tegakan | Tinggi (40%-50%) | Rendah (<20%) |
| Pemadatan Tanah | Masif karena alat berat standar | Minim dengan ban khusus/low pressure |
| Monitoring | Manual dan berkala | Real-time via IoT dan Satelit |
Keuntungan utamanya adalah menjaga kelestarian ekosistem hutan, mengurangi emisi karbon dari kerusakan tanah, dan meningkatkan produktivitas jangka panjang melalui perlindungan pohon-pohon muda.
Baca juga: Panduan Lengkap Struktur dan Sifat Kayu Anatomi, Fisik, dan Mekanik
Dengan menekan kerusakan hutan saat proses pemanenan, simpanan karbon dalam tanah dan tegakan tinggal tetap terjaga, yang secara langsung mendukung target mitigasi perubahan iklim global.
Teknologi pemanenan hutan modern bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan bagi industri kehutanan masa depan. Dengan mengintegrasikan metode RIL, pemetaan LiDAR, dan alat berat yang presisi, Indonesia dapat membuktikan bahwa eksploitasi hasil hutan kayu dapat berjalan selaras dengan perlindungan lingkungan.
Baca juga: Dendrologi Adalah Pengertian, Ruang Lingkup, dan Panduan Identifikasi Pohon
PENAFIAN
Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.
Pelajari teknologi pengolahan hasil hutan terbaru 2026, mulai dari CLT hingga nanokelulosa, guna mendorong hilirisasi industri kehutanan Indonesia.
Pahami ekologi hutan secara mendalam, mulai dari komponen biotik-abiotik hingga peran vitalnya dalam ekonomi karbon Indonesia tahun 2026.
Silvikultur bukan sekadar menanam pohon. Simak rincian lengkap apa yang dipelajari di jurusan Silvikultur, mulai dari rekayasa genetika hingga manajemen karbon hutan.
Pelajari struktur kayu secara mendalam (makroskopis & mikroskopis), sifat fisik (higroskopisitas), serta kekuatan mekaniknya untuk aplikasi konstruksi dan industri modern.
Panduan komprehensif belajar Dendrologi. Membahas morfologi, taksonomi, teknik identifikasi pohon, dan relevansinya dalam isu karbon & kehutanan modern.
Kepemimpinan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dinilai membawa semangat kolaboratif dan memperkuat sinergi antara Kementerian Kehutanan (Kemenhut) dan dunia akademik.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved