Headline

Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.

BMKG: Perubahan Iklim Ganggu Indonesia, Hujan Ekstrem hingga Es Puncak Jaya Menyusut

Ficky Ramadhan
12/2/2026 16:32
BMKG: Perubahan Iklim Ganggu Indonesia, Hujan Ekstrem hingga Es Puncak Jaya Menyusut
Ilustrasi(Antara)

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan, perubahan iklim sudah berdampak nyata di Indonesia, termasuk hujan ekstrem, suhu tinggi, dan menyusutnya es di Puncak Jaya, Papua.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyoroti fenomena terbaru, yakni Siklon Tropis Senyar yang melanda Sumatra pada akhir 2025. 

"Siklon Senyar telah menghasilkan rekor curah hujan dasarian III November tertinggi sejak tahun 1991. Di Kecamatan Koto Tangah, Sumatra Barat, curah hujan selama periode bencana mencapai sekitar tiga kali lipat dari hujan normal di bulan November. Di Singkil Utara, Aceh, curah hujan mencapai dua kali lipat dari kondisi normalnya," kata Ardhasena dalam keterangannya, dikutip Kamis (12/2).

Selain fenomena terbaru, tren historis menunjukkan Indonesia mengalami pemanasan signifikan. Tahun 2024 tercatat sebagai tahun terpanas dengan suhu rata-rata 27,5°C, sedangkan 2025 menempati posisi keenam dengan rata-rata 27,04°C, sekitar +0,38°C di atas periode normal 1991–2020. BMKG menegaskan tren ini merupakan bagian dari pemanasan global yang terus berlangsung.

Ke depan, proyeksi BMKG menunjukkan suhu di seluruh wilayah Indonesia dapat meningkat hingga 1,6°C pada periode 2021–2050. Pola hujan juga diprediksi berubah: wilayah utara menjadi lebih basah hingga 8%, sementara wilayah selatan lebih kering hingga 9%. Hujan ekstrem dengan intensitas yang sebelumnya terjadi sekali dalam 100 tahun diperkirakan dapat muncul setiap kurang dari 20 tahun.

Dampak spesifik lain yang sudah terlihat antara lain menyusutnya tutupan es di Puncak Jaya. BMKG mencatat luas es telah menyusut sekitar 98% sejak 1988 dan diperkirakan dapat hilang sepenuhnya pada akhir 2025 atau awal 2027. 

Kenaikan muka laut di Indonesia juga tercatat mencapai 4,36 mm per tahun meningkatkan risiko banjir rob dan abrasi di kawasan pesisir.

Ardhasena menekankan pentingnya langkah kolektif. “Perubahan iklim ini sudah nyata, dan seluruh pemangku kepentingan serta masyarakat perlu memperkuat kesiapsiagaan dan adaptasi agar ekonomi dan lingkungan tetap terlindungi,” ujarnya. (Fik/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya