Headline

Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.

Wamendikdasmen Sebut Guru tidak Memerlukan Institusi Baru dan Hanya Butuh Penguatan Institusi

Despian Nurhidayat
11/2/2026 14:24
Wamendikdasmen Sebut Guru tidak Memerlukan Institusi Baru dan Hanya Butuh Penguatan Institusi
Wamendikdasmen Atip Latipulhayat(MI/DESPIAN NURHIDAYAT)

WAKIL Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, mengatakan bahwa Konsolidasi Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah 2026 diharapkan dapat menyelesaikan berbagai persoalan, salah satunya terkait guru. 

“Mudah-mudahan setelah rapat konsolidasi ini selesai semua permasalahan itu semua bisa teratasi. Hal yang saya lihat itu sebetulnya terletak pada penguatan institusi yang ada tanpa membuat institusi yang baru. Padahal dengan penguatan institusi yang ada, implementasi regulasi yang sudah kita sepakati dan terus menerus melakukan koordinasi itu menjadi hal penting,” ungkapnya dalam Penutupan Konsolidasi Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah 2026 di  Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia (PPSDM), Depok, Rabu (11/2). 

“Karena sampai saat ini institusi yang terkait dengan guru sudah lebih daripada cukup, jadi tidak perlu ditambah kembali. Jadi persoalan guru baik guru honorer dan guru lainnya itu bisa diselesaikan secara konsolidasi jadi nanti tahun depan kita tidak lagi berbicara masalah-masalah itu,” lanjut Atip. 

Dia juga menekankan bahwa saat ini guru juga memerlukan peningkatan kompetensi dan jangan hanya fokus pada persoalan kesejahteraan saja. 

“Ada hal yang perlu saya tekankan dan ada yang luput dari kita itu persoalan kompetensi. Kita terlalu terfokus pada kesejahteraan. Padahal itu adalah suatu hal yang pasti. Tapi kita alfa terhadap kompetensi,” ujarnya. 

Atip mencontohkan, di Kabupaten Garut, para guru yang melaksanakan tes uji kemahiran berbahasa Indonesia (UKBI) mendapatkan nilai yang rendah. 

“Jadi yang unggul itu hanya 20% dan mayoritasnya semenjana. Kompetensi guru di mana bahasa Indonesia adalah bahasa pengantar tapi unggulnya itu di bawah. Hal yang sama juga terjadi untuk mata pelajaran yang lain misalnya matematika. Pernah dalam satu kesempatan guru matematika diminta untuk menyelesaikan suatu persoalan matematika dan malah tidak bisa menjawab. Jadi kompetensi itu yang utama dan prosperity itu juga yang utama. Jadi bisa dibayangkan kalau kemudian hasil atau output dari siswa kita itu belum menggembirakan,” tegas Atip. 

Atip juga menyoroti persoalan pendidikan karakter yang harus dibangun oleh para guru. Pasalnya, menurut dia guru merupakan contoh bagi para murid. 

“Guru itu harus berbicara tanpa kata tapi akan teringat. Dari mulai tata busana sampai tata bahasa. Anak anak kita itu bukan pendengar yang baik tapi percontoh yang baik. Makanya terkait dengan karakter itu gurunya terlebih dahulu karena anak didik akan mencontoh guru atau pendidik,” tuturnya. 

Di tempat yang sama, Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, mengatakan bahwa kegiatan konsolidasi nasional ini diselenggarakan sebagai ruang temu untuk kepentingan pendidikan dasar dan menengah. Tujuannya agar dapat membangun sinergi dan mempertemukan arah kebijakan nasional dengan praktik pendidikan di lapangan.

“Rekomendasi yang diusulkan ke depan bukan sekadar imajinasi yang belum teruji, tetapi praktik yang sudah berhasil di berbagai daerah. Hasil yang dicapai antara lain ditemukannya kesepemahaman terkait kebijakan dan program, menguatnya sinergi antar pihak, serta tersusunnya rekomendasi strategis dan pembagian peran antara pemangku kepentingan sebagai wujud partisipasi semesta yang akan menjadi bahan penyempurnaan kebijakan pelaksanaan pendidikan ke depan,” ucap Suharti. 

Dia berharap, jejaring yang sudah mulai terbangun dalam ajang konsolidasi nasional ini akan terus terjalin.

“Kami berharap konsolidasi ini juga dapat menjadi landasan bersama dalam penerapan kebijakan di daerah, serta mendorong kerja sama pusat dan daerah dalam mendukung prioritas Presiden untuk mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua,” pungkasnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya