Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Bahaya Terselubung di Balik Gorengan Berbahan Bakar Limbah Plastik

Basuki Eka Purnama
08/2/2026 07:08
Bahaya Terselubung di Balik Gorengan Berbahan Bakar Limbah Plastik
Pekerja menggunakan sampah plastik sebagai bahan bakar untuk menggoreng tahu di salah satu pabrik tahu di Tropodo, Krian, Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (18/5/2025).(ANTARA/Umarul Faruq)

MASALAH sampah plastik kini merambah ke ranah keamanan pangan yang mengkhawatirkan. Demi menekan biaya operasional, sejumlah industri makanan kecil ditemukan memanfaatkan limbah plastik sebagai bahan bakar proses penggorengan. Meski dinilai praktis, praktik ini menyimpan ancaman kesehatan serius bagi konsumen maupun lingkungan sekitar.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Benedikta Diah Saraswati, SSi, MBiomed, memperingatkan bahwa emisi gas dari pembakaran plastik dapat langsung mengontaminasi produk pangan. 

Menurutnya, pembakaran plastik yang tidak sempurna melepaskan senyawa beracun yang sangat stabil, yakni dioksin dan furan.

"Karena sifatnya lipofilik, senyawa ini mudah berikatan dengan lemak dan protein sehingga berpotensi terakumulasi dalam produk pangan," ujar Diah.

MI/HO--Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Benedikta Diah Saraswati, SSi, MBiomed

Secara biomedis, senyawa ini masuk dalam kelompok polutan organik persisten yang mampu bertahan lama di tubuh manusia. Paparan jangka panjang ini bersifat genotoksik atau merusak DNA. 

"Akumulasi dalam jangka waktu lama dapat memicu peradangan kronis, gangguan fungsi hati, gangguan sistem hormon, serta meningkatkan risiko kanker," jelasnya.

Ancaman Terhadap Organ Hati dan Janin

Diah menjelaskan bahwa hati atau hepar menjadi organ yang paling rentan. Sebagai pusat detoksifikasi, hati dipaksa bekerja ekstra keras untuk mengurai racun. Namun, karena struktur kimia dioksin dan furan sangat stabil, terjadi beban kerja berlebih yang justru memicu peradangan.

Selain merusak organ, senyawa tersebut dikenal sebagai endocrine disrupting chemicals (EDC). 

Zat ini mampu meniru atau menghambat kerja hormon alami tubuh, sehingga berisiko mengacaukan sistem reproduksi dan metabolisme. Lebih mengkhawatirkan lagi, paparan ini mampu menembus sawar plasenta.

"Artinya, pada ibu hamil, zat ini berpotensi terakumulasi dan mengganggu perkembangan janin," tambahnya.

Polusi Udara dan Mikroplastik

Dampak kesehatan ini tidak terbatas pada mereka yang mengonsumsi produk, tetapi juga masyarakat di sekitar lokasi industri. 

Asap pembakaran plastik mengandung partikel halus PM2,5 dan mikroplastik yang dapat terhirup hingga ke paru-paru dan masuk ke sistem pencernaan.

Dalam jangka pendek, hal ini memicu gangguan pernapasan seperti batuk dan ISPA. Namun dalam jangka panjang, risiko berkembang menjadi penyakit paru kronis (PPOK) dan penurunan daya tahan tubuh, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.

Langkah Mitigasi

Diah menegaskan bahwa solusi tunggal untuk memutus rantai risiko ini adalah dengan menghentikan penggunaan limbah plastik sebagai bahan bakar. 

"Selama sumber polusi masih ada, risiko kesehatan akan terus berulang," tegasnya.

Sebagai langkah perlindungan mandiri, masyarakat disarankan menggunakan masker respirator N95 saat terpapar asap, menjaga ventilasi rumah, dan menghindari penggunaan plastik untuk wadah makanan panas. 

Selain itu, penting untuk meningkatkan konsumsi buah dan sayur yang kaya vitamin E, C, dan selenium.

"Asupan ini dapat membantu tubuh melawan kerusakan sel akibat radikal bebas dari kontaminan plastik, meskipun tidak sepenuhnya menghilangkan risiko," tutup Diah. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya