Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
MASALAH sampah plastik kini merambah ke ranah keamanan pangan yang mengkhawatirkan. Demi menekan biaya operasional, sejumlah industri makanan kecil ditemukan memanfaatkan limbah plastik sebagai bahan bakar proses penggorengan. Meski dinilai praktis, praktik ini menyimpan ancaman kesehatan serius bagi konsumen maupun lingkungan sekitar.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Benedikta Diah Saraswati, SSi, MBiomed, memperingatkan bahwa emisi gas dari pembakaran plastik dapat langsung mengontaminasi produk pangan.
Menurutnya, pembakaran plastik yang tidak sempurna melepaskan senyawa beracun yang sangat stabil, yakni dioksin dan furan.
"Karena sifatnya lipofilik, senyawa ini mudah berikatan dengan lemak dan protein sehingga berpotensi terakumulasi dalam produk pangan," ujar Diah.

Secara biomedis, senyawa ini masuk dalam kelompok polutan organik persisten yang mampu bertahan lama di tubuh manusia. Paparan jangka panjang ini bersifat genotoksik atau merusak DNA.
"Akumulasi dalam jangka waktu lama dapat memicu peradangan kronis, gangguan fungsi hati, gangguan sistem hormon, serta meningkatkan risiko kanker," jelasnya.
Diah menjelaskan bahwa hati atau hepar menjadi organ yang paling rentan. Sebagai pusat detoksifikasi, hati dipaksa bekerja ekstra keras untuk mengurai racun. Namun, karena struktur kimia dioksin dan furan sangat stabil, terjadi beban kerja berlebih yang justru memicu peradangan.
Selain merusak organ, senyawa tersebut dikenal sebagai endocrine disrupting chemicals (EDC).
Zat ini mampu meniru atau menghambat kerja hormon alami tubuh, sehingga berisiko mengacaukan sistem reproduksi dan metabolisme. Lebih mengkhawatirkan lagi, paparan ini mampu menembus sawar plasenta.
"Artinya, pada ibu hamil, zat ini berpotensi terakumulasi dan mengganggu perkembangan janin," tambahnya.
Dampak kesehatan ini tidak terbatas pada mereka yang mengonsumsi produk, tetapi juga masyarakat di sekitar lokasi industri.
Asap pembakaran plastik mengandung partikel halus PM2,5 dan mikroplastik yang dapat terhirup hingga ke paru-paru dan masuk ke sistem pencernaan.
Dalam jangka pendek, hal ini memicu gangguan pernapasan seperti batuk dan ISPA. Namun dalam jangka panjang, risiko berkembang menjadi penyakit paru kronis (PPOK) dan penurunan daya tahan tubuh, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Diah menegaskan bahwa solusi tunggal untuk memutus rantai risiko ini adalah dengan menghentikan penggunaan limbah plastik sebagai bahan bakar.
"Selama sumber polusi masih ada, risiko kesehatan akan terus berulang," tegasnya.
Sebagai langkah perlindungan mandiri, masyarakat disarankan menggunakan masker respirator N95 saat terpapar asap, menjaga ventilasi rumah, dan menghindari penggunaan plastik untuk wadah makanan panas.
Selain itu, penting untuk meningkatkan konsumsi buah dan sayur yang kaya vitamin E, C, dan selenium.
"Asupan ini dapat membantu tubuh melawan kerusakan sel akibat radikal bebas dari kontaminan plastik, meskipun tidak sepenuhnya menghilangkan risiko," tutup Diah. (Z-1)
Guru Besar IPB University dari Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan FPIK, Prof. Etty Riani, menilai temuan mikroplastik (MP) pada air hujan di Jakarta merupakan hal yang wajar.
Persetujuan telah diberikan untuk penerbitan kredit plastik untuk Inoctcle berdasarkan verifikasi daur ulang 84.000 metrik ton limbah plastik
Belakangan ini, muncul kekhawatiran soal praktik berbahaya yang dilakukan sebagian pedagang gorengan pinggir jalan: memasukkan plastik ke dalam minyak panas
Selain kemasan pangan biodegredable, Muslih dan kelompok risetnya juga melakukan riset terkait dengan memperpanjang umur simpan produk makanan.
Kolaborasi ini menyinergikan pemanfaatan teknologi radiasi untuk mengatasi permasalahan limbah plastik, serta pemanfaatannya sebagai bahan baku industri.
Ten meningkatnya penderita jantung koroner berkaitan erat dengan faktor risiko yang makin umum ditemukan, di antaranya kurang gerak, obesitas, dan kebiasaan mengonsumsi gorengan.
Gorengan termasuk jajanan populer di Indonesia karena harganya murah, rasanya gurih, dan mudah ditemukan di pedagang kaki lima.
Istilah ini sangat populer di Indonesia, biasanya merujuk pada jajanan atau camilan yang dijual di pinggir jalan maupun di warung.
Konsumsi gorengan berlebihan memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker lambung. Bahkan, jenis makanan ini bisa menyebabkan diabetes tipe 2 dan obesitas.
Makanan gorengan memang enak dan menggugah selera, tapi konsumsi berlebihan sangat berisiko bagi kesehatan jangka panjang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved