Headline

Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.

Pakar Psikologi Forensik Berikan Penjelasan tentang Kasus Anak SD Bunuh Diri di NTT

Despian Nurhidayat
05/2/2026 13:26
Pakar Psikologi Forensik Berikan Penjelasan tentang Kasus Anak SD Bunuh Diri di NTT
Ilustrasi.(freepik)

PAKAR psikologi forensik, Reza Indragiri Amriel, ikut bersuara soal kejadian bunuh diri seorang anak SD yang bunuh diri di NTT. Menurutnya, ini bukan hanya fenomena 'biasa', melainkan harus dipahami oleh para pemangku kepentingan. 

“Jadi, kalau mau buka hati, sesungguhnya bukan masalah anak tidak bisa beli alat tulis yang membuat geger. Peristiwa menyedihkan sekaligus menakutkan ini sebaiknya diperhatikan oleh Presiden dengan secermat mungkin. Pasalnya, ini kontras dengan gembar-gembor salah kaprah Presiden bahwa Indonesia merupakan negara yang penduduknya paling bahagia sedunia,” ungkapnya, Kamis (5/2). 

Terkait anak SD yang bunuh diri di NTT, menurutnya, kesedihan atau ketidakgembiraan harus dilihat sebagai spektrum. Bukan biner atau hitam putih. Jadi, ada skala mulai dari yang agak sedih sampai yang paling sedih. Pada tingkatan kesedihan terparah, terjadilah keputusasaan yang hanya bisa 'diobati' pelaku dengan mengakhiri hidupnya sendiri.

“Warga yang kesedihannya berada pada level di bawah itu pasti banyak sekali. Tapi apakah kita memerhatikan  populasi yang sesungguhnya amat sangat banyak itu? Pasti tidak. Kita sudah mati rasa terhadap penderitaan yang baru 'sebatas' itu. Kita hanya terperanjat ketika merespon kesengsaraan terekstrem, seperti yang terjadi pada anak NTT itu. Kita boleh pilih, apa simpulan yang pas untuk memotret kemalangan berujung tragedi pada bocah NTT itu,” tegas Reza. 

Dia mengatakan bahwa bunuh diri merupakan ujung akhir dari duka nestapa yang terus bereskalasi dari waktu ke waktu (kronis). Karena kronis, semestinya kematian bisa dicegat jika seseorang cukup awas mengamati perubahan tabiat anak. Mulai dari pemunculan pemikiran tentang bunuh diri, dan seterusnya. Pusat masalah mereka berada di afeksi. 

“Kalau simpulan itu yang kita iyakan, maka bisa dibayangkan betapa tingginya risiko anak-anak Indonesia bunuh diri. Mereka yang tidak kunjung bersekolah, mereka yang lapar berkepanjangan, mereka yang penyakitnya semakin parah, bisa dipahami sebagai anak-anak yang terus bergerak menuju titik pembuatan keputusan terekstrim seperti anak NTT tadi,” kata dia. 

Selain itu, ia mengatakan bunuh diri lebih sebagai wujud depresi reaktif. Mirip depresi, tapi pemunculannya sekonyong-konyong. Jadi, langsung terbitnya keputusan untuk bunuh diri lebih disebabkan oleh keterbatasan wawasan seseorang untuk menemukan solusi-solusi konstruktif atas persoalan yang saat itu tengah ia hadapi. 

“Persoalannya, anggaplah, tidak terlalu berat. Tapi pengetahuannya akan opsi-opsi jalan keluar masih terlalu minim. Jadi, pokok masalahnya ada pada kognisi,” lanjut Reza. 

“Apa pun itu, betapa pilunya kita menangkap warna altruistis pada peristiwa bunuh diri anak SD di NTT itu. Dia mengakhiri hidupnya sendiri guna mengurangi beban hidup orang yang ia sayangi,” pungkasnya. (H-4)

Disclaimer: Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang mengalami masa sulit dan memiliki kecenderungan bunuh diri, silakan hubungi layanan kesehatan mental terdekat atau keluarga dan sahabat terdekat.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik