Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Harta Karun Mikroba Nusantara: Potensi Raksasa di Balik Dunia tak Kasat Mata

Basuki Eka Purnama
31/1/2026 22:05
Harta Karun Mikroba Nusantara: Potensi Raksasa di Balik Dunia tak Kasat Mata
Ilustrasi(Freepik)

INDONESIA telah lama memegang predikat sebagai negara megabiodiversitas berkat kekayaan flora dan faunanya. Namun, di balik kekayaan yang kasat mata tersebut, Nusantara menyimpan potensi luar biasa yang selama ini masih tersembunyi: keragaman mikroba.

Guru Besar Departemen Biologi IPB University, Prof. Antonius Suwanto, menegaskan bahwa mikroba merupakan bagian integral dari kekayaan hayati Indonesia yang belum banyak dieksplorasi. Dia mengungkapkan bahwa tantangan sekaligus peluang di bidang ini sangatlah besar.

"Sekitar 95% dunia mikroorganisme itu masih menjadi misteri. Ini peluang besar bagi penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan," ujar Prof Antonius.

Jejak Sejarah dan Revolusi Genetika

Perjalanan manusia mengenal mikroorganisme dimulai sekitar 300 tahun lalu melalui penemuan mikroskop oleh Antonie van Leeuwenhoek. 

MI/HO--Guru Besar Departemen Biologi IPB University, Prof. Antonius Suwanto

Penemuan tersebut menjadi titik balik bagi peradaban manusia, karena membuka tabir keberadaan makhluk hidup renik yang sebelumnya mustahil dilihat mata telanjang. 

Menurut Prof Antonius, pemahaman ini kemudian memicu revolusi ilmu pengetahuan, mulai dari perkembangan ilmu genetika hingga penemuan DNA.

Menariknya, ia juga mengaitkan kemajuan sains di Eropa dengan sejarah rempah Nusantara. 

Pada masa Verenigde Oostindische Compagnie (VOC), kekayaan alam Indonesia berperan tidak langsung dalam mendanai riset para ilmuwan Barat. 

"Kesejahteraan yang diperoleh Belanda dari rempah Nusantara memungkinkan lahirnya berbagai penemuan penting, termasuk mikroskop," jelasnya.

Dari PCR Hingga Solusi Lingkungan

Berkat kondisi geografis yang unik, Indonesia memiliki habitat mikroba yang sangat luas, mulai dari lahan pertanian, pegunungan, hingga lingkungan ekstrem seperti mata air panas. 

Mikroba yang hidup di lingkungan ekstrem atau ekstremofil ini memiliki nilai ekonomi dan sains yang tinggi.

Salah satu bukti nyatanya adalah penggunaan enzim dalam teknologi polymerase chain reaction (PCR) yang sangat krusial selama pandemi covid-19. 

"Enzim untuk PCR yang banyak digunakan, termasuk saat pandemi covid-19, berasal dari bakteri yang hidup di mata air panas," ungkap Prof Antonius.

Selain di bidang kesehatan, mikroba juga diproyeksikan menjadi jawaban atas masalah lingkungan, seperti penanganan limbah plastik. 

"Bakteri tertentu bisa diisolasi dan dimanfaatkan untuk menguraikan plastik secara lebih ramah lingkungan," tambahnya.

Tantangan Riset ke Depan

Meskipun potensinya sangat menjanjikan, Prof Antonius menyayangkan bahwa saat ini pemanfaatan mikroba di Indonesia masih didominasi skala laboratorium. 

Ia mendorong adanya strategi riset yang kuat agar hasil penelitian dapat diimplementasikan pada skala industri secara berkelanjutan.

Menutup perbincangan, ia mengajak generasi muda untuk tidak ragu menyelami dunia mikrobiologi. 

"Cobalah mengeksplorasi dan meneliti mikroorganisme. Masih sangat banyak yang belum kita pahami, dan di sanalah peluang penemuan baru berada," pungkasnya. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya