Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Kepunahan Siput Darat di Kepulauan Capai Angka Menghancurkan

Thalatie K Yani
01/2/2026 10:00
Kepunahan Siput Darat di Kepulauan Capai Angka Menghancurkan
Ilustrasi(freepik)

JIKA Anda mencari indikator nyata tentang seberapa parah kerusakan biodiversitas di wilayah kepulauan, tengoklah nasib siput darat. Sebuah tinjauan besar yang dipimpin Robert Cowie dari University of Hawai‘i at Manoa mengungkapkan skala kehilangan spesies ini tidak hanya mengkhawatirkan, tetapi sudah berada pada level "menghancurkan".

Di banyak pulau vulkanik tinggi, tingkat kepunahan siput darat mencapai angka 30%-80%. Angka ini menjadikan mereka salah satu kelompok hewan yang paling terdampak di bumi. Kepulauan Hawaii dan wilayah Pasifik lainnya menjadi sorotan utama karena tidak ada wilayah lain di dunia yang kehilangan begitu banyak spesies siput darat.

Saksi Bisu di Balik 'Bank Cangkang'

Berbeda dengan banyak invertebrata kecil yang menghilang tanpa jejak, siput darat meninggalkan bukti keberadaan mereka melalui cangkang yang bisa bertahan selama puluhan tahun hingga berabad-abad di dalam tanah. Para peneliti menyebutnya sebagai "bank cangkang". Sebuah kapsul waktu yang mencatat keberadaan spesies yang mungkin punah bahkan sebelum ilmuwan modern sempat mendokumentasikannya.

Namun, hilangnya makhluk-makhluk ini sering kali luput dari perhatian global karena status konservasi yang sudah kedaluwarsa dan kurangnya perhatian pada hewan invertebrata.

Ulah Manusia dan Serangan Spesies Invasif

Faktor utama yang mendorong kepunahan ini adalah aktivitas manusia. Perusakan habitat melalui penggundulan hutan dan perubahan aliran air menjadi pukulan awal. Namun, "pukulan KO" yang mematikan bagi populasi siput adalah masuknya spesies predator invasif.

Hawaii, yang dulunya merupakan rumah bagi setidaknya 750 spesies unik yang tidak ditemukan di tempat lain, kini hanya menyisakan sebagian kecil dari kekayaan tersebut.

"Hanya sekitar 10%-35% dari keragaman spektakuler ini, termasuk beberapa siput pohon Hawaii yang terkenal dan indah, yang masih bertahan hidup. Itu hanyalah sebagian kecil dari warisan alam asli Hawaii yang unik," ujar Robert Cowie.

Selain tikus, predator yang sengaja didatangkan manusia untuk mengendalikan hama justru menjadi bencana ekologis. Siput serigala merah (rosy wolf snail) dan cacing pipih New Guinea adalah dua pemburu yang bertanggung jawab atas hilangnya banyak spesies lokal.

Ancaman Perubahan Iklim dan Harapan yang Tersisa

Meskipun perubahan iklim belum tercatat sebagai pemicu utama kepunahan siput saat ini, para ilmuwan memprediksi hal itu akan menjadi ancaman besar di masa depan. Spesies yang hidup di habitat pegunungan yang sejuk tidak memiliki tempat untuk pindah ke tempat yang lebih tinggi saat suhu bumi terus meningkat.

Meski angka-angka ini suram, upaya konservasi belum berhenti. Program pengembangbiakan di penangkaran di Hawaii, Jepang, hingga Bermuda menjadi benteng terakhir untuk mencegah garis keturunan kuno ini lenyap sepenuhnya. Fokus utama saat ini adalah melindungi apa yang tersisa sembari berusaha mengendalikan predator invasif di alam liar.

Tinjauan ilmiah ini telah diterbitkan dalam jurnal Philosophical Transactions of the Royal Society B. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya