Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Sumatra Hadapi Krisis Biodiversitas Tertinggi, Pendekatan Berkelanjutan Jadi Kunci Penyelamatan

Basuki Eka Purnama
02/1/2026 20:27
Sumatra Hadapi Krisis Biodiversitas Tertinggi, Pendekatan Berkelanjutan Jadi Kunci Penyelamatan
Ilustrasi--Petugas pengendali (mahout) menunggangi gajah sumatra (Elephas maximus sumatrensis) jinak saat memantau kawasan hutan di Conservation Respond Unit (CRU) DAS Peusangan, Bener Meriah, Aceh, Kamis (19/12/2024).(ANTARA/Irwansyah Putra)

PULAU Sumatra mencatatkan tren kehilangan keanekaragaman hayati atau biodiversitas tertinggi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Peringatan serius ini disampaikan oleh Guru Besar Manajemen Lanskap IPB University, Prof. Syartinilia, dikutip Jumat (2/1)

Berdasarkan analisis skala meso menggunakan Biodiversity Intactness Index (BII) pada periode 2017–2020, data global menunjukkan bahwa degradasi alam di Sumatra melampaui wilayah lain di tanah air. 

Prof Syartinilia menjelaskan bahwa jika pola aktivitas manusia tetap dilakukan tanpa perubahan signifikan, masa depan ekosistem Sumatra berada dalam ancaman besar.

"Pada skenario bisnis seperti biasa, kehilangan biodiversitas hingga tahun 2050 diperkirakan mencapai sekitar 15%, sementara pada skenario keberlanjutan dapat ditekan hingga sekitar 11%," ungkapnya.

MI/HO--Guru Besar Manajemen Lanskap IPB University, Prof. Syartinilia

Ancaman terhadap Spesies Kunci

Kajian ini memberikan perhatian khusus pada nasib habitat spesies karismatik seperti gajah, orangutan, dan harimau Sumatra. Proyeksi menunjukkan perbedaan mencolok antara dua skenario kebijakan. Pada skenario bisnis seperti biasa, habitat gajah diprediksi akan merosot tajam hingga 66%.

Namun, harapan muncul jika pemerintah dan pemangku kepentingan beralih ke skenario keberlanjutan. 

"Pendekatan berkelanjutan terbukti mampu menekan kehilangan habitat secara signifikan," tegas Prof. Syartinilia. 

Bahkan, dalam skenario tersebut, terdapat potensi peningkatan luas habitat sekitar 5%.

Kerentanan Ekosistem Nasional 2050

Secara lebih luas, riset IPB University ini memetakan dinamika kerentanan ekosistem nasional hingga tahun 2050 dengan mempertimbangkan faktor antropogenik (aktivitas manusia) dan perubahan iklim. 

Di tingkat nasional, ekosistem lahan basah dan pegunungan diidentifikasi sebagai dua tipe ekosistem yang paling rentan.

Secara geografis, kerentanan tertinggi masih didominasi oleh Pulau Sumatra, disusul oleh Papua, Kalimantan, dan Maluku. 

Prof Syartinilia menekankan bahwa aktivitas manusia di skala lanskap memperparah dampak perubahan iklim, seperti kenaikan suhu dan cuaca ekstrem.

"Faktor antropogenik memiliki kontribusi signifikan dalam memperkuat dampak perubahan iklim terhadap ekosistem Indonesia," tambahnya.

Rekomendasi Aksi

Sebagai bagian dari penyusunan dokumen National Communication untuk adaptasi perubahan iklim, Prof. Syartinilia merekomendasikan sejumlah langkah darurat dengan Sumatra sebagai prioritas utama. Langkah-langkah tersebut meliputi:

  • Restorasi terfokus dan pengelolaan lanskap terpadu.
  • Konservasi berbasis masyarakat dan mitigasi ancaman langsung.
  • Investasi konservasi berskala besar.

Kajian ini diharapkan menjadi landasan kuat bagi perumusan kebijakan adaptasi iklim yang tidak hanya berbasis data historis, tetapi juga visioner dalam memproyeksikan dinamika perubahan di masa depan. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya