Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
PULAU Sumatra mencatatkan tren kehilangan keanekaragaman hayati atau biodiversitas tertinggi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Peringatan serius ini disampaikan oleh Guru Besar Manajemen Lanskap IPB University, Prof. Syartinilia, dikutip Jumat (2/1)
Berdasarkan analisis skala meso menggunakan Biodiversity Intactness Index (BII) pada periode 2017–2020, data global menunjukkan bahwa degradasi alam di Sumatra melampaui wilayah lain di tanah air.
Prof Syartinilia menjelaskan bahwa jika pola aktivitas manusia tetap dilakukan tanpa perubahan signifikan, masa depan ekosistem Sumatra berada dalam ancaman besar.
"Pada skenario bisnis seperti biasa, kehilangan biodiversitas hingga tahun 2050 diperkirakan mencapai sekitar 15%, sementara pada skenario keberlanjutan dapat ditekan hingga sekitar 11%," ungkapnya.

Kajian ini memberikan perhatian khusus pada nasib habitat spesies karismatik seperti gajah, orangutan, dan harimau Sumatra. Proyeksi menunjukkan perbedaan mencolok antara dua skenario kebijakan. Pada skenario bisnis seperti biasa, habitat gajah diprediksi akan merosot tajam hingga 66%.
Namun, harapan muncul jika pemerintah dan pemangku kepentingan beralih ke skenario keberlanjutan.
"Pendekatan berkelanjutan terbukti mampu menekan kehilangan habitat secara signifikan," tegas Prof. Syartinilia.
Bahkan, dalam skenario tersebut, terdapat potensi peningkatan luas habitat sekitar 5%.
Secara lebih luas, riset IPB University ini memetakan dinamika kerentanan ekosistem nasional hingga tahun 2050 dengan mempertimbangkan faktor antropogenik (aktivitas manusia) dan perubahan iklim.
Di tingkat nasional, ekosistem lahan basah dan pegunungan diidentifikasi sebagai dua tipe ekosistem yang paling rentan.
Secara geografis, kerentanan tertinggi masih didominasi oleh Pulau Sumatra, disusul oleh Papua, Kalimantan, dan Maluku.
Prof Syartinilia menekankan bahwa aktivitas manusia di skala lanskap memperparah dampak perubahan iklim, seperti kenaikan suhu dan cuaca ekstrem.
"Faktor antropogenik memiliki kontribusi signifikan dalam memperkuat dampak perubahan iklim terhadap ekosistem Indonesia," tambahnya.
Sebagai bagian dari penyusunan dokumen National Communication untuk adaptasi perubahan iklim, Prof. Syartinilia merekomendasikan sejumlah langkah darurat dengan Sumatra sebagai prioritas utama. Langkah-langkah tersebut meliputi:
Kajian ini diharapkan menjadi landasan kuat bagi perumusan kebijakan adaptasi iklim yang tidak hanya berbasis data historis, tetapi juga visioner dalam memproyeksikan dinamika perubahan di masa depan. (Z-1)
Prof. Syartinilia memaparkan kajian Proyeksi Ekosistem Indonesia 2050 yang meninjau kerentanan ekosistem dari perspektif aktivitas manusia dan perubahan iklim.
Keberadaan reptilia ini tidak hanya menjadi bukti kekayaan hayati, tetapi juga berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem di lingkungan kampus IPB Dramaga.
Rut Krüger Giverin meyakini pembangunan Pusat Plasma Nutfah Nasional di Ibu Kota Nusantara (IKN) akan sangat bermanfaat untuk melestarikan kekayaan biodiversitas.
Kalsel memiliki kekayaan flora dan fauna yang besar. Salah satunya pelestarian keanekaragaman hayati di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam.
DORONG peningkatan penerapan ekonomi sirkular dalam keseharian demi menjaga kelestarian lingkungan yang sangat dibutuhkan untuk mengakselerasi proses pembangunan dan tumbuh kembang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved