Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PULAU Sumatra tercatat sebagai wilayah dengan tingkat kehilangan biodiversitas tertinggi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Temuan ini disampaikan Guru Besar Manajemen Lanskap IPB University, Prof. Syartinilia.
“Analisis pada skala meso di Pulau Sumatra menggunakan Biodiversity Intactness Index menunjukkan bahwa Sumatra mencatat tingkat kehilangan biodiversitas tertinggi di Indonesia,” ujar Prof. Syartinilia dikutip dari laman resmi IPB University, Jumat (26/12).
Ia menjelaskan, jika pembangunan dan pengelolaan lanskap terus berjalan dengan skenario bisnis seperti biasa, kehilangan biodiversitas di Sumatra hingga 2050 diperkirakan mencapai sekitar 15 persen. Namun, pada skenario keberlanjutan, angka tersebut dapat ditekan hingga sekitar 11 persen.
Kajian tersebut juga menyoroti kondisi habitat sejumlah spesies kunci dan karismatik Sumatra, seperti gajah, orangutan, dan harimau. Dalam skenario bisnis, habitat gajah Sumatra diproyeksikan menyusut hingga 66 persen. Sebaliknya, pada skenario keberlanjutan, terdapat potensi peningkatan habitat sekitar 5 persen.
“Pendekatan berkelanjutan terbukti mampu menekan kehilangan habitat secara signifikan,” tegas Prof. Syartinilia.
Berdasarkan hasil kajian itu, ia merekomendasikan sejumlah langkah adaptasi dan mitigasi, antara lain restorasi ekosistem yang terfokus, penguatan konservasi berbasis masyarakat, pengelolaan lanskap terpadu, mitigasi ancaman langsung terhadap habitat, serta investasi konservasi berskala besar dengan Sumatra sebagai wilayah prioritas nasional.
Prof. Syartinilia juga memaparkan kajian Proyeksi Ekosistem Indonesia 2050 yang meninjau kerentanan ekosistem dari perspektif aktivitas manusia dan perubahan iklim. Kajian ini menjadi bagian dari kontribusi IPB University untuk penyusunan dokumen National Communication, khususnya pada sektor adaptasi perubahan iklim bidang ekosistem.
Pendekatan riset dilakukan secara multiskala, mulai dari tingkat nasional hingga pulau. Pada skala nasional, peneliti menganalisis tumpang susun antara keterpaparan iklim dan kualitas ekosistem terestrial yang diukur melalui indeks vegetasi. Hasilnya diklasifikasikan ke dalam sembilan tingkat kerentanan lanskap.
“Secara nasional, Indonesia masih didominasi oleh tingkat kerentanan rendah hingga sedang, meskipun terdapat sejumlah wilayah dengan tingkat kerentanan tinggi,” jelas dosen Fakultas Pertanian IPB University tersebut.
Berdasarkan tipe ekosistem, lahan basah dan ekosistem pegunungan tercatat sebagai yang paling rentan. Secara spasial, Sumatra menempati posisi tertinggi dalam tingkat kerentanan, disusul Papua, Kalimantan, dan Maluku.
Prof. Syartinilia menegaskan bahwa perubahan iklim tidak dapat dipisahkan dari faktor antropogenik dalam skala lanskap. Kenaikan suhu, perubahan pola curah hujan, meningkatnya kejadian cuaca ekstrem, kenaikan muka air laut, hingga hilangnya biodiversitas merupakan proses yang saling berkaitan.
“Faktor antropogenik memiliki kontribusi signifikan dalam memperkuat dampak perubahan iklim terhadap ekosistem Indonesia,” ujarnya. (H-2)
Data global menunjukkan bahwa degradasi alam di Sumatra melampaui wilayah lain di tanah air.
Keberadaan reptilia ini tidak hanya menjadi bukti kekayaan hayati, tetapi juga berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem di lingkungan kampus IPB Dramaga.
Rut Krüger Giverin meyakini pembangunan Pusat Plasma Nutfah Nasional di Ibu Kota Nusantara (IKN) akan sangat bermanfaat untuk melestarikan kekayaan biodiversitas.
Kalsel memiliki kekayaan flora dan fauna yang besar. Salah satunya pelestarian keanekaragaman hayati di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam.
DORONG peningkatan penerapan ekonomi sirkular dalam keseharian demi menjaga kelestarian lingkungan yang sangat dibutuhkan untuk mengakselerasi proses pembangunan dan tumbuh kembang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved