Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Pascabanjir di Aceh, 7 Desa Pining masih Terisolasi

Amiruddin Abdullah Reubee
24/12/2025 22:00
Pascabanjir di Aceh, 7 Desa Pining masih Terisolasi
Pascabanjir bandang di Aceh, banyak desa masih terisolir(MI/AMIRUDDIN ABDULLAH REUBEE)

KLAIM sejumlah pejabat tinggi negara bahwa kondisi pascabanjir di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat telah membaik serta dapat ditangani pemerintah pusat, tampaknya belum sepenuhnya sejalan dengan realitas di lapangan. Pernyataan bahwa dana pemulihan infrastruktur telah tersedia pun terasa berbanding terbalik dengan situasi yang dihadapi warga terdampak.

Di Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh, misalnya, kondisi pascabanjir justru masih memprihatinkan. Sejak puncak banjir melanda wilayah tersebut pada Rabu-Kamis, 26-27 November lalu, hingga Rabu (24/12), belum terlihat penanganan signifikan yang mampu memulihkan kehidupan warga secara layak.

Dari sembilan desa di Kecamatan Pining, tujuh desa hingga kini masih terisolasi dan terputus total dari akses transportasi darat. Jalur jalan ambles ke jurang di puluhan titik, tertimbun longsor lereng pegunungan, serta tertutup sedimentasi kayu yang terbawa arus banjir. Beberapa jembatan penghubung pun rusak dan hanyut diterjang air bah.

Kondisi serupa terjadi di dua jalur utama, yakni Pining-Blang Kejeren (ibu kota Kabupaten Gayo Lues) dan Pining–Lokop (Kabupaten Aceh Timur), yang sama-sama tak bisa dilalui kendaraan.

Tak hanya terisolasi, warga juga harus hidup tanpa listrik. Sejak banjir besar melanda, pasokan listrik PLN terputus total. Selama hampir 29 malam, warga terpaksa tidur dalam gelap, ditemani dingin malam dan serangan nyamuk akibat minimnya kelambu.

“Keadaannya sangat sulit. Sampai sekarang saya masih trauma. Rasanya berat sekali menceritakannya kembali,” ujar Syukri, Kepala SD Negeri 4 Pining, kepada Media Indonesia.

Syukri menuturkan, persediaan beras dan bahan makanan di rumah-rumah warga telah menipis. Banyak rumah rusak akibat terendam banjir. Sementara rumah yang masih berdiri pun kini kehabisan bahan pokok. Meski sebagian warga sempat menyimpan gabah hasil panen sebelumnya, stok tersebut hanya tersisa di beberapa keluarga dan jumlahnya sangat terbatas.

Distribusi bantuan pun belum memadai. Bantuan logistik yang sempat disalurkan melalui helikopter pada pekan ketiga pascabanjir jumlahnya sangat terbatas. Warga bahkan harus berjalan kaki belasan kilometer untuk menjangkau titik pendaratan karena helikopter tidak mendarat dekat permukiman.

Adapun bantuan melalui jalur darat hanya mampu menjangkau Desa Pepelah, titik terakhir yang bisa dilalui kendaraan bak terbuka berpenggerak 4x4. Dari sana, bantuan harus dipikul atau diangkut manual menuju tujuh desa terisolasi dengan jarak tempuh 15 hingga 20 kilometer.

Karena kondisi yang kian mendesak, Syukri mengaku tiga hari lalu terpaksa turun langsung ke Kota Blang Kejeren untuk mencari kebutuhan pokok. Dari Pining, ia menempuh perjalanan dengan sepeda motor hingga separuh jalan, lalu melanjutkan dengan berjalan kaki sejauh sekitar 15 kilometer akibat longsor, jalan amblas, dan jembatan putus.

“Saya berjalan sekitar dua jam melewati bukit terjal dan jalan amblas sampai tiba di Posko Desa Pepelah,” tuturnya.

Dari Pepelah ke Blang Kejeren, Syukri menumpang mobil bak terbuka dengan ongkos Rp30 ribu per orang. Total perjalanan memakan waktu hampir lima jam. Padahal, dalam kondisi normal, jarak tersebut hanya ditempuh sekitar satu jam.

Terputusnya jalur Pining–Blang Kejeren juga berdampak besar terhadap perekonomian warga, khususnya panen raya durian. Harapan warga untuk menutupi kebutuhan menjelang Ramadan dan Idulfitri pupus seiring rusaknya akses transportasi.

“Padahal sejak jauh hari kami berharap hasil panen durian tahun ini bisa mencukupi kebutuhan puasa dan Lebaran 2026,” ujar Masykur, guru SMP Negeri Pining.

Menurutnya, hasil panen durian dari tujuh desa terisolasi tak lagi bisa diangkut ke pasar-pasar di berbagai kabupaten/kota di Aceh. Sebagian warga nekat memikul durian ke Blang Kejeren demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Itu pun paling sanggup membawa sekitar 10 buah. Jalurnya sangat berat, melewati jalan amblas, longsor, menyeberangi alur sungai, dan mengarungi lembah di antara bukit terjal,” kata Masykur.

Tragedi pun tak terhindarkan. Seorang warga bernama Ermayadi (40) meninggal dunia setelah terjatuh ke jurang saat melintasi jalan amblas di jalur Blang Kejeren, Pining pada Selasa (23/12).

Warga Kampung Jawa, Kecamatan Blang Kejeren itu sebelumnya pulang dari mengantar bahan makanan kepada keluarganya yang terisolasi di Kecamatan Pining, sekitar 40 kilometer dari ibu kota kabupaten. Dalam perjalanan pulang, saat melintasi turunan terjal di Desa Pepelah, Ermayadi terjun ke jurang akibat kondisi jalan yang tergerus dan jembatan yang rusak.(Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik