Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
KLAIM sejumlah pejabat tinggi negara bahwa kondisi pascabanjir di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat telah membaik serta dapat ditangani pemerintah pusat, tampaknya belum sepenuhnya sejalan dengan realitas di lapangan. Pernyataan bahwa dana pemulihan infrastruktur telah tersedia pun terasa berbanding terbalik dengan situasi yang dihadapi warga terdampak.
Di Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh, misalnya, kondisi pascabanjir justru masih memprihatinkan. Sejak puncak banjir melanda wilayah tersebut pada Rabu-Kamis, 26-27 November lalu, hingga Rabu (24/12), belum terlihat penanganan signifikan yang mampu memulihkan kehidupan warga secara layak.
Dari sembilan desa di Kecamatan Pining, tujuh desa hingga kini masih terisolasi dan terputus total dari akses transportasi darat. Jalur jalan ambles ke jurang di puluhan titik, tertimbun longsor lereng pegunungan, serta tertutup sedimentasi kayu yang terbawa arus banjir. Beberapa jembatan penghubung pun rusak dan hanyut diterjang air bah.
Kondisi serupa terjadi di dua jalur utama, yakni Pining-Blang Kejeren (ibu kota Kabupaten Gayo Lues) dan Pining–Lokop (Kabupaten Aceh Timur), yang sama-sama tak bisa dilalui kendaraan.
Tak hanya terisolasi, warga juga harus hidup tanpa listrik. Sejak banjir besar melanda, pasokan listrik PLN terputus total. Selama hampir 29 malam, warga terpaksa tidur dalam gelap, ditemani dingin malam dan serangan nyamuk akibat minimnya kelambu.
“Keadaannya sangat sulit. Sampai sekarang saya masih trauma. Rasanya berat sekali menceritakannya kembali,” ujar Syukri, Kepala SD Negeri 4 Pining, kepada Media Indonesia.
Syukri menuturkan, persediaan beras dan bahan makanan di rumah-rumah warga telah menipis. Banyak rumah rusak akibat terendam banjir. Sementara rumah yang masih berdiri pun kini kehabisan bahan pokok. Meski sebagian warga sempat menyimpan gabah hasil panen sebelumnya, stok tersebut hanya tersisa di beberapa keluarga dan jumlahnya sangat terbatas.
Distribusi bantuan pun belum memadai. Bantuan logistik yang sempat disalurkan melalui helikopter pada pekan ketiga pascabanjir jumlahnya sangat terbatas. Warga bahkan harus berjalan kaki belasan kilometer untuk menjangkau titik pendaratan karena helikopter tidak mendarat dekat permukiman.
Adapun bantuan melalui jalur darat hanya mampu menjangkau Desa Pepelah, titik terakhir yang bisa dilalui kendaraan bak terbuka berpenggerak 4x4. Dari sana, bantuan harus dipikul atau diangkut manual menuju tujuh desa terisolasi dengan jarak tempuh 15 hingga 20 kilometer.
Karena kondisi yang kian mendesak, Syukri mengaku tiga hari lalu terpaksa turun langsung ke Kota Blang Kejeren untuk mencari kebutuhan pokok. Dari Pining, ia menempuh perjalanan dengan sepeda motor hingga separuh jalan, lalu melanjutkan dengan berjalan kaki sejauh sekitar 15 kilometer akibat longsor, jalan amblas, dan jembatan putus.
“Saya berjalan sekitar dua jam melewati bukit terjal dan jalan amblas sampai tiba di Posko Desa Pepelah,” tuturnya.
Dari Pepelah ke Blang Kejeren, Syukri menumpang mobil bak terbuka dengan ongkos Rp30 ribu per orang. Total perjalanan memakan waktu hampir lima jam. Padahal, dalam kondisi normal, jarak tersebut hanya ditempuh sekitar satu jam.
Terputusnya jalur Pining–Blang Kejeren juga berdampak besar terhadap perekonomian warga, khususnya panen raya durian. Harapan warga untuk menutupi kebutuhan menjelang Ramadan dan Idulfitri pupus seiring rusaknya akses transportasi.
“Padahal sejak jauh hari kami berharap hasil panen durian tahun ini bisa mencukupi kebutuhan puasa dan Lebaran 2026,” ujar Masykur, guru SMP Negeri Pining.
Menurutnya, hasil panen durian dari tujuh desa terisolasi tak lagi bisa diangkut ke pasar-pasar di berbagai kabupaten/kota di Aceh. Sebagian warga nekat memikul durian ke Blang Kejeren demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Itu pun paling sanggup membawa sekitar 10 buah. Jalurnya sangat berat, melewati jalan amblas, longsor, menyeberangi alur sungai, dan mengarungi lembah di antara bukit terjal,” kata Masykur.
Tragedi pun tak terhindarkan. Seorang warga bernama Ermayadi (40) meninggal dunia setelah terjatuh ke jurang saat melintasi jalan amblas di jalur Blang Kejeren, Pining pada Selasa (23/12).
Warga Kampung Jawa, Kecamatan Blang Kejeren itu sebelumnya pulang dari mengantar bahan makanan kepada keluarganya yang terisolasi di Kecamatan Pining, sekitar 40 kilometer dari ibu kota kabupaten. Dalam perjalanan pulang, saat melintasi turunan terjal di Desa Pepelah, Ermayadi terjun ke jurang akibat kondisi jalan yang tergerus dan jembatan yang rusak.(Z-10)
Tanah amblas membentuk lubang raksasa seluas sekitar tiga hektare dengan kedalaman 50–100 meter.
PWM Aceh tetapkan 50 titik shalat Idul Fitri 1447 H di 23 kabupaten/kota. Simak lokasi utama dan kesiapan penyelenggaraan Jumat besok.
Mameugang atau dengan kata lain sebut megang adalah tradisi religi turun-turun dimana sang anak yang sudah berhasil tumbuh dewasa membeli daging mamegang kepada ibu dan bapaknya.
HARGA daging sapi 19 Maret 2026 di Aceh Barat tepatnya Meulaboh, naik menjadi Rp170 ribu per Kilogram. Daging sapi digunakan untuk tradisi meugang menyambut Hari Raya Lebaran 2026
Puncak arus mudik 2026 Aceh terjadi hari ini, Rabu (18/3). Puluhan ribu pemudik padati jalur Banda Aceh-Medan demi tradisi Meugang. Simak titik istirahatnya.
ARUS mudik penumpang angkutan umum dari luar daerah mulai terlihat memadati berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Aceh sejak dua hari terakhir.
SEBANYAK 492 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Sumatra ditutup sementara atau di-suspend mulai 9 Maret 2026 tanpa batas waktu.
Mendagri Kasatgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Wilayah Sumatera Muhammad Tito Karnavian meninjau lokasi hunian sementara di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh
Pemerintah berhasil merampungkan pembangunan 5.500 unit rumah hunian, di mana 1.500 unit di antaranya selesai pada bulan pertama.
JUMLAH titik panas atau hotspot sebagai indikator karhutla di Riau terus melonjak. Berdasarkan pantauan terakhir satelit ditemukan sebaran titik panas yakni 336 di sumatra
Gerakan ini merupakan sinergi lintas sektor yang melibatkan musisi lintas generasi, komunitas, serta dukungan penuh dari pemerintah dan sektor swasta.
Human Initiative memaparkan arah dan rencana pemulihan Sumatra. Pihaknya menyusun rencana itu berdasarkan kebutuhan masyarakat dan pendekatan kawasan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved