Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Nyeri Dada: Ini Beda GERD dan Gejala Serangan Jantung yang Wajib Diketahui

Media Indonesia
26/1/2026 11:28
Nyeri Dada: Ini Beda GERD dan Gejala Serangan Jantung yang Wajib Diketahui
Ilustrasi(Freepik.com)

 

Nyeri dada adalah salah satu keluhan medis yang paling menakutkan. Di tahun 2026, meskipun kesadaran kesehatan meningkat, kebingungan antara Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) dan serangan jantung (infark miokard) masih menjadi penyebab utama kepanikan atau justru keterlambatan penanganan yang fatal. Keduanya memiliki gejala yang tumpang tindih karena saraf yang melayani jantung dan kerongkongan (esofagus) memiliki jalur yang berdekatan menuju otak.

Memahami perbedaan nuansa antara kedua kondisi ini bukan sekadar pengetahuan umum, melainkan keterampilan bertahan hidup yang krusial. Artikel ini akan membedah secara mendalam perbedaan karakteristik, pemicu, dan tindakan medis yang tepat berdasarkan pedoman kardiologi dan gastroenterologi terbaru.

PENTING: Jika Anda ragu apakah nyeri dada tersebut akibat jantung atau lambung, selalu asumsikan itu adalah masalah jantung dan segera cari pertolongan medis. Waktu adalah nyawa.

Anatomi Nyeri: Mengapa Bisa Terasa Mirip?

Secara fisiologis, jantung dan kerongkongan terletak berdekatan di dalam rongga dada. Keduanya dipersarafi oleh saraf vagus. Ketika asam lambung naik ke kerongkongan (GERD), iritasi tersebut mengirimkan sinyal nyeri yang bisa diterjemahkan otak serupa dengan sinyal bahaya dari jantung yang kekurangan oksigen (iskemia). Inilah yang sering disebut sebagai mimikri gejala.

4 Indikator Utama Pembeda Gejala

Meskipun mirip, ada empat parameter kunci yang dapat membantu Anda membedakan sumber nyeri secara cepat:

1. Karakteristik Sensasi Nyeri

Penyakit Jantung: Sensasinya sering digambarkan sebagai tekanan benda berat (seperti diduduki gajah), remasan kuat, atau rasa penuh yang menyesakkan. Nyeri ini bersifat dalam dan viseral.

GERD: Sensasinya lebih tajam, perih, dan panas (burning sensation). Rasa panas ini biasanya dominan di belakang tulang dada dan bisa terasa naik ke arah tenggorokan.

2. Lokasi dan Penjalaran (Radiasi)

Penyakit Jantung: Nyeri sering kali menyebar (radiasi). Bermula dari dada kiri atau tengah, lalu menjalar ke lengan kiri, bahu, leher, rahang bawah, hingga punggung antar belikat.

GERD: Nyeri biasanya terlokalisasi di area ulu hati (epigastrium) dan bergerak lurus ke atas menuju dada tengah. Jarang sekali nyeri GERD menjalar hingga ke lengan atau rahang.

3. Pemicu (Trigger)

Penyakit Jantung: Sering dipicu oleh aktivitas fisik (exertion) atau stres emosional berat. Nyeri muncul saat Anda berjalan cepat, naik tangga, atau mengangkat beban, dan membaik saat istirahat (pada kasus Angina Stabil).

GERD: Dipicu oleh makanan (pedas, berlemak, asam), makan dalam porsi besar, atau posisi tubuh. Gejala memburuk saat Anda berbaring terlentang atau membungkuk segera setelah makan.

4. Respon terhadap Pengobatan

Penyakit Jantung: Nyeri tidak membaik dengan antasida atau sendawa. Pada pasien jantung, nyeri mungkin mereda dengan pemberian nitrogliserin di bawah lidah.

GERD: Nyeri sering kali mereda setelah minum obat penekan asam lambung (antasida) atau setelah posisi tubuh ditegakkan.

Gejala Penyerta yang Wajib Diwaspadai

Selain nyeri dada, perhatikan gejala sistemik yang menyertainya. Tubuh memberikan sinyal yang berbeda untuk kegagalan organ vital dan gangguan pencernaan.

Tanda Bahaya Jantung (Red Flags)

  • Keringat dingin: Muncul tiba-tiba membasahi seluruh tubuh meski tidak sedang kepanasan (diaforesis).
  • Sesak napas: Perasaan seperti kehabisan udara, bahkan tanpa aktivitas berat.
  • Pusing atau pingsan: Akibat penurunan curah jantung yang drastis.
  • Mual muntah tanpa alasan jelas: Terutama pada wanita, serangan jantung sering kali hanya bermanifestasi sebagai mual hebat dan kelelahan ekstrem.

Tanda Khas GERD

  • Regurgitasi: Rasa cairan asam atau pahit yang naik ke mulut.
  • Kesulitan menelan (Disfagia): Terasa ada benjolan di kerongkongan.
  • Batuk kering kronis: Terutama di malam hari akibat iritasi asam pada saluran napas.
  • Suara serak: Akibat peradangan pada pita suara karena paparan asam.

WASPADA WANITA & PENDERITA DIABETES: Kelompok ini sering mengalami "Silent Ischemia" atau serangan jantung dengan gejala tidak khas. Mereka mungkin tidak merasakan nyeri dada hebat, melainkan hanya rasa tidak nyaman di ulu hati, sesak napas ringan, dan kelelahan luar biasa. Jangan remehkan gejala ini.

Gastro-Cardiac Syndrome: Saat Lambung Mengganggu Jantung

Ada kondisi unik yang disebut Sindrom Roemheld, di mana akumulasi gas berlebih di lambung menekan diafragma dan jantung, memicu palpitasi (jantung berdebar) dan sesak napas. Ini murni masalah pencernaan yang memicu gejala jantung fisik, bukan penyakit jantung koroner. Namun, diagnosis ini hanya boleh ditegakkan oleh dokter setelah menyingkirkan kemungkinan kelainan jantung.

Checklist Praktis: Kapan Harus ke IGD?

Gunakan aturan "5 Menit" dan evaluasi faktor risiko Anda. Segera hubungi layanan darurat atau pergi ke IGD jika:

  1. Nyeri dada terasa menekan, meremas, atau sangat berat dan berlangsung lebih dari 5 menit.
  2. Nyeri disertai keringat dingin, sesak napas, atau pusing melayang.
  3. Nyeri menjalar ke lengan kiri, leher, atau rahang.
  4. Anda memiliki faktor risiko: Merokok, hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, atau obesitas.
  5. Nyeri tidak membaik dengan istirahat atau obat maag.

Kesimpulan

Membedakan GERD dan penyakit jantung memerlukan kejelian, namun keselamatan jiwa adalah prioritas utama. Jika Anda berusia di atas 40 tahun atau memiliki faktor risiko kardiovaskular, anggaplah setiap nyeri dada yang tidak wajar sebagai potensi masalah jantung sampai dokter menyatakan sebaliknya. Pemeriksaan rekam jantung (EKG) dan enzim jantung (Troponin) adalah cara paling akurat untuk memastikan kondisi Anda di tahun 2026 ini.

PENAFIAN
Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya