Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
SEJUMLAH jenis makanan tidak dianjurkan untuk dipanaskan berulang kali karena dapat merusak zat gizi dan bahkan memicu pembentukan senyawa berbahaya bagi kesehatan.
Ahli gizi Rita Ramayulis, menjelaskan bahwa makanan yang sebelumnya telah diolah dengan suhu tinggi sebaiknya tidak dipanaskan kembali.
“Kalau makanan itu sebelumnya sudah diolah dengan suhu tinggi, lalu dipanaskan ulang, akan terjadi pengurangan dan kerusakan zat gizi, bahkan bisa terbentuk zat baru yang bersifat karsinogenik atau membuat lemak menjadi sangat jenuh,” kata Rita dilansir dari Antara, Kamis (22/1).
Rita menegaskan bahwa menghangatkan makanan tidak sama dengan memanaskan ulang hingga mendidih dalam waktu lama. Pemanasan yang merusak zat gizi adalah ketika makanan dipanaskan sampai titik didih dan berlangsung lama.
Menurut dia, proses menggoreng ulang merupakan metode pemanasan yang paling berisiko karena dapat menurunkan nilai gizi dan membentuk senyawa berbahaya bagi tubuh.
Pengolahan makanan dengan suhu tinggi yang perlu mendapat perhatian khusus adalah makanan yang digoreng, terutama dengan metode deep frying atau menggunakan minyak dalam jumlah banyak, terlebih jika minyak tersebut dipakai berulang kali.
“Kalau hanya dihangatkan sampai suhu sekitar 60 derajat Celsius, itu tidak merusak zat gizi. Namun, makanan yang digoreng untuk kedua kali sudah berisiko kehilangan zat gizinya,” ujar Ketua Pengurus Pusat Indonesian Sport Nutritionist Association (PP ISNA) 2019–2024 itu.
Rita menyebutkan beberapa jenis makanan yang sebaiknya tidak dipanaskan ulang, antara lain:
Menurut Rita, nitrat yang dipanaskan dapat berubah menjadi nitrit yang berbahaya.
“Nitrit itu berdampak buruk pada pembuluh darah dan bersifat karsinogenik,” jelasnya.
Lebih lanjut, Rita menjelaskan bahwa makanan berprotein tinggi masih relatif aman dipanaskan ulang jika sebelumnya diolah dengan suhu rendah, seperti direbus, ditumis, atau dioseng ringan.
Namun, makanan berprotein hewani yang telah digoreng, seperti telur ceplok, sebaiknya tidak dipanaskan kembali karena berisiko merusak zat gizi.
“Kalau telur orak-arik dengan suhu kecil lalu dipanaskan sebentar masih aman. Telur rebus yang dihangatkan juga tidak masalah. Yang berisiko itu jika sebelumnya digoreng dengan suhu tinggi,” kata Dosen Pascasarjana Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Faletehan tersebut. (Z-10)
Pola gangguan kesehatan ini bahkan konsisten muncul pada hari ketiga Ramadan selama dua tahun terakhir.
Kepala BSKDN Kemendagri Yusharto Huntoyungo menegaskan capaian dan penghargaan inovasi daerah tidak boleh menjadi titik akhir dalam berinovasi.
Ancaman super flu, infeksi saluran pernapasan akibat virus influenza dengan gejala yang lebih berat dibanding flu biasa, kian menjadi perhatian.
Buku berjudul Mika & Maka: Berani ke Dokter karya kolaborasi Karen Nijsen dan Maria Ardelia menghadirkan kisah yang disampaikan secara hangat dan mudah dipahami agar anak takut ke dokter
Siapa sangka, golongan darah ternyata ikut berkaitan dengan risiko serangan jantung. Ini bukan mitos kesehatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved