Headline

Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.

Mengapa Penyakit Ginjal Kronis Sering Berujung Gagal Jantung? Ilmuwan Temukan Partikel Beracun Penyebabnya

Thalatie K Yani
22/1/2026 13:07
Mengapa Penyakit Ginjal Kronis Sering Berujung Gagal Jantung? Ilmuwan Temukan Partikel Beracun Penyebabnya
Ilustrasi(freepik)

SELAMA ini, para dokter sering mendapati fakta bahwa lebih dari separuh pasien penyakit ginjal kronis akhirnya meninggal dunia akibat komplikasi jantung. Namun, alasan spesifik di balik keterkaitan erat kedua organ ini selalu menjadi misteri medis, hingga saat ini.

Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan tim ahli dari UVA Health dan Mount Sinai berhasil mengungkap penyebab utamanya. Ternyata, ginjal yang rusak melepaskan partikel kecil ke dalam aliran darah yang secara aktif "meracuni" jantung. Partikel ini membawa materi genetik yang mengganggu fungsi jantung dan dapat memicu gagal jantung.

Utusan Berbahaya dalam Darah

Penemuan ini berfokus pada apa yang disebut sebagai circulating extracellular vesicles (EVs). Secara alami, hampir semua sel memproduksi vesikel ini sebagai "kurir" untuk mengangkut protein dan material antar-sel.

Namun, pada pengidap penyakit ginjal kronis, vesikel yang dihasilkan membawa RNA non-coding kecil yang disebut miRNA. Peneliti menemukan miRNA ini bersifat toksik bagi jaringan jantung. Melalui uji laboratorium, para ilmuwan membuktikan bahwa menghentikan sirkulasi vesikel ini secara signifikan memperbaiki fungsi jantung dan mengurangi tanda-tanda gagal jantung.

"Dokter selalu bertanya-tanya bagaimana organ seperti ginjal dan jantung berkomunikasi satu sama lain. Kami menunjukkan bahwa EV dari ginjal dapat berpindah ke jantung dan bersifat toksik," ujar peneliti Dr. Uta Erdbrügger, ilmuwan kedokteran internal dari University of Virginia. "Kami baru saja mulai memahami komunikasi ini."

Deteksi Dini dan Harapan Baru

Penyakit ginjal kronis sendiri merupakan ancaman serius yang menyerang 1 dari 7 orang dewasa di Amerika Serikat. Kondisi ini sangat umum terjadi pada penderita diabetes dan hipertensi. Karena ginjal dan jantung sering kali mengalami kerusakan secara diam-diam, banyak pasien baru menyadari kondisinya setelah kerusakan permanen terjadi.

Temuan ini membuka pintu bagi pengembangan tes darah baru untuk mengidentifikasi pasien ginjal yang memiliki risiko tertinggi terkena masalah jantung. Selain itu, para peneliti berharap dapat menciptakan terapi yang mampu memblokir atau menetralkan vesikel berbahaya tersebut sebelum sempat merusak jantung.

"Harapan kami adalah mengembangkan biomarker dan opsi pengobatan baru bagi pasien ginjal kami yang berisiko terkena penyakit jantung," tambah Dr. Erdbrügger. "Berpotensi, pekerjaan kami akan meningkatkan pengobatan presisi sehingga setiap pasien mendapatkan perawatan tepat yang mereka butuhkan."

Penelitian ini diharapkan menjadi langkah besar dalam mempercepat transisi dari penemuan laboratorium menjadi terapi nyata yang dapat menyelamatkan nyawa jutaan orang di seluruh dunia. (Science Daily/z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya