Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Lebih dari Pereda Nyeri, Benarkah Ibuprofen Bisa Kurangi Risiko Kanker?

Thalatie K Yani
21/1/2026 08:00
Lebih dari Pereda Nyeri, Benarkah Ibuprofen Bisa Kurangi Risiko Kanker?
Ilustrasi(freepik)

IBUPROFEN selama ini dikenal luas sebagai obat andalan untuk meredakan sakit kepala, nyeri otot, hingga kram menstruasi. Namun, penelitian terbaru menunjukkan obat pereda nyeri populer ini mungkin memiliki manfaat yang jauh lebih besar, yakni mengurangi risiko jenis kanker tertentu.

Sebagai bagian dari keluarga obat anti-inflamasi non-steroid (NSAID), ibuprofen bekerja dengan menghambat enzim cyclooxygenase (COX), terutama COX-2 yang memicu peradangan. Karena peradangan kronis merupakan salah satu pemicu utama perkembangan kanker, para ilmuwan mulai menyelidiki apakah konsumsi rutin obat ini dapat menawarkan perlindungan tak terduga.

Menekan Risiko Kanker Endometrium hingga 25%

Sebuah studi penting tahun 2025 memberikan sorotan khusus pada kanker endometrium. Jenis kanker rahim yang menyerang lapisan rahim dan umumnya dialami wanita pascamenopause.

Melalui data dari Prostate, Lung, Colorectal, and Ovarian (PLCO) study, peneliti menganalisis lebih dari 42.000 perempuan berusia 55-74 tahun selama 12 tahun. Hasilnya cukup mengejutkan. Perempuan yang mengonsumsi setidaknya 30 tablet ibuprofen per bulan memiliki risiko 25% lebih rendah terkena kanker endometrium dibandingkan mereka yang mengonsumsi kurang dari empat tablet sebulan.

Menariknya, efek perlindungan ini tidak ditemukan pada aspirin, meskipun keduanya berada dalam kelompok NSAID yang sama. Efek protektif ibuprofen ini terlihat paling kuat pada wanita yang memiliki riwayat penyakit jantung.

Bagaimana Ibuprofen Melawan Sel Kanker?

Manfaat ibuprofen diduga tidak terbatas pada kanker endometrium saja. Beberapa bukti menunjukkan kaitan penggunaan obat ini dengan penurunan risiko kanker usus, payudara, paru-paru, hingga prostat.

Secara biologis, ibuprofen bekerja melalui dua jalur utama:

  • Menurunkan Prostaglandin: Dengan memblokir enzim COX-2, produksi prostaglandin, pembawa pesan kimiawi yang mendorong pertumbuhan sel kanker, menjadi berkurang.
  • Interferensi Genetik: Ibuprofen tampaknya mampu melemahkan aktivitas gen seperti HIF-1?, NF?B, and STAT3. Gen-gen ini biasanya membantu sel tumor bertahan hidup dalam kondisi rendah oksigen dan melawan pengobatan medis.

Bukan Tanpa Risiko

Meski temuan ini menggembirakan, para ahli kesehatan memperingatkan masyarakat agar tidak melakukan pengobatan mandiri dengan ibuprofen untuk tujuan pencegahan kanker.

Penggunaan NSAID jangka panjang atau dalam dosis tinggi membawa risiko efek samping serius, seperti:

  • Tukak lambung dan perdarahan saluran cerna.
  • Kerusakan ginjal.
  • Risiko masalah jantung, termasuk serangan jantung atau stroke.
  • Interaksi berbahaya dengan obat lain seperti pengencer darah (warfarin) atau antidepresan tertentu.

Hingga saat ini, strategi pencegahan yang paling andal tetap berfokus pada gaya hidup sehat. Menjaga berat badan ideal, tetap aktif secara fisik, dan mengonsumsi makanan bergizi jauh lebih disarankan daripada bergantung pada obat-obatan kimia tanpa pengawasan medis.

Setiap langkah pencegahan medis harus dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter untuk menimbang manfaat dibandingkan risiko kesehatan yang mungkin timbul. (Science Daily/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya