Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Bahaya Tersembunyi di Balik Kebiasaan Bermain Ponsel saat BAB

Basuki Eka Purnama
13/1/2026 14:15
Bahaya Tersembunyi di Balik Kebiasaan Bermain Ponsel saat BAB
Ilustrasi(Freepik)

KEBIASAAN membawa ponsel ke dalam toilet mungkin terasa seperti aktivitas sepele untuk membunuh kebosanan. Namun, para ahli memperingatkan bahwa gaya hidup modern ini menyimpan risiko kesehatan yang serius, salah satunya adalah meningkatnya risiko terkena wasir atau ambeien.

Dokter spesialis bedah umum lulusan Universitas Indonesia, dr. Franky Mainza Zulkarnain, Sp. B, menjelaskan bahwa duduk berlama-lama di toilet, terutama sambil bermain ponsel, dapat memperbesar tekanan pada area anus. Menurutnya, toilet seharusnya digunakan sesuai fungsinya, bukan sebagai tempat bersantai.

"Pergi ke toilet untuk buang air besar (BAB) itu kalau kita memang sudah ingin BAB, bukan tunggu BAB keluar sambil memegang handphone. Kadang-kadang orang begitu atau dia sudah selesai BAB, tapi belum selesai main handphone," ujar Franky dalam sebuah temu media di Jakarta.

Mekanisme Terjadinya Wasir

Secara medis, wasir atau ambeien adalah kondisi terjadinya pembengkakan atau pelebaran pembuluh darah vena (varises) di sekitar anus atau rektum bagian bawah. 

Penggunaan kloset duduk dalam durasi yang lama memicu peningkatan tekanan di area tersebut, terutama saat seseorang mengejan.

Risiko ini akan berlipat ganda jika seseorang mengalami sembelit atau konstipasi. Ketika feses berbentuk keras akibat kekurangan serat, tubuh dipaksa untuk mengejan lebih keras. Tekanan tinggi inilah yang secara perlahan merusak pembuluh darah dan memicu timbulnya benjolan wasir.

Faktor Risiko dan Gejala

Selain faktor kebiasaan di toilet, Franky, yang berpraktik di RS Pondok Indah-Puri Indah, menyebutkan bahwa gaya hidup sedenter—seperti malas bergerak dan terlalu sering duduk dalam waktu lama—juga menjadi pemicu utama.

Dari sisi demografi, mayoritas pasien yang ia temui berada di rentang usia 35 hingga 50 tahun, dengan kasus terbanyak dialami oleh laki-laki. 

Meski demikian, ia menekankan bahwa wasir kini juga mulai menyerang usia yang lebih muda. Faktor lain yang patut diwaspadai meliputi:

  • Masa Kehamilan: Meningkatnya tekanan dari dalam rahim seiring pertumbuhan janin.
  • Obesitas: Kelebihan berat badan yang menambah beban pada pembuluh darah di bagian bawah tubuh.

Penderita umumnya akan merasakan gejala berupa rasa gatal, perih, hingga nyeri yang hebat. 

Dalam kondisi yang lebih parah, dapat terjadi pendarahan saat BAB. Rasa tidak nyaman ini seringkali menghambat aktivitas sehari-hari karena penderita akan merasa sulit untuk duduk.

Pencegahan dan Penanganan

Sebagai langkah pencegahan, Franky mengimbau masyarakat untuk lebih memperhatikan pola makan dengan memperbanyak konsumsi serat. 

Selain itu, menghindari makanan yang terlalu pedas atau makanan yang banyak mengandung gas juga sangat dianjurkan.

Kabar baiknya, penderita wasir tidak selalu harus berakhir di meja operasi. Prosedur medis seperti bedah atau penggunaan laser hanya dilakukan setelah melalui pemantauan medis yang saksama. 

Dokter biasanya akan memantau kondisi pasien terlebih dahulu untuk menentukan tingkat keparahan sebelum memutuskan tindakan medis yang diperlukan. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya