Headline

Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.

Terlambat Diagnosis, Penyebab Masih Terjadinya Kusta Tingkat 2 di Indonesia

M Iqbal Al Machmudi
10/1/2026 12:28
Terlambat Diagnosis, Penyebab Masih Terjadinya Kusta Tingkat 2 di Indonesia
Ilustrasi(Dok Litbang MI)

KUSTA atau lepra merupakan salah satu penyakit tropis terabaikan (Neglected Tropical Diseases/NTDs) yang masih banyak terjadi di negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

Disabilitas pada pasien kusta dibagi menjadi 3 tingkatan. Pertama, tingkat 0 atau tidak ada disabilitas dan tidak ada kerusakan atau deformitas yang terlihat pada mata, tangan, atau kaki. Kedua, tingkat 1 yakni kehilangan sensibilitas pada mata, tangan, dan kaki. Dan yang ketiga adalah tingkat 2 yaitu adanya kerusakan kerusakan yang terlihat pada mata, tangan, atau kaki.

Dokter spesialis kulit dan kelamin, Arini Widodo, menjelaskan ada beberapa indikasi utama penyebab tingginya disabilitas tingkat 2 (Grade 2 Disability/G2D), antara lain diagnosis yang terlambat, banyak kasus kusta baru yang teridentifikasi ketika sudah terjadi kerusakan saraf yang terlihat (G2D), karena pasien tidak menyadari atau menunda datang ke fasilitas kesehatan. 

"Kemudian masih rendahnya kesadaran masyarakat tentang gejala awal. Lesi kulit tanpa rasa sakit pada stadium awal sering diabaikan, sehingga tidak segera diperiksakan," kata Arini saat dihubungi, Sabtu (10/1).

Selain itu, akses kesehatan yang sulit di daerah terpencil juga bisa menyebabkan perburukan pada penyakit kusta. Dan wilayah dengan layanan kesehatan terbatas membuat pemeriksaan dan pengobatan terlambat diberikan. 

"Dan penyebab yang masih sering terjadi hingga kini yaitu stigma dan diskriminasi sosial. Ketakutan terhadap stigma tersebut membuat banyak orang enggan mencari perawatan, sehingga diagnosis pun terhambat," ujar dia.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan dan laporan WHO terkini, kusta masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang penting di Indonesia. Pada 2023 tercatat 14.376 kasus baru kusta, menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah kasus tertinggi di dunia. 

Sekitar 8,2% kasus terjadi pada anak-anak, yang merupakan indikator adanya penularan aktif di komunitas. 

Angka disabilitas tingkat 2 menunjukkan bahwa masih banyak pasien yang datang telat ke fasilitas kesehatan sehingga penyakit sudah berkembang hingga terjadi kerusakan saraf dan deformitas yang tampak. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik