Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Stigma Menghalangi Eliminasi Kusta di Indonesia

M Iqbal Al Machmudi
07/1/2026 17:35
Stigma Menghalangi Eliminasi Kusta di Indonesia
Penanganan kusta di Madura, Jawa Timur(MI/M/Ghozi)

KUSTA atau lepra masih sering dianggap sebagai penyakit kutukan oleh masyarakat. Stigma tersebut membuat eliminasi kusta belum tercapai. Sebab, penderita enggan berobat ataupun terlambat mencari bantuan karena rasa takut mengalami mengalami diskriminasi sosial.

Pengurus Ikatan Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), dr Iqbal Mochtar, menjelaskan hingga saat ini target yang diinginkan pemerintah untuk eliminasi kusta di daerah belum tercapai, karena masih ada permasalahan di masyarakat salah satunya adalah adanya stigma dari masyarakat.

"Saya kira salah satu faktor yang sangat penting yaitu mengatasi stigma kusta, karena stigma akan memberikan pengaruh psikologis yang berpengaruh terhadap tingkat pengobatan pasien," kata Iqbal saat dihubungi, Rabu (7/1).

Oleh karena itu, salah satu hal yang penting dilakukan saat ini adalah mengakhiri stigma kusta di masyarakat dengan memberikan edukasi publik yang lebih luas dalam bentuk kampanye, sosialisasi, dan bukan dalam bentuk hukuman.

Iqbal mengusulkan pemerintah bisa melibatkan penyintas dalam kampanye pencegahan dan penanganan kusta. Sehingga penderita yang sudah sembuh diajak menjadi duta perubahan dan memberikan informasi kepada masyarakat agar masyarakat lebih paham.

"Tidak kalah pentingnya kita melibatkan tokoh masyarakat dan agama karena itu bisa membantu mengubah persepsi masyarakat. Dan yang juga perlu ditingkatkan adalah pelatihan tenaga kesehatan dan kader tentang bagaimana mereka bisa melakukan penatalaksanaan kusta," ungkapnya.

Kemudian, harus ada kampanye dengan skala nasional untuk menyampaikan pesan bahwa kusta bisa disembuhkan dan harus menghapus stigma yang mengatakan bahwa ini bukan penyakit kutukan.

Pemerintah memasang target eliminasi kusta di 111 kabupaten/kota pada 2030. Target tersebut sejalan dengan visi nasional yaitu zero new cases, zero disability, and zero stigma atau tidak ada kasus baru, tidak ada kecacatan, dan tidak ada stigma.

Namun visi tersebut memiliki banyak tantangan untuk implementasinya. Oleh karena itu, strategi yang dilakukan pemerintah untuk menjalankan program tersebut adalah deteksi dini, skrining kusta, kemudian pemberian obat multi drug therapy atau MDT yang sudah tersedia di puskesmes.

Iqbal menyebut hal yang tidak kalah penting ialah kolaborasi lintas sektoral yang melibatkan pemerintah, stakeholders, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, dan mitra-mitra lain.

"Yang paling penting itu adalah edukasi dan promosi kesehatan Kita perlu mendapatkan informasi yang jelas terkait bagaimana genjala, pengobatan, dan prognosis dari penyakit ini," pungkasnya. (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya