Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Cegah Anemia Defisiensi Besi, Ahli Gizi Tekankan Pentingnya Nutrisi di 1.000 Hari Pertama Kehidupan

Basuki Eka Purnama
09/1/2026 09:46
Cegah Anemia Defisiensi Besi, Ahli Gizi Tekankan Pentingnya Nutrisi di 1.000 Hari Pertama Kehidupan
Ilustrasi(Freepik)

MASALAH anemia defisiensi besi masih menjadi tantangan kesehatan yang serius di Indonesia. Spesialis gizi klinik, Dr. dr. Luciana Sutanto, MS, SpGK (K), menekankan bahwa pemenuhan asupan zat gizi yang tepat sangat krusial, terutama pada periode emas atau 1.000 hari pertama kehidupan demi mencegah dampak jangka panjang bagi generasi mendatang.

Dalam sebuah diskusi kesehatan di Jakarta, Kamis (8/1), dokter lulusan Universitas Indonesia ini menjelaskan bahwa anemia defisiensi besi masuk dalam kategori anemia gizi. Kondisi ini terjadi akibat asupan zat besi yang tidak mencukupi kebutuhan tubuh untuk memproduksi hemoglobin.

"Kenyataannya memang kita masih mendapati anemia di Indonesia sangat tinggi, terutama anemia kekurangan zat besi (anemia defisiensi besi). Ini memang harus disikapi dengan pencegahan, terutama kesehatan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan," ujar Luciana.

Persiapan Sejak Masa Remaja

Gizi merupakan fondasi utama dalam mendukung tumbuh kembang optimal sejak awal kehidupan. Luciana menjelaskan bahwa perhatian utama harus diberikan pada ibu hamil dan anak-anak. Namun, ia juga menegaskan bahwa persiapan gizi sebaiknya dilakukan jauh sebelum kehamilan terjadi, yakni sejak masa remaja.

Persiapan dini pada remaja putri dianggap vital karena mereka adalah calon ibu di masa depan. Jika kondisi kesehatan tidak dipersiapkan sejak awal, risiko komplikasi saat kehamilan akan meningkat.

"Sebelum itu, perempuan yang akan hamil memang harus dipersiapkan kesehatannya. Remaja putri itu penting sekali tahu gizi, tahu bahwa nantinya kalau mereka akan hamil dan melahirkan itu harus siap. Karena kalau tiba-tiba hamil, tapi, enggak sehat, perjuangannya menjadi lebih kompleks lagi," tutur Presiden Indonesian Nutrition Association (INA) tersebut.

Pedoman Gizi dan Pilihan Sumber Zat Besi

Di tengah maraknya tren diet dan pola makan yang beragam di masyarakat, Luciana mengingatkan pentingnya sikap selektif dalam menyerap informasi. Ia mengimbau masyarakat untuk tetap berpegang pada Pedoman Gizi Seimbang dari Kementerian Kesehatan sebagai acuan utama yang valid.

"Marilah kita mengacu kepada pedoman makan yang sehat ini dan bersama-sama mensosialisasikan karena banyak sekali informasi yang benar-benar menggiring ke arah yang tidak sehat," tegasnya.

Untuk memenuhi kebutuhan zat besi, masyarakat disarankan mengonsumsi bahan pangan alami seperti hati ayam dan daging merah. Selain sumber alami, makanan komersial yang telah difortifikasi zat besi juga bisa menjadi solusi praktis, asalkan dipilih secara cermat.

Sebagai penutup, ia mengingatkan bahwa asupan zat besi harus dibarengi dengan pendukung penyerapan yang tepat. Salah satunya adalah dengan mengonsumsi vitamin C agar zat besi yang masuk ke dalam tubuh dapat terserap secara optimal. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik