Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Ubah Pola Pikir, UGM Latih Masyarakat Daur Ulang Plastik dan Jelantah

Ardi Teristi Hardi
07/1/2026 21:19
Ubah Pola Pikir, UGM Latih Masyarakat Daur Ulang Plastik dan Jelantah
Ilustrasi(Dok UGM)

MASIH banyak orang yang membuang begitu saja plastik dan minyak goreng yang habis dipakai (jelantah). Padahal, keduanya masih bisa didaur ulang sehingga memiliki nilai ekonomi dan tidak merusak lingkungan.

Pemahaman itu disampaikan dalam Workshop Pengolahan Sampah CircuLife–SLI 2025 Batch ke-3 bertema Community-Driven Waste Management and Circular Economy in Yogyakarta, Rabu (7/1), di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM). Kegiatan ini menjadi upaya konkret mendorong pengelolaan sampah berbasis komunitas dan penerapan ekonomi sirkular di Yogyakarta.

Workshop menghadirkan praktisi pengelolaan sampah yang berbagi pengalaman dan praktik baik, mulai dari pengolahan sampah plastik hingga pemanfaatan limbah minyak jelantah. Pada sesi pertama, Ilham Zulfa Pradipta, S.T., M.Eng dari Jogja Life Cycle memaparkan materi mengenai daur ulang sampah plastik dan tantangan pengelolaannya di Indonesia.

Ilham menjelaskan, plastik melalui proses panjang sejak ekstraksi bahan baku, polimerisasi, hingga digunakan dan didistribusikan ke masyarakat. Berbagai jenis plastik seperti PET, HDPE, PVC, LDPE, PP, dan PS banyak digunakan sehari-hari dan berkontribusi terhadap timbulan sampah. Berdasarkan data tahun 2024, Indonesia tercatat sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kelima di dunia.

“Sampah plastik menjadi persoalan serius karena sulit terurai, dapat berubah menjadi mikroplastik, serta mengandung bahan kimia berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan,” ujar Ilham.

Solusinya, Ilham menekankan pentingnya pengelolaan sampah melalui konsep recycling, downcycling, dan upcycling. Ia menyoroti upcycling sebagai pendekatan yang mampu meningkatkan nilai dan kualitas produk hasil olahan sampah plastik. Pendekatan ini telah diterapkan oleh Jogja Life Cycle yang dirintis sejak 2021 di Lab RINDU (Rumah Inovasi Daur Ulang) PIAT UGM dan kini bekerja sama dengan 13 bank sampah di Kelurahan Giwangan, dua pengepul sampah, dua sekolah dasar, serta sejumlah komunitas. Jogja Life Cycle juga mengembangkan usaha pencacahan plastik sebagai bagian dari ekosistem ekonomi sirkular.

Sementara itu, pembicara kedua, Maria Ratih dari Dadio Home, mengangkat topik pengolahan limbah minyak jelantah. Ia menjelaskan bahwa minyak jelantah yang dibuang sembarangan berpotensi mencemari lingkungan dan saluran air. Melalui Dadio Home, minyak jelantah diolah kembali menjadi produk ramah lingkungan seperti sabun, sekaligus membuka peluang ekonomi berbasis rumah tangga dan komunitas.

“Limbah minyak jelantah sebenarnya memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan tepat dan berkelanjutan,” ujar Maria Ratih.

Koordinator Proyek CircuLife-SLI 2025, Rima Amalia Eka Widya, S.S., M.A. menyatakan, kegiatan ini mengedukasi ke masyarakat tentang pengolahan sampah. "Sampah dikelola dan diproses sampai bisa menghasilkan produk baru dan memiliki nilai ekonomi," ungkap dia.

Edukasi yang paling mendasar adalah memilah sampah dari rumah sebelum dibuang. Sampah organik harus dikelola dan diolah di rumah tangga, misalnya untuk menjadi pupuk kompos atau pakan ternak.

Ia berharap nantinya Fapet UGM dapat meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat dalam mengelola sampah secara berkelanjutan. "Kegiatan ini sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan lingkungan dan ekonomi sirkular berbasis komunitas," tutup dia. (H-2)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya