Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Data dari Kemenkes Sebut, di Jabar Terdeteksi Ada 10 Kasus Super Flu

Naviandri
04/1/2026 12:11
Data dari Kemenkes Sebut, di Jabar Terdeteksi Ada 10 Kasus Super Flu
Ilustrasi(Dok UGM)

MUNCULNYA penyakit super flu atau virus Influenza tipe A sub-clade K (H3N2) di beberapa provinsi Indonesia mulai memicu perhatian publik. Di Tanah Air, berdasarkan data Kemenkes sudah ada 62 kasus, sementara di Jawa Barat (Jabar) tercatat 10 kasus yang terdeteksi. 

Ketua Ikatan Dokter Indonesia Jawa Barat (IDI Jabar) dr. Moh. Lutfi memberikan penjelasan mengenai karakteristik gejala super flu yang perlu diwaspadai agar masyarakat bisa membedakan kondisi ringan dengan kondisi yang membutuhkan penanganan medis. Meski istilah super flu terdengar mengkhawatirkan, Lutfi menyatakan secara klinis gejalanya masih identik dengan Influenza tipe A pada umumnya. Namun, masyarakat diminta tetap waspada terhadap kombinasi gejala tertentu. 

"Gejalanya sebetulnya sama saja, ada demam, batuk pilek, sakit tenggorokan, hingga nyeri otot atau badan terasa lemah," terangnya kemarin,

Lutfi menekankan, perbedaan utama varian hasil mutasi super flu ini terletak pada kecepatan transmisinya. "Karena dia mutasi, mungkin penularannya bisa lebih cepat antara satu orang ke orang lain dibandingkan sebelumnya," katanya. 

Apa Penggunaan Obat untuk Super Flu?

Bagi masyarakat yang merasakan gejala tersebut, IDI Jabar menyarankan untuk tidak langsung panik mencari obat-obatan keras seperti antibiotik. Karena penyakit ini disebabkan oleh virus, maka kunci utamanya bukan pada antibiotik, melainkan pada penguatan imun tubuh. 

"Tidak ada obat yang spesifik. Untuk mengatasi gejala batuk pileknya, bisa menggunakan obat yang umum tersedia di apotek. Karena ini virus, daya tahan tubuh kita sendirilah yang akan mengatasi infeksinya," katanya. 

Ia juga menekankan bahwa antibiotik hanya direkomendasikan jika terjadi infeksi bakteri, bukan untuk flu. Masyarakat dihimbau untuk melakukan isolasi mandiri dan istirahat jika gejala yang dirasakan masih ringan. Namun ia memberikan catatan merah bagi pasien yang mengalami perburukan kondisi. 

"Kalau gejalanya ringan, tidak perlu dibawa ke IGD (instalasi gawat darurat). Kecuali, jika muncul gejala berat seperti sesak napas atau demam tinggi yang menetap, nah itu baru perlu diperiksakan lebih lanjut ke fasilitas kesehatan," terangnya.

Vaksinasi Influenza 

Selain protokol kesehatan dasar seperti memakai masker dan mencuci tangan, IDI Jabar kata dia, juga mendorong masyarakat untuk segera melakukan vaksinasi influenza. Hal ini dinilai penting untuk mencegah komplikasi atau peradangan serius di dalam tubuh. 

“Satu lagi, mungkin vaksinasi influenza itu perlu ya menurut saya, untuk menghindari risiko peradangan di dalam ya. Terutama untuk populasi tertentu, misalkan usia lanjut atau orang-orang dengan daya tahan tubuh rendah seperti pasien kanker, pasien autoimun dan lain-lain,” terangnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya