Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Gejala Menopause Ganggu Performa Atlet Putri, Sendi dan Tidur Jadi Masalah Utama

Thalatie K Yani
03/1/2026 12:43
Gejala Menopause Ganggu Performa Atlet Putri, Sendi dan Tidur Jadi Masalah Utama
Ilustrasi(freepik)

GEJALA menopause ternyata tetap menjadi tantangan besar bagi perempuan, sekalipun mereka merupakan atlet ketahanan yang aktif. Sebuah studi terbaru mengungkapkan gejala-gejala tersebut sering kali mengganggu rutinitas latihan hingga menurunkan performa atletik para wanita di usia 40 hingga 60 tahun.

Penelitian yang diterbitkan pada 17 Desember 2025 di jurnal PLOS One ini dilakukan Heather Hamilton dari Old Dominion University, Amerika Serikat. Studi ini melibatkan 187 atlet putri yang terdiri dari pelari, pesepeda, perenang, dan atlet triatlon yang berlatih minimal tiga hari atau tiga jam per minggu.

Gangguan Tidur dan Kelelahan Mendominasi

Hasil survei menunjukkan angka yang cukup mengejutkan. Sebanyak 88% peserta melaporkan mengalami masalah tidur, diikuti kelelahan fisik dan mental sebesar 83%. Gejala lain yang banyak dikeluhkan meliputi kecemasan (72%), iritabilitas (68%), perubahan suasana hati atau depresi (67%), kenaikan berat badan (67%), hingga gangguan sendi dan otot (63%).

Meskipun aktivitas fisik secara teratur sering dikaitkan dengan berkurangnya keluhan menopause, studi ini membuktikan bahwa para atlet tetap merasakan dampak yang signifikan. Bagi mereka, gejala-gejala ini bukan sekadar ketidaknyamanan fisik, melainkan hambatan nyata dalam mempertahankan performa.

Dampak Nyata pada Performa Latihan

Gejala tertentu terbukti lebih merusak rutinitas latihan dibandingkan yang lain. Nyeri sendi dan otot, kenaikan berat badan, serta gangguan tidur menjadi faktor utama yang menghambat performa.

Data menunjukkan 97% putri yang mengalami gangguan otot atau sendi mengaku hal tersebut berdampak negatif pada latihan mereka, sementara 91% melaporkan penurunan performa saat berkompetisi. Secara keseluruhan, sekitar sepertiga atlet merasa menopause memberikan dampak negatif sedang hingga kuat terhadap latihan mereka.

Para peneliti menekankan tingkat keparahan gejala pada atlet ternyata sebanding dengan populasi perempuan pada umumnya, terlepas dari tingginya level aktivitas fisik mereka.

Perlunya Panduan Medis Khusus

Melalui temuan ini, tim peneliti berharap penyedia layanan kesehatan lebih memperhatikan gejala menopause pada perempuan yang aktif secara fisik agar mereka tetap dapat berpartisipasi dalam olahraga.

"Kami berharap karya ini menarik perhatian pada populasi yang terus berkembang namun masih kurang dipelajari, yang sangat membutuhkan bimbingan tentang cara menjalani transisi menopause sambil terus berpartisipasi dalam olahraga dan latihan fisik," dalam pernyataan penelitian.

Studi ini menjadi pengingat penting bahwa dukungan medis yang tepat sangat krusial bagi atlet putri senior untuk tetap kompetitif dan sehat di masa transisi biologis mereka. (Science Daily/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya