Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
ISTILAH super flu belakangan ramai diperbincangkan publik seiring meningkatnya kasus influenza di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat. Sebutan ini memicu kekhawatiran karena dianggap sebagai jenis flu baru yang lebih ganas dan mematikan.
Namun, dokter spesialis anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A(K), menegaskan bahwa super flu bukan istilah medis dan bukan penyakit baru.
Menurutnya, fenomena yang terjadi saat ini adalah meningkatnya penularan influenza tipe A, khususnya subclade K, yang menyebar lebih cepat dan dalam jumlah besar dibanding musim-musim sebelumnya. Kondisi inilah yang kemudian melahirkan istilah populer “super flu” di tengah masyarakat.
“Istilah super flu ini sebenarnya tidak ada dalam terminologi medis. Dalam dunia kedokteran, yang kita kenal adalah influenza sebagai bagian dari ISPA (infeksi saluran pernapasan akut),” ujar dr. Nastiti dalam keterangan daring kepada awak media, Senin (29/12).
Kesalahpahaman yang masih sering terjadi di masyarakat adalah menyamakan flu biasa (selesma) dengan influenza, apalagi dengan istilah super flu. Padahal, ketiganya memiliki perbedaan penting dari sisi penyebab, gejala, hingga tingkat risiko.
Flu biasa umumnya disebabkan oleh virus ringan seperti rhinovirus. Gejalanya relatif ringan, antara lain:
Demam biasanya tidak tinggi, nyeri badan minimal, dan penderita masih bisa beraktivitas seperti biasa.
Sementara itu, influenza, yang belakangan populer disebut super flu, merupakan infeksi virus influenza, terutama influenza tipe A. Gejalanya jauh lebih berat, seperti:
Pada kondisi tertentu, influenza dapat berkembang menjadi komplikasi serius, seperti pneumonia, terutama pada kelompok berisiko.
Dr. Nastiti menegaskan bahwa istilah “super” tidak merujuk pada keganasan virus yang lebih berbahaya, melainkan pada tingginya tingkat penularan dan lonjakan jumlah kasus.
“Disebut super flu karena disinyalir transmisinya lebih mudah. Namun sampai saat ini belum terbukti bahwa keparahannya lebih tinggi dibanding varian influenza tipe A lainnya,” jelasnya.
Dengan kata lain, secara medis virusnya masih mirip dengan varian influenza sebelumnya, hanya saja penyebarannya lebih luas dan cepat.
Meski sebagian besar kasus influenza dapat sembuh dengan sendirinya, ada kelompok tertentu yang berisiko mengalami sakit berat dan komplikasi serius. Kelompok yang perlu ekstra waspada meliputi:
Kelompok ini disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala influenza berat.
Dr. Nastiti menilai kepanikan di masyarakat sering kali muncul akibat informasi yang tidak utuh. Ia menyoroti kebiasaan masyarakat yang menyebut semua gejala batuk, pilek, dan demam sebagai flu, tanpa memahami perbedaannya.
“Take home message-nya, tidak perlu panik dengan istilah super flu. Tetap lakukan PHBS, lengkapi imunisasi, konsumsi nutrisi seimbang, dan pastikan istirahat cukup,” ujarnya. (Z-10)
Influenza adalah infeksi saluran pernapasan akut akibat virus tipe A, B, atau C, dengan gejala seperti demam, batuk, pilek, nyeri otot, dan kelelahan.
BMKG memprediksi suhu tinggi ini akan mulai mereda pada akhir Oktober hingga awal November 2025.
KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) melaporkan peningkatan signifikan kasus influenza di berbagai daerah Indonesia dalam beberapa pekan terakhir. Jawa Timur menjadi yang tertinggi.
Nutrisi seperti vitamin C, vitamin E, antioksidan, dan asam lemak sehat berperan penting dalam mendukung fungsi imun agar tubuh lebih tahan terhadap virus dan bakteri penyebab flu.
Superflu merupakan sebutan populer untuk menggambarkan peningkatan signifikan kasus flu yang dipicu oleh strain tertentu.
Kunci utama menghalau virus flu terletak pada kombinasi seimbang antara karbohidrat, protein, dan asupan vitamin dari buah-buahan.
Berbagai formula herbal dan rempah yang tersedia di dapur rumahan dapat dimanfaatkan secara efektif, baik untuk pencegahan maupun membantu proses penyembuhan.
Lonjakan kasus influenza terjadi secara signifikan di Amerika Serikat. Kota New York mencatat lebih dari 71.000 kasus flu dalam sepekan hingga 20 Desember 2025
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved