Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Atasi Krisis Air Bersih di Lokasi Bencana, TNI dan Unhan RI Kirim Satgas Teknologi Penjernihan Air

Rahmatul Fajri
19/12/2025 17:21
Atasi Krisis Air Bersih di Lokasi Bencana, TNI dan Unhan RI Kirim Satgas Teknologi Penjernihan Air
Ilustrasi(Dok Istimewa)

TENTARA Nasional Indonesia (TNI) bekerja sama dengan Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) membentuk Satuan Tugas (Satgas) khusus untuk menangani krisis air bersih di wilayah terdampak bencana alam. Satgas ini fokus pada pengembangan dan penerapan teknologi penjernihan air untuk dikirim ke lokasi bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Satgas ini dipimpin oleh Kolonel Inf Musthofa sebagai Koordinator Komando Satgas Air, serta diketuai oleh pakar Fisika FMIPA Unhan RI, Diyan Parwatiningtyas. Tim ini melibatkan kolaborasi lintas disiplin, mulai dari dosen hingga kadet dari program studi Rekayasa Sumber Daya Air, Fisika, hingga Teknik Sipil.

Teknologi yang diusung adalah sistem water treatment berbasis Reverse Osmosis (RO). Alat ini diklaim mampu memproduksi hingga 20.000 liter air bersih per hari untuk kebutuhan sanitasi, serta 4.000 hingga 5.000 liter air yang sudah siap dikonsumsi atau layak minum.

“Sistem water treatment reverse osmosis ini akan segera disebarkan ke titik-titik lokasi bencana yang berada di wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat,” ujar salah satu kadet Unhan RI saat menjelaskan kesiapan alat, Jumat (19/12).

Sistem penjernihan air ini dirancang khusus untuk menghadapi kondisi darurat. Menggunakan tabung filtrasi berbahan Fiber Reinforced Plastic (FRP), alat ini menyaring air melalui lapisan media seperti manganese ferrolite, zeolit, karbon aktif, dan silika.

Setelah melalui proses filtrasi awal, air diproses dengan teknologi reverse osmosis dan penyinaran ultraviolet (UV). Tahap ini bertujuan memastikan air bebas dari garam terlarut, kontaminan mikro, hingga bakteri dan virus berbahaya yang kerap muncul di lokasi banjir.

Dengan biaya produksi sekitar Rp65 juta hingga Rp70 juta per unit, teknologi ini dinilai sangat efisien untuk operasi tanggap darurat karena proses perakitannya hanya membutuhkan waktu sekitar empat hari.

Kehadiran Satgas Air ini tidak hanya ditujukan untuk masa tanggap darurat jangka pendek. TNI dan Unhan RI memproyeksikan teknologi ini dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat setempat setelah masa darurat berakhir.

Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan ketahanan air bersih secara jangka panjang, menekan risiko penyebaran penyakit akibat air tercemar, serta mempercepat pemulihan infrastruktur kesehatan di wilayah terdampak bencana. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya