Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Era Baru Presisi Bedah Tulang Belakang Melalui Teknologi Spinal Neuronavigation

Basuki Eka Purnama
11/12/2025 13:24
Era Baru Presisi Bedah Tulang Belakang Melalui Teknologi Spinal Neuronavigation
Ilustrasi(Freepik)

SEIRING pesatnya perkembangan teknologi medis, akurasi dan keselamatan pasien menjadi prioritas utama dalam tindakan operasi, khususnya pada kasus bedah saraf. 

Kini, teknologi baru bernama Spinal Neuronavigation hadir. Teknologi ini merupakan sebuah sistem GPS canggih untuk tubuh manusiayang fungsinya meningkatkan presisi tindakan operasi tulang belakang.

Saat peluncuran Alat Neuronavigasi itu di Rumah Sakit Jakarta, Kamis (11/12), dihadirkan tiga Dokter Spesialis Bedah Saraf terkemuka memberikan rangkaian Ilmiah Seminar Kesehatan ber-SKP Kemenkes, secara luring dan darling (hibrida) kerjasama Mitra Farma Indonesia.

Peran Neuronavigasi pada Kasus HNP dan Spinal Stenosis

Dalam sesi pembuka, dr. Dimas Rahman Setiawan, SpBS, MARS, FTB, FINSS, membahas tantangan mikroskopis operasi tulang belakang. Sebagai contoh kasus Herniasi Nukleus Pulposus (HNP) dan stenosis spinal (penyempitan saluran saraf). 

Dalam paparan presentasinya, ini merupakan kasus yang membutuhkan akurasi tingkat tinggi, dimana area operasi sangat sempit dan berdekatan dengan struktur saraf vital.

Secara mendetail, Dimas membahas teknologi Neuronavigation bekerja layaknya sistem GPS intraoperatif yang memetakan anatomi pasien secara real-time dalam tiga dimensi (3D). 

“Teknologi ini memungkinkan dokter "melihat" struktur di balik tulang tanpa harus melakukan pembukaan otot yang lebar,” jelasnya. 

Dengan bantuan teknologi neuronavigasi, identifikasi batas tulang menjadi lebih jelas. Teknologi ini membantu menentukan seberapa banyak tulang lamina yang harus diangkat (laminotomi) untuk membebaskan saraf tanpa mengganggu stabilitas tulang belakang. 

Dipaparkan juga mengenai drastisnya penurunan risiko cedera iatrogenic hingga pendarahan, karena instrumen bedah dapat dilacak pergerakannya di layar monitor dengan akurasi sub-milimeter.

Peran Neuronavigasi pada Kasus Skoliosis

Sesi kedua dibawakan oleh Dr. dr. Wawan Mulyawan, SpBS, Subspes, N-TB, SpKP,  FINSS, FINPS, AAK yang menyoroti prosedur bedah tulang belakang (scoliosis). 

Menurut Wawan, kompleksitas anatomi pada tulang belakang yang mengalami rotasi dan kelengkungan ekstrem, masih menjadi tantangan. Penanda anatomi (anatomical landmarks) konvensional sering kali sulit dikenali atau bahkan hilang.

Teknologi Neuronavigasi dalam pemasangan pedicle screw (sekrup tulang belakang) pada vertebra memandu trajektori sekrup agar tepat berada di dalam pedicle (jembatan tulang), menghindari risiko sekrup menembus saluran saraf (yang dapat menyebabkan kelumpuhan) atau mencederai pembuluh darah besar di sekitar aorta.

Labih lanjut teknologi ini juga membantu merencanakan strategi derotation (pemutaran balik tulang) untuk mengembalikan keseimbangan tubuh (sagittal and coronal balance) secara fisiologis.

Teknologi Neuronavigasi pada Kasus Fraktur Tulang Belakang

Sebagai penutup dibawakan dr. Danu Rolian, SpBS, FINSS, FINPS, yang membahas penanganan fraktur kompresi vertebra, yang umumnya disebabkan oleh osteoporosis atau trauma. 

Fokusnya pada prosedur Kyphoplasty, teknik menyuntikkan semen tulang khusus untuk mengembalikan kekuatan, tinggi ruas tulang belakang yang remuk hingga menghilangkan nyeri.

Danu menekankan, meskipun Kyphoplasty adalah prosedur minimal invasif, risiko kebocoran semen (cement leakage) ke saluran saraf tetap ada jika dilakukan tanpa panduan visual yang akurat.

Menurutnya, teknologi neuronavigasi dapat meningkatkan akurasi jalur jarum. Memastikan jarum balloon kyphoplasty masuk tepat di tengah badan vertebra (corpus vertebrae) dari sisi kiri dan kanan secara simetris. Lebih lanjut penempatan balon yang presisi dapat mengembalikan ketinggian tulang belakang yang kolaps secara optimal, mencegah terjadinya kifosis (bungkuk) permanen di kemudian hari.

Mewakili Manajemen Rumah Sakit Jakarta, Prof. dr. Budi Sampurna, Sp.F, SH, DFM, Sp.KP selaku Ketua Yayasan Rumah Sakit menyampaikan antusiasmenya terhadap penyelenggaraan acara ini.

“Penerapan Spinal Neuronavigation bukan sekadar tren teknologi, melainkan komitmen Rumah Sakit Jakarta untuk menghadirkan standar keselamatan tertinggi bagi pasien (Patient Safety),” tegasnya. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik