Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Pendampingan Psikologis Penyintas Bencana Sumatra: Apa yang Harus Dilakukan?

 Gana Buana
10/12/2025 14:23
Pendampingan Psikologis Penyintas Bencana Sumatra: Apa yang Harus Dilakukan?
Cara memberikan pendampingan psikologis khusus bagi penyitas bencana.(Antara)

BANJIR dan tanah longsor yang melanda wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada akhir November 2025 meninggalkan dampak psikologis berat. Data BNPB menunjukkan 921 korban meninggal, 392 orang hilang, dan lebih dari 37 ribu rumah warga rusak.

Selain kebutuhan fisik, para penyintas membutuhkan dukungan emosional yang berkelanjutan.

Dilansir dari Antara, artikel ini memberikan jawaban lengkap mengenai gejala stres pascabencana, langkah pendampingan yang efektif, hingga peran orang tua dan pemerintah dalam pemulihan psikologis.

Apa Dampak Psikologis yang Umum Dialami Penyintas Bencana?

Menurut psikolog klinis UI Kasandra Putranto, penyintas berpotensi mengalami:

  • kecemasan berlebihan,
  • mudah marah atau tersinggung,
  • ledakan emosi,
  • kesedihan berkepanjangan,
  • rasa bersalah yang tidak proporsional.

Normalnya, reaksi stres mereda dalam 2-4 minggu. Bila gejala berlangsung lebih dari satu bulan, penyintas berisiko mengalami PTSD atau gangguan penyesuaian.

Bagaimana Cara Efektif Mendampingi Penyintas Bencana?

Pendampingan yang dianjurkan meliputi:

1. Dukungan sosial konsisten

Mendengarkan tanpa menghakimi, menciptakan rasa aman, dan memastikan penyintas tidak merasa sendirian.

2. Program psikososial berbasis komunitas

  • kelompok dukungan sebaya,
  • ruang aman di pengungsian,
  • aktivitas pemulihan sosial yang membangun kembali rutinitas.

3. Terapi bermain bagi anak

Play therapy membantu anak memproses emosi dengan cara menyenangkan.

4. Program parenting

Membekali orang tua dengan kemampuan memahami perubahan emosi anak.

Bagaimana Pendampingan Psikologis Khusus untuk Anak?

Pakar Ilmu Komunikasi UNP, Evelynd, menegaskan bahwa setiap anak memiliki kemampuan pulih yang berbeda. Pendampingan yang tepat mencakup:

  • kegiatan menyenangkan untuk membantu fokus,
  • pendampingan bertahap dengan dukungan emosional orang tua,
  • pengaturan penggunaan gawai dan penyaringan informasi yang diterima anak.

Pendekatan ini sejalan dengan PP 17/2025 (PP Tunas) yang mengatur perlindungan anak dari risiko digital melalui filter usia, persetujuan orang tua, dan kewajiban platform.

Adakah Contoh Program Pendampingan yang Sudah Berjalan?

Ya. Kementerian Komunikasi dan Digital, bersama Save the Children dan Universitas Negeri Padang, telah menjalankan aktivitas pemulihan melalui:

  • kuis tanpa gawai,
  • menggambar dan membaca cerita,
  • permainan kolaboratif.

Program ini membantu anak kembali berinteraksi, merasa aman, dan membangun suasana hati positif selama masa pengungsian.

Apa Komitmen Pemerintah terhadap Pemulihan Penyintas?

Pemerintah mengintensifkan layanan trauma healing bagi kelompok rentan di wilayah terdampak. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi, menegaskan:

“Negara hadir untuk memastikan perempuan, anak, lansia, dan penyandang disabilitas memperoleh perlindungan dan pemenuhan hak selama masa darurat dan fase pemulihan.”

Ringkasan

  1. Penyintas bencana berisiko mengalami stres akut hingga PTSD.
  2. Gejala yang menetap >1 bulan perlu perhatian profesional.
  3. Dukungan sosial adalah faktor pemulihan terkuat.
  4. Anak membutuhkan aktivitas menyenangkan dan pendampingan orang tua.
  5. Pemerintah menjalankan program trauma healing dan perlindungan anak berbasis regulasi. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik