Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Indonesia Tawarkan Solusi Global Melalui Kerukunan dan Ekoteologi

Abdillah M Marzuqi
06/12/2025 19:26
Indonesia Tawarkan Solusi Global Melalui Kerukunan dan Ekoteologi
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar (dua dari kiri) dan Sekjen Muslim World League Syeikh Mohammed bin Abdulkarim Al Issa(Mi/Abdillah M. Marzuqi)

INDONESIA menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat pengembangan pemikiran keagamaan modern yakni kerukunan dan ekoteologi. Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyebut Indonesia menjadi sorotan global tidak hanya sebab adab dan keramahan, tetapi lebih dalam lagi pada cara bangsa Indonesia merawat kerukunan sebagai ekspresi iman dan keyakinan untuk hidup bersama.

“Indonesia adalah rumah masa depan bagi kerukunan global. Rumah yang dibangun bukan dengan bata dan semen tetapi dengan kepercayaan, penghargaan, dan pengakuan atas martabat manusia sebagai ciptaan Tuhan,” ungkap Menag dalam Dialog Kerukunan Lintas Agama di Jakarta (6/12).

Menag menegaskan masa depan umat manusia tidak bisa dibangun dengan kompetisi yang membinasakan atau supremasi yang memecah. Masa depan itu hanya mungkin terjadi jika ditenun di atas pondasi kerukunan, baik kerukunan dalam internal komunitas agama, kerukunan antara umat beragama, kerukunan antara umat beragama dan pemerintah.

Kerukunan horizontal dan vertikal

Kendati demikian, kerukunan tidak lantas dipahami sebagai hanya antarmanusia. Dari situlah konsep ekotelogi muncul.

“Kita diajarkan juga bahwa segala yang dapat lahiriah meski ditopang oleh kesadaran batin. Maka kerukunan sejati tidak hanya horizontal tetapi juga vertikal dengan semesta ciptaan Tuhan. Inilah panggilan zaman. Membangun kembali generasi relasi spiritual dengan alam. Disinilah pentingnya kita mengembangkan terus-menerus apa yang disebut ekoteologi atau teologi ekologis,” tegasnya.

Menag menekankan ekoteologi sebagai kesadaran bahwa bumi bukan hanya tempat tinggal, tetapi amanah. Oleh sebab itu, melukai bumi, merusak air dan udara, membakari hutan, sejatinya adalah bentuk pengkhianatan terhadap peran manusia sebagai khalifah.

Dialog Kerukunan Lintas Agama yang diselenggarakan oleh Kemenag melalui Pusat Kerukunan Umat Beragama bekerja sama dengan Muslim World League itu menarik perhatian luas karena mengangkat tema ekoteologi yang semakin relevan di tengah meningkatnya bencana di dunia, termasuk musibah yang kini melanda Sumatra.

Sekjen Muslim World League Syeikh Mohammed bin Abdulkarim Al Issa turut menyampaikan pandangan yang sejalan. Ia menjelaskan bahwa forum semacam ini sangat jarang diselenggarakan, bahkan di tingkat internasional. Syeikh Isa menekankan bahwa kerusakan lingkungan akan dirasakan oleh seluruh umat beragama tanpa membedakan keyakinan. (M-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik