Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Tanggap Darurat Bencana Sumatra, Kemendiktisaintek Konsolidasikan Posko 28 Perguruan Tinggi

Syarief Oebaidillah
03/12/2025 20:41
Tanggap Darurat Bencana Sumatra, Kemendiktisaintek Konsolidasikan Posko 28 Perguruan Tinggi
Ilustrasi(ANTARA)

KEMENTERIAN Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) bergerak  merespons musibah bencana yang menimpa Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Sebagai wujud kebijakan “Diktisaintek Berdampak”, kementerian mengonsolidasikan  Posko 28 Perguruan Tinggi  dan 11 Perguruan Tinggi Pendukung dalam Program Pengabdian kepada Masyarakat Tanggap Darurat Bencana.

Dalam keterangannya Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menegaskan komitmen pemerintah memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam penanganan bencana. Brian menegaskan perguruan tinggi bukan hanya pusat ilmu pengetahuan juga kekuatan kemanusiaan. Dalam situasi darurat seperti yang terjadi di Sumatra, kehadiran akademisi, peneliti, dan mahasiswa di lapangan menjadi wujud nyata bahwa ilmu, teknologi, dan inovasi harus bekerja untuk masyarakat.  "Kami memastikan seluruh sumber daya perguruan tinggi bergerak cepat, terkoordinasi, dan tepat sasaran,” tegas Menteri Brian.

Pihaknya telah menggelar Rapat Koordinasi Nasional pada Senin (30/11) dihadiri lebih dari 160 peserta dan menegaskan peran perguruan tinggi sebagai garda ilmiah tanggap darurat berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang berkoordinasi erat dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dan Kementerian Sosial (Kemensos). Perguruan Tinggi Posko bertindak sebagai pusat komando lapangan, sedangkan Perguruan Tinggi Pendukung menyediakan tenaga ahli dan teknologi, dan pendampingan intervensi.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman menambahkan keterlibatan perguruan tinggi menjadi bagian dari strategi pemulihan yang dijalankan berdasarkan kerangka penanganan terpadu.

“Program tanggap darurat bencana ini akan difokuskan pada delapan pilar utama, yaitu distribusi logistik, layanan kesehatan dan gizi, pendampingan psikososial, rehabilitasi sanitasi dan penyediaan air bersih:, pendidikan darurat, pemulihan ekonomi, dukungan administrasi publik, serta mitigasi dan edukasi kebencanaan. Pilar ini dirancang untuk memastikan respons yang tidak hanya cepat, tetapi juga berkelanjutan,” ujar Dirjen Fauzan dalam Pengarahan Tanggap Darurat Bencana Sumatera yang berlangsung secara daring di Jakarta.

Hasil asesmen lapangan mengidentifikasi sejumlah kebutuhan kritis yang masih belum terpenuhi, antara lain akses jalan yang terputus, jaringan komunikasi yang lumpuh, keterbatasan BBM, serta hambatan distribusi logistik yang mengharuskan penggunaan jalur alternatif. Pemetaan geografis, kapasitas perguruan tinggi posko, dan kebutuhan masyarakat menjadi dasar untuk memastikan intervensi yang tepat sasaran.

Program pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama, tanggap darurat hingga 31 Desember 2025, berfokus pada dukungan logistik, layanan kesehatan, penyediaan air bersih, sanitasi, pendidikan darurat, serta pemulihan awal. Tahap kedua, pemulihan (2026), mencakup kegiatan rehabilitasi, pemulihan ekonomi, dan program inovasi berbasis teknologi.

Setiap perguruan tinggi dapat mengajukan hingga lima proposal dengan plafon Rp500 juta. Anggaran bersifat fleksibel hingga 85% untuk mengakomodasi kebutuhan lapangan. Delapan bidang intervensi ditetapkan, mulai dari logistik hingga mitigasi dan edukasi kebencanaan.

Selain itu, perguruan tinggi akan membangun Posko yang menjangkau hingga wilayah terdampak termasuk daerah terpencil di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Intervensi yang disiapkan meliputi termasuk teknologi filtrasi air, desalinasi, dan sanitasi portabel. Namun kebutuhan dasar seperti tenda, dapur umum, Mandi Cuci Kakus (MCK), obat-obatan, air bersih, Bahan Bakar Minyak (BBM), dan internet darurat yang masih memerlukan percepatan.

Kemdiktisaintek juga melakukan langkah percepatan berupa Rapid Assessment berbasis Google Form, Bimbingan Teknis penyusunan proposal (1 Desember 2025), Penyempurnaan KAK dan format proposal, penyaluran logistik awal termasuk teknologi air bersih portabel, Sistem pelaporan berbasis bukti visual, Skema bantuan khusus bagi mahasiswa terdampak.

Gerak cepat perguruan tinggi di bawah koordinasi Kemendiktisaintek mempertegas bahwa riset, teknologi, dan inovasi adalah bagian integral dari misi kemanusiaan. Dengan semangat “Diktisaintek Berdampak”, perguruan tinggi hadir tepat waktu, tepat kebutuhan, dan berperan dalam pemulihan yang cepat, inklusif, dan berkelanjutan bagi masyarakat terdampak di Sumatra. (H-2)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya