Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Ketika Halaman Sekolah Menjadi Ruang Cerita: Upaya Menghidupkan Literasi di SDN 2 Kutoharjo

Media Indonesia
02/12/2025 19:37
Ketika Halaman Sekolah Menjadi Ruang Cerita: Upaya Menghidupkan Literasi di SDN 2 Kutoharjo
Kepala Sekolah SD Negeri 2 Kutoharjo, Kendal, Normalia Eka Pratiwi membacakan buku cerita di halaman sekolah kepada siswa(Dok. Tanoto Foundation)

PAGI itu halaman SD Negeri 2 Kutoharjo, Kendal, berubah menjadi ruang cerita sederhana. Anak-anak kelas satu duduk berdekatan dengan orang tua mereka, beberapa bersandar manja di pangkuan, sementara lainnya tidak sabar menebak isi cerita yang akan dibacakan.

Di tengah mereka, Kepala Sekolah SD Negeri 2 Kutoharjo, Kendal, Normalia Eka Pratiwi berdiri sambil memegang sebuah buku berukuran besar (big book) berjudul “Kesal”. Senyum hangatnya mengisi suasana, dan setiap halaman yang ia balik menampilkan gambar besar yang langsung mencuri perhatian.

“Apa menurut kalian ceritanya? Coba tebak dari gambar ini,” ujarnya sambil memperlihatkan ilustrasi penuh warna. Tawa dan teriakan anak-anak terdengar saling bersahutan. Para orang tua ikut tersenyum, menikmati waktu yang jarang mereka dapatkan pada hari sekolah biasa.

Di mata Normalia, kegiatan membaca bersama bukan sekadar program tahunan. Ia percaya bahwa budaya membaca tidak bisa tumbuh hanya di sekolah. Kebiasaan itu harus dibangun bersama keluarga sehingga ia selalu melibatkan orang tua sejak awal tahun ajaran.

Rumah adalah tempat pertama anak belajar, dan membaca adalah kebiasaan yang idealnya ikut tumbuh di dalamnya.

“Harapannya orang tua merasakan manfaatnya lalu membacakan cerita di rumah,” ucap Normalia.

Respons para orang tua sangat menguatkan langkahnya. Hampir semua dari 60 siswa kelas 1 hadir bersama pendamping. Ada ayah yang mengambil cuti kerja, ada ibu yang datang lebih pagi agar tidak terlambat. Mereka ingin melihat langsung bagaimana anak mereka belajar mengenal cerita dan huruf.

Dok. Tanoto Foundation- Orang tua siswa SD Negeri 2 Kutoharjo, Kendal membacakan buku cerita di halaman sekolah kepada siswa

Gagasan menggunakan big book ia dapatkan saat menjadi fasilitator daerah Program PINTAR Tanoto Foundation. Setelah mempelajarinya, ia membuat video pembelajaran di YouTube agar guru lain bisa mengikuti teknik membaca secara interaktif.

Baginya, ukuran besar pada big book bukan hanya soal visual, tetapi juga tentang bagaimana anak bisa membangun imajinasi dan mengenali cerita lebih mudah.

Normalia juga menggunakan pendekatan MIKiR, yaitu Mengalami, Interaksi, Komunikasi, dan Refleksi. Anak-anak diajak menebak isi cerita, berinteraksi dengan orang tua, bercerita kembali, lalu merenungkan pesannya. Semua proses itu membuat pengalaman membaca terasa hidup di mata anak-anak.

Kegiatan literasi yang ia bangun sejalan dengan kebijakan Pemerintah Kabupaten Kendal melalui Peraturan Bupati Nomor 49 Tahun 2024 tentang Literasi dan Numerasi. Aturan tersebut mendorong sekolah melaksanakan berbagai kegiatan literasi dan numerasi secara teratur.

Di sekolah yang ia pimpin, kegiatan membaca dilaksanakan setiap hari Selasa dan numerasi setiap hari Kamis. Anak-anak belajar menghitung sambil berbelanja di kantin, mengurutkan harga, hingga membaca label gizi. Cara belajar yang menyatu dengan aktivitas sehari-hari membuat materi terasa lebih bermakna.

Perjalanan Normalia di dunia pendidikan telah dimulai sejak 2006. Ia pernah dianugerahi predikat Guru Berprestasi Tingkat Kabupaten Tahun 2019 dan terlibat dalam berbagai program pelatihan seperti fasilitator nasional numerasi dan fasilitator guru penggerak.

Pengalaman panjang itu mengajarkannya bahwa perubahan dalam pendidikan sering berawal dari hal kecil yang konsisten dilakukan.

Dok. Tanoto Foundation - Kepala Sekolah SD Negeri 2 Kutoharjo, Kendal, Normalia Eka Pratiwi tanya jawab dengan siswa dalam sesi membaca di halaman sekolah kepada siswa

Meskipun kini memimpin sekolah, ia tetap memilih terjun langsung mengajar agar guru-guru dapat melihat contoh nyata. Baginya, kepala sekolah tidak hanya memimpin tetapi juga memberi teladan tentang bagaimana proses belajar yang baik dijalankan.

Usaha untuk melibatkan keluarga dalam kegiatan membaca mulai memperlihatkan hasil. Indeks literasi dan numerasi sekolah mengalami peningkatan meskipun bertahap. Normalia tahu bahwa perubahan membutuhkan waktu, tetapi setiap kemajuan sekecil apa pun memiliki arti besar.

Apa yang membuatnya terus bersemangat bukan penghargaan atau jabatan, melainkan momen ketika ia menyaksikan seorang anak yang awalnya kesulitan membaca akhirnya mampu memahami teks dengan lancar.

“Itu kebahagiaan luar biasa,” tuturnya pelan. Dari momen kecil seperti itulah ia menemukan alasan untuk terus berinovasi, membangun generasi yang tidak hanya cerdas tetapi juga memiliki karakter yang kuat.

Artikel ini adalah salah satu dari 25 artikel dalam rangkaian cerita penerima manfaat Tanoto Foundation. Sepanjang Desember 2025, kami menghadirkan sosok-sosok inspiratif yang membawa dampak bagi sesama lewat karya, ketekunan, dan perjalanan mereka. Nantikan setiap kisahnya. (RO/Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya