Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Teladan yang Menggerakkan Sekolah: Kisah Kepala Sekolah dari Dumai

Media Indonesia
03/12/2025 16:31
Teladan yang Menggerakkan Sekolah: Kisah Kepala Sekolah dari Dumai
Kepala Sekolah SMPN 014 Dumai, Riau, Rudi Chandra, bersama siswa.( Dok. Tanoto Foundation)

SETIAP pagi, ketika matahari baru naik di balik deretan rumah warga, gerbang SMPN 014 Kota Dumai sudah terbuka lebar. Di sanalah seorang kepala sekolah berdiri, menyambut satu per satu murid yang datang. Senyum itu adalah milik Rudi Chandra, sosok yang sejak tiga tahun terakhir menjadi nakhoda di sekolah dengan tantangan yang tidak kecil.

Saat pertama kali ditugaskan memimpin SMPN 014, Rudi tahu bahwa ini bukan sekadar penempatan kerja. Ia datang ke lingkungan yang membutuhkan banyak sentuhan, murid-murid yang tumbuh di situasi yang tidak selalu mudah, serta budaya sekolah yang memerlukan penyegaran.

Sebelum ia hadir, perilaku remaja yang kurang tertib kerap menjadi cerita harian di sekolah ini. Bagi sebagian murid, sekolah belum menjadi ruang yang menyenangkan. Di sisi lain, beberapa guru juga telah terlalu nyaman dengan rutinitas lama.

Ketika Rudi menanyakan mengapa sebagian guru tidak berada di kelas pada jam belajar, seorang guru senior menjawab datar, “Begitulah kami di sini, Pak.”

Jawaban itu bukan sekadar kalimat. Itu adalah cermin dari budaya kerja yang selama ini terbangun dan menjadi tembok besar yang harus ia runtuhkan.

“Saya datang bukan untuk menggurui. Saya percaya perubahan itu dimulai dari teladan,” tutur Rudi.

Ia lalu memperlihatkan foto-foto aktivitas ketika masih menjadi guru dan kepala sekolah di tempat sebelumnya, bukti bahwa ia tak pernah minta orang melakukan sesuatu yang tidak ia lakukan terlebih dahulu.

Perubahan dari Hal Sederhana

Dok. Tanoto Foundation/Kepala Sekolah SMPN 014 Dumai, Riau, Rudi Chandra, bersama guru dan siswa di ruang kelas

Karier mengajar Rudi dimulai dari ruang kelas. Setelah lulus sebagai sarjana Ekonomi Akuntansi pada 2002, ia menjadi guru bantu Akuntansi dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di SMAN 3 Dumai. Ia kemudian diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan mengajar IPS Terpadu di SMPN 2 Kota Dumai. Pengalaman itu semakin lengkap ketika ia mendapatkan amanah menjadi Kepala Sekolah di SMPN 8 Dumai pada 2017–2022.

Selain pendidikan formal di Magister Manajemen Pendidikan Universitas Riau, ia membawa satu bekal penting: pengalaman sebagai Fasilitator Daerah (Fasda) Program PINTAR Tanoto Foundation sejak 2018. Peran ini membentuknya menjadi pemimpin yang percaya bahwa perubahan harus dilakukan bersama, bukan sendiri-sendiri.

Perubahan di SMPN 014 dimulao Rudi lewat hal sederhana, tetapi butuh kedisiplinan tinggi, yaitu dengan datang lebih awal, memantau kelas satu per satu, dan memastikan setiap guru mengajar sesuai jadwal.

Ia kemudian membentuk tim guru untuk menjadi mentor bagi murid-murid yang membutuhkan bimbingan lebih dekat. Guru Bimbingan dan Konseling diperkuat perannya, ruang konseling dibuka setiap hari, dan pendampingan bagi murid dilakukan secara lebih intens.

“Kami ingin anak-anak merasa didengar, bukan dihukum,” ujar Pak Rudi.

Hasilnya mulai terlihat. Murid yang dulu kerap keluar-masuk kelas kini aktif mengikuti ekstrakurikuler silat. Ada pula yang mulai menemukan kepercayaan diri lewat tari, marching band, hingga klub seni.

“Kami hidupkan suasana sekolah. Ada klub Bahasa Inggris, seni, tahfiz, dan olahraga. Semua untuk menyalurkan energi dan kreativitas mereka,” kata Rudi.

Tidak hanya murid yang berubah. Di ruang guru pun angin baru mulai terasa. Guru-guru senior yang sebelumnya skeptis, perlahan ikut berbenah.

“Saya pikir saya sudah cukup mengajar. Ternyata saya masih bisa belajar,” ujar salah satu guru.

Bagi Rudi, momen-momen seperti itu adalah bahan bakar semangat yang tak ternilai.

Kiprahnya di Program Tanoto Foundation berlanjut dalam program Fasda Perubahan ataupun Literasi Numerasi Grant Project. Ia sudah melewati tahun ketiga dalam proyek ini.

Pada dua tahun pertama, Rudi menjadi ketua tim dan pada 2025 diberi kepercayaan menjadi pendamping untuk tim dari luar provinsi.

“Saya sungguh banyak belajar dari perjalanan bersama Tanoto Foundation, termasuk untuk mengelola proyek,” jelasnya.

Perjuangan dan pembelajaran Rudi yang tak pernah putus membuahkan hasil. Ia mendapatkan sejumlah penghargaan, di antaranya adalah Juara 2 Guru dan Tenaga Kependidikan Inovatif kategori Kepala Sekolah SMP tingkat Provinsi Riau.

Ia juga mendapat penghargaan dari Tanoto Foundation atas inisiatif praktik baik kepemimpinan yang berdampak pada peningkatan literasi dan numerasi di tingkat nasional.

Pengakuan ini menjadi motivasi tambahan bagi dirinya dan seluruh tim sekolah untuk terus berinovasi demi pembelajaran yang lebih baik.

Perjalanan yang Masih Panjang

Tentu, jalan perubahan tidak selalu mulus. Ada kalanya murid kembali melakukan kesalahan, guru merasa lelah, atau sebagian orang tua menyampaikan kritik. Namun bagi Rudi, pendidikan bukan perlombaan cepat, melainkan perjalanan panjang.

“Selama kita mau bekerja sama dan terus mencoba, perubahan itu pasti ada,” ucapnya.

Hari-hari di SMPN 014 kini terasa lebih hangat. Di gerbang sekolah, Rudi masih berdiri setiap pagi, menyambut para murid.

Bukan sekadar rutinitas, tetapi doa kecil yang ia titipkan pada setiap langkah siswa, bahwa suatu hari nanti mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat, percaya diri, dan membawa dampak baik. Seperti halnya perubahan yang ia bangun dan berdampak untuk orang sekitarnya.

Artikel ini adalah salah satu dari 25 artikel dalam rangkaian cerita penerima manfaat Tanoto Foundation. Sepanjang Desember 2025, kami menghadirkan sosok-sosok inspiratif yang membawa dampak bagi sesama lewat karya, ketekunan, dan perjalanan mereka. Nantikan setiap kisahnya. (RO/Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik