Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Jelang Natal dan Tahun Baru, BMKG Peringatkan Potensi Cuaca Ekstrem yang Bisa Picu Bencana

Atalya Puspa    
02/12/2025 09:55
Jelang Natal dan Tahun Baru, BMKG Peringatkan Potensi Cuaca Ekstrem yang Bisa Picu Bencana
Banjir di Semarang(Dok.MI)

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan seluruh pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi cuaca ekstrem menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Dalam Rapat Koordinasi Nataru, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan bahwa periode Desember hingga awal Januari merupakan fase kritis dengan tingginya aktivitas atmosfer yang dapat memicu bencana hidrometeorologi.

Faisal mengatakan hujan ekstrem, angin kencang, petir merusak, puting beliung, hujan es, dan jarak pandang terbatas masih menjadi jenis bencana yang dominan. “Trennya terus naik. Jawa Barat memimpin frekuensi kejadian hujan ekstrem dan angin kencang, disusul Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ini harus menjadi perhatian kita bersama,” ujarnya (1/12).

BMKG memproyeksikan peningkatan curah hujan pada minggu kedua Desember hingga awal Januari seiring aktifnya Monsoon Asia serta munculnya anomali atmosfer Madden Julian Oscillation, gelombang Kelvin, dan Rossby Equator. Seruak dingin Siberia dan potensi pertumbuhan bibit siklon tropis di selatan Indonesia juga diperkirakan dapat memperkuat hujan ekstrem.

Sejumlah wilayah yang perlu mewaspadai pembentukan bibit siklon antara lain Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa–Bali, NTB, NTT, Maluku, Papua Selatan, dan Papua Tengah. BMKG mengingatkan bahwa perubahan pola cuaca bisa terjadi sewaktu-waktu, seperti kasus Siklon Senyar yang sebelumnya memicu hujan ekstrem lebih dari 380 mm/hari di Aceh.

Pada periode 28 Desember hingga 10 Januari, hujan tinggi hingga sangat tinggi (300–500 mm per bulan) diperkirakan terjadi di sebagian besar wilayah Jawa, Bali, NTT, NTB, Sulawesi Selatan, dan Papua Selatan. Di sisi lain, potensi banjir rob juga meningkat di pesisir Jakarta, Banten, dan Pantura Jawa Barat akibat fase perigee dan bulan purnama di pertengahan Desember.

Untuk mendukung percepatan penanganan darurat dan distribusi logistik, BMKG bersama BNPB mengoperasikan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di tiga bandara: Sultan Iskandar Muda (Aceh), Kualanamu (Sumut), dan Bandara di Padang. Operasi berupa penyemaian NACL atau Calcium Oxide dilakukan untuk mengalihkan hujan dari wilayah terdampak atau mencegah hujan di area rawan. “OMC hanya bisa dilakukan bila gubernur menetapkan status siaga darurat. Tanpa itu, operasi tidak bisa dijalankan karena biaya dan risikonya sangat besar,” kata Faisal.

Mendagri menilai dua kejadian besar banjir bandang dan longsor di Cilacap–Banjarnegara serta rangkaian bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menjadi pengingat bahwa bencana dapat terjadi kapan saja. “Kita belum tahu apa yang menghadang ke depan. Sama seperti yang terjadi di Sumatera Utara, kejadiannya sangat cepat dan kita mungkin kurang siap,” ujarnya.

Faisal menekankan pentingnya pemanfaatan informasi peringatan dini menjadi langkah nyata di lapangan. Ia meminta pemerintah daerah aktif berkonsultasi dengan Balai Besar BMKG, memperkuat rapat koordinasi dengan Forkopimda, serta memaksimalkan sistem respons dini. “Early warning menimbulkan early action menuju zero victim,” tutupnya. (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya