Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Awas, Hiking Bisa Picu Hipertensi Paru Bagi Pasien Berisiko

Basuki Eka Purnama
29/11/2025 19:21
Awas, Hiking Bisa Picu Hipertensi Paru Bagi Pasien Berisiko
Ilustrasi(Freepik)

DOKTER Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Subspesialis Pencegahan dan Rehabilitasi Kardiovaskular Rumah Sakit Universitas Indonesia (RS UI) dr. dr. Hary Sakti Muliawan, Ph.D., Sp.JP, Subsp.PRKv.(K) mengatakan aktivitas hiking atau mendaki di dataran tinggi bisa berpotensi menyebabkan hipertensi paru pada pasien yang berisiko.

"Ini agak unik sih, atlet atau orang-orang yang suka hiking, ke pegunungan itu saturasi oksigennya rendah dan itu kadang-kadang bisa mencetuskan hipertensi paru," ujar Hary, dikutip Sabtu (29/11).

Ia menambahkan kondisi udara dengan oksigen rendah bisa menyebabkan peningkatan tekanan paru yang membuat jantung kanan bekerja ekstra memompa darah ke paru-paru.

Namun, hipertensi paru tidak begitu saja dialami secara umum bagi individu yang gemar hiking, pasien yang berisiko yakni mereka dengan kondisi penyakit jantung bawaan, penyakit autoimun seperti lupus, gangguan pada paru seperti TBC serta asma, hingga ibu hamil.

Pasien berisiko dapat mengalami hipertensi paru dengan gejala seperti sesak napas usai beraktivitas ringan seperti biasa, kelelahan, bengkak usai melakukan pendakian. 

Hary pun menyarankan agar kondisi yang dianggap tak biasa ini sebaiknya tidak diabaikan dan segera melakukan konsultasi ke dokter spesialis jantung dan spesialis paru untuk memastikan kondisi sehingga mendapatkan perawatan yang tepat.

Pasien dengan risiko tersebut disarankan untuk melakukan pemeriksaan untuk memastikan kapasitas fisik dan menentukan aktivitas fisik yang tepat.

"Kita periksa dulu kapasitas fisiknya sebesar apa, biasanya kita ada hitungan yang kita turunkan dari kapasitas maksimal kita turunkan 80% sehingga dia bisa (olahraga)," kata Hary.

Dia menyarankan agar pasien dapat melakukan konsultasi dengan dokter spesialis jantung atau paru di rumah sakit dengan fasilitas yang mumpuni untuk mengetahui intensitas olahraga yang tepat.

Sementara itu, bagi masyarakat yang tinggal di dataran tinggi, lanjut dia, tidak secara merata semua masyarakat dapat terkena hipertensi paru, penyakit ini dapat terjadi pada masyarakat yang berisiko.

"Tapi, lagi-lagi ini sifatnya genetik ya, jadi ada beberapa orang yang memang punya kerentanan terhadap genetik tersebut. Maka, tinggal di ketinggian itu hanya menjadi pencetus hipertensi paru. Tidak otomatis semua yang tinggal di ketinggian itu akan terjadi hipertensi paru, tidak juga," tegasnya.

Kemudian untuk perokok aktif, menurutnya, hipertensi dapat terjadi yang disebabkan penyakit atau gangguan paru yang berat lalu kemudian berkembang menjadi hipertensi paru alias menjadi penyakit sekunder.

Hipertensi paru merupakan gangguan berupa tekanan darah tinggi yang terjadi pada pembuluh darah atau arteri paru yang menyebabkan jantung kanan bekerja lebih keras untuk memompa darah ke paru-paru.

Gangguan ini menyebabkan penyumbatan, penyempitan hingga merusak pembuluh darah paru yang pada akhirnya membuat pasien menjadi sesak napas, nyeri dada, kelelahan usai beraktivitas ringan hingga pusing. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya