Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Bencana 2025 Didominasi Jenis Hidrometeorologi Basah

M Iqbal Al Machmudi
27/11/2025 11:12
Bencana 2025 Didominasi Jenis Hidrometeorologi Basah
Bencana banjir di Kendari(ANTARA/Andry Denisah)

DIREKTUR Sistem Penanggulangan Bencana BNPB, Agus Wibowo, menyebut mayoritas jenis bencana yang mendominasi wilayah Indonesia pada tahun 2025 adalah hidrometeorologi basah sebanyak 2.112 kejadian atau sekitar 60,83%.

"Bencana hidrometeorologi basah yang paling banyak terjadi adalah banjir 1.324 bencana diikuti cuaca ekstrem 575 kasus, tanah longsor 197 kasus dan gelombang pasang/abrasi 16 kasus," kata Agus dalam Forum Diskusi Denpasar 12 secara daring, Rabu (26/11). 

Meski begitu Agus menyebut jumlah korban dan kerugian materialnya semakin lama semakin turun, walaupun bencananya naik. "Artinya ini penanggulan bencana bisa secara signifikan juga mengurangi. Paling penting kan mengurangi dampak, kerugian tentunya juga korban jiwa," ujarnya.

Diketahui bahwa 99% bencana di Indonesia merupakan bencana hidrometeologi. Kemudian sekitar 0,79% merupakan bencana geologi. "Sehingga kita bisa lihat dengan cepat bahwa bencana yang paling dominan di Indonesia 99% adalah bencana hidrometeologi," jelasnya.

Bencana hidrometeologi biasanya dibagi menjadi dua yaitu hidromete kering dan hidromete basah. Hidromate kering yaitu kekeringan dan hidromate basah salah satunya banjir bandang. 

Sementara itu, Direktur Eksekutif Yayasan Madani Berkelanjutan, Nadia Hadad, menjelaskan Indonesia harus siap menghadapi bencana-bencana yang akan terjadi ke depan dengan cara adaptasi, early warning system, edukasi publik, perlindugan masyarakat adat, dan perlindungan terhadap masyarakat rentan. 

"Selain itu juga memberhentikan penyebab perubahan iklim itu eperti mengubah cara kita untuk mengurangi emisi secara real, beralih dari fossil fuel ke energi terbarukan, menghentikan deforestasi, pendanaan dialihkan pendanaan yang tadinya untuk proyek-proyek industri yang merusak, tapi ke lebih yang terbarukan atau yang rendah emisi dan perbaikan tata kelolaan," paparnya.

Dengan begitu bisa diharapkan bencana tidak meningkat dari tahun ke tahun.(M-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya