Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

1.000 Porsi Sehari, Kisah Dapur MBG Makassar Wujudkan Gizi Anak

Lina Herlina
24/11/2025 17:46
1.000 Porsi Sehari, Kisah Dapur MBG Makassar Wujudkan Gizi Anak
Ilustrasi(ANTARA/NOVA WAHYUDI)

PUKUL 03.00 Wita, ketika Kota Makassar masih terlelap, Nur Syahidah Imran sudah memastikan bumbu tempe orek matang sempurna. Cahaya lampu neon menerangi Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Berkah Amanah di Kelurahan Tello Baru, tempat 47 karyawan—70 persen di antaranya warga sekitar—memulai aktivitas sejak hari sebelumnya.

Sebagai Ahli Gizi SPPG, Syahidah mengawasi proses produksi dengan presisi.

“Kami kupas dan potong wortel mulai jam 3 sore. Untuk tempe orek, penggorengannya jam 6–7 malam, lalu kami wrapping. Bumbu oreknya baru dimasak paling lambat jam 3 subuh,” ujar Syahidah.

Dengan operasional mencapai 1.000 porsi per hari dan anggaran sekitar Rp3 juta, aktivitas memasak menjadi perlombaan dengan waktu.

Holding time maksimal 4 jam. Kami harus tepat waktu agar makanan masih hangat dan bergizi saat sampai ke anak-anak,” tambahnya.

Selain ketepatan waktu, variasi menu dan kondisi khusus siswa juga diperhatikan.

“Kami mendengarkan usulan siswa dan guru agar tidak bosan, serta memperhatikan anak dengan alergi tertentu,” jelas Syahidah.

Pukul 08.00, dua kendaraan roda empat mulai mendistribusikan makanan. Tahap pertama untuk murid TK–SD, kemudian menyusul sebelum pukul 09.00 untuk siswa SMP–SMA. Makanan dalam wadah stainless steel diharapkan tetap hangat hingga jam istirahat pertama.

Di tempat terpisah, Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman hadir dalam Sosialisasi Anti Korupsi dan Bimtek Akuntabilitas Keuangan bagi SPPG yang digelar Badan Gizi Nasional (BGN).

“Kami berharap program Asta Cita dari Bapak Presiden Prabowo Subianto, khususnya terkait pemenuhan gizi masyarakat, dikelola secara profesional, tepat sasaran, dan bebas dari praktik koruptif,” tegas Gubernur di hadapan ribuan peserta.

Peringatan ini beralasan. Deputi Bidang Penyediaan dan Penyaluran BGN, Brigjen (Purn) Suardi Samiran, mengungkapkan kondisi riil standar dapur gizi di Sulsel.

“Ada 625 SPPG terdaftar, 536 beroperasi melayani 1,39 juta penerima manfaat. Namun baru 46 SPPG yang memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi,” ungkap Suardi.

Ia menegaskan bahwa SPPG adalah garda terdepan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Tujuan akhirnya untuk mencapai Indonesia Emas 2045,” ujarnya.

Suardi juga menyoroti pentingnya kepatuhan terhadap standar keamanan pangan.

“Penjamah makanan, dari memasak hingga pemorsian, harus benar-benar sesuai aturan. Yang utama adalah higienitas dan kecukupan gizinya. Jangan asal-asalan,” lanjutnya.

Antisipasi risiko keracunan juga ditekankan, termasuk kewajiban higiene dan kesehatan penjamah.

Di SMK Kartika XX-1 Makassar, program MBG memberikan perubahan signifikan. Kepala Sekolah Muhammad Rum menyampaikan antusiasme siswanya.

“Hampir semua dari sekitar 400 siswa mengatakan makanannya bagus. Semua bilang ‘oke, oke, tambah lagi’,” ungkapnya.

Ia menyebut program ini meningkatkan motivasi siswa untuk hadir ke sekolah.

“Tadinya ada yang malas masuk. Sekarang mereka penasaran ingin mencoba MBG. Ternyata enak sekali,” ujarnya.

Manfaat juga dirasakan langsung oleh para siswa. Fathir Ahmad Azzamy, siswa SMK Kartika, mengatakan, “Selain enak dan bergizi, kami juga bisa berhemat uang jajan.”

Siswa lainnya, Chelsea Paonganan, menyampaikan hal serupa. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik