Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
DI tengah kesibukan dan kemudahan teknologi modern, banyak masyarakat semakin terjebak dalam gaya hidup yang kurang bergerak (sedentary). Padahal, kurangnya aktivitas fisik secara konsisten menjadi salah satu faktor risiko utama penyebab berbagai penyakit serius yang kini semakin umum terjadi.
Para ahli kesehatan, termasuk Kementerian Kesehatan RI, secara tegas memperingatkan bahwa kurangnya gerakan merupakan pintu gerbang menuju penyakit tidak menular (PTM) yang dapat mengancam kualitas hidup.
Seseorang dikategorikan sebagai kurang aktivitas fisik jika mereka melakukan aktivitas fisik sedang (intensitasnya dapat meningkatkan denyut jantung) kurang dari 150 menit per minggu, atau melakukan aktivitas fisik berat (intensitasnya dapat membuat napas terengah-engah) kurang dari 75 menit per minggu.
Angka ini adalah batas minimum yang dibutuhkan tubuh untuk menjaga metabolisme tetap optimal dan mencegah penyakit.
Kurang bergerak menyebabkan tubuh kehilangan kemampuan alami untuk meregulasi berbagai fungsi vital. Salah satu dampak paling berbahaya adalah peningkatan risiko penyakit kardiovaskular (penyakit jantung dan pembuluh darah).
Ketika tubuh kurang aktif, lemak dan kolesterol mudah menumpuk, menyebabkan penyumbatan pembuluh darah (aterosklerosis) yang berujung pada serangan jantung dan stroke.
Selain penyakit kardiovaskular, gaya hidup sedenter juga berkontribusi pada:
Kanker Tertentu: Kurangnya aktivitas fisik juga dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker usus besar, payudara, dan rahim.
Aktivitas fisik tidak harus selalu berupa olahraga berat di gym. Berjalan kaki, naik turun tangga, bersepeda, atau membersihkan rumah secara intensif sudah termasuk dalam aktivitas fisik sedang.
Sumber: pkmjakenan.patikab.go.id, kemkes.go.id, mediaindonesia.com
“Cakupannya yang tahun lalu dilakukan di puskesmas dan sekolah, tahun ini kita mau lakukan di tempat kerja. Termasuk DPR RI,”
Food Policy Fellowship 2025 yang diselenggarakan oleh Pijar Foundation bekerja sama dengan Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan, resmi ditutup.
Jakarta membutuhkan langkah terstruktur untuk menekan peningkatan obesitas dan diabetes.
Obesitas dan diabetes, dua penyakit kardiovaskular yang semakin meningkat di Indonesia, tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga menimbulkan beban sosial dan ekonomi.
Fakta terungkap dari data kesehatan terbaru di Provinsi Sulawesi Barat, hipertensi, yang kerap dianggap sebagai penyakit orang dewasa, kini mulai mengancam generasi muda Sulawesi Barat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved