Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
Negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, menegaskan komitmen bersama untuk memperkuat peran kehutanan sosial, solusi berbasis alam (Nature-based Solutions/NbS), dan pendekatan berbasis ekosistem (Ecosystem-based Adaptation/EbA) sebagai pilar utama dalam aksi iklim kawasan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam Talk Show Kehutanan Sosial di Paviliun ASEAN pada Konferensi Perubahan Iklim PBB COP30 di Belém, Brasil (17/11).
Dalam forum tersebut ditegaskan bahwa hutan di Asia Tenggara bukan hanya sumber daya alam, tetapi juga penopang kehidupan ekonomi, budaya, keanekaragaman hayati, dan ketahanan iklim.
"Oleh karena itu, negara-negara ASEAN memasukkan kehutanan sebagai bagian penting dalam dokumen kontribusi iklim (NDC) serta visi jangka panjang kawasan seperti ASEAN Vision 2045," ujar Direktur Penyelesaian Konflik Teburial dan Hutan Adat, Ditjen Kehutanan Sosial, Kemenhut, Julmansyah.
Hingga saat ini, kawasan ASEAN memiliki lebih dari 206 juta hektare hutan, sekitar separuh dari total daratan ASEAN, menjadikannya salah satu kawasan hutan tropis paling strategis di dunia. Untuk memperkuat kontribusi sektor kehutanan, ASEAN telah menyelesaikan pedoman penerapan NbS dan EbA dalam pengelolaan hutan lestari dan perhutanan sosial. Pedoman ini dikembangkan secara kolaboratif dengan dukungan organisasi regional dan mitra internasional, serta dirancang berbasis ilmu pengetahuan, berpihak pada masyarakat, dan berorientasi pada keberlanjutan jangka panjang.
Dalam penyampaian posisi bersama di COP30, ASEAN menegaskan dua prioritas utama, yaitu pendanaan iklim yang berkelanjutan dan dapat diprediksi dan penguatan kapasitas teknis dan institusional.
"ASEAN menekankan pentingnya pembiayaan yang mendukung perlindungan, pemulihan, dan pengelolaan hutan lestari untuk mencapai target NDC, termasuk implementasi REDD+, NbS, dan pendekatan berbasis ekosistem," tuturnya.
Negara-negara ASEAN menilai perlunya peningkatan kemampuan dalam sistem pengukuran, pelaporan, dan verifikasi (MRV), akuntansi karbon, dan transparansi iklim di bawah kerangka Paris Agreement. Kerja sama regional, transfer teknologi, dan pertukaran pengetahuan menjadi elemen kunci.
Menutup sesi diskusi, Julmansyah menekankan bahwa ASEAN bergerak maju dengan suara kolektif untuk memastikan kehutanan sosial, NbS, dan EbA menjadi fondasi utama aksi iklim kawasan, dengan hutan sebagai benteng, masyarakat sebagai pelaku utama, dan keberlanjutan sebagai tujuan akhir. (E-3)
Upaya Indonesia mencapai target Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030 masih menghadapi tantangan fundamental yaitu kesenjangan pendanaan yang masif.
Idealnya pemerintah harus menghadirkan kebijakan yang akan dapat membuat masyarakat mampu melakukan adaptasi pada perubahan iklim.
Icheiko Ramadhanty terbang ke Brasil untuk menghadiri forum iklim terbesar di dunia, COP30, sebagai satu dari 16 pemimpin muda Selatan Global yang hadir di Belem.
PBB menegaskan dunia belum memenangkan perang melawan krisis iklim setelah COP30 di Belém menghasilkan kesepakatan yang dianggap minim terobosan.
Indonesia resmi menutup rangkaian kegiatan Paviliun Indonesia di COP30 dengan tema Accelerating Substantial Actions of Net Zero Achievements through Indonesia’s High Integrity Carbon.
Keberhasilan Indonesia mencapai target Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030 sangat bergantung pada percepatan restorasi gambut.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved