Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
TRANSFORMASI besar saat ini yang didorong integrasi teknologi digital pada hampir tiap aspek praktik medis sejatinya tidak boleh mengabaikan kesejahteraan holistik.Untuk itu, keseimbangan antara kemajuan teknologi dan kesejahteraan holistik dipandang penting dalam pelayanan kesehatan.
Demikian disampaikan Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat dan Kerjasama Universitas Nasional (Unas) Prof Ernawati Sinaga pada The 3rd International Conference on Health Sciences (ICHS) secara hybrid, di Jakarta.
Erna mengingatkan kesehatan sejati bukan hanya terbebas dari penyakit, melainkan juga kondisi sejahtera secara fisik, mental, sosial, dan spiritual. Karena itu, kemajuan teknologi harus tetap berpihak pada kesejahteraan manusia seutuhnya.
Menurut dia, era digital tidak boleh menggeser nilai-nilai kemanusiaan dalam pelayanan kesehatan. “Layanan kesehatan sejati di era digital harus menggabungkan kekuatan inovasi dengan pemahaman mendalam mengenai kebutuhan manusia secara menyeluruh,” pungkas Erna.
Turut hadir pada konferensi internasional bertajuk Pelayanan Kesehatan di Era Digital: Mengintegrasikan Teknologi dan Kesejahteraan Holistik yang digelar Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Unas itu, Dekan Fikes Unas Prof Retno Widowati dan Ketua Pelaksana ICHS 2025 Dayan Hisni.
Dekan Fikes Unas Prof Retno Widowati menyampaikan tema tahun ini amat relevan dengan tantangan zaman yakni terkait dengan telemedicine yang menjembatani jarak, serta bagaimana perangkat digital mampu memantau kesehatan secara real-time.
"Namun, yang lebih penting, kita ingin menggabungkan inovasi teknologi dengan kesejahteraan holistik yang menyentuh tubuh, pikiran, dan jiwa.
Sinergi antara ilmu, teknologi dan kemanusiaan amat penting. Teknologi hanya akan bermakna jika digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia," terangnya.
Ia juga mengajak para peneliti, akademisi, dan praktisi kesehatan dari Jakarta, Vietnam, Jepang, Thailand, dan Korea Selatan, pada konferensi tersebut untuk memiliki satu visi bersama yaitu, pelayanan kesehatan yang lebih baik bagi semua. "Sebab kami percaya, kolaborasi merupakan vaksin terbaik untuk melawan keterbatasan,” pungkas Retno.
Ketua Pelaksana ICHS Dayan Hisni menambahkan konferensi internasional ini menjadi bagian rangkaian Dies Natalis ke-76 Unas, sekaligus forum akademik lintas negara dari Indonesia serta mancanegara.
"ICHS ke-3 ini bertujuan memperkuat jejaring kolaborasi antarpeneliti pada bidang ilmu kesehatan, memperluas publikasi ilmiah, serta membuka ruang pertukaran pengetahuan global. Melalui konferensi ini, peserta berkesempatan mempresentasikan hasil penelitian dan mempublikasikannya di jurnal internasional bereputasi," ujarnya.
Menurut dia, konferensi ini amat penting lantaran pada saat yang sama revolusi digital membawa era baru layanan kesehatan. Inovasi seperti telemedis, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), rekam medis elektronik dan wearable health tracker mengubah cara layanan kesehatan diberikan dan dinikmati.
"Maka itu, diperlukan forum ilmiah yang mempertemukan para pakar untuk bersinergi dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Konferensi ini bukan hanya tentang inovasi, melainkan juga tentang cara teknologi bisa memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dalam praktik kesehatan," kata Dayan.
Konferensi internasional yang dipandu oleh moderator Febry Mutiariami Dahlan dan Tommy J F Wowor tersebut menghadirkan lima narasumber dari berbagai negara, antara lain, Tran Thi Hong Hanh (Nam Dinh University of Nursing, Vietnam), Prof Toshiko Tomisawa (Jepang), Parichat Wonggom (Thailand), Norma Latif Fitriyani (Korea Selatan), serta Dayan Hisni (Indonesia). (H-2)
IDAI juga menekankan pentingnya dukungan pemerintah daerah dalam pemenuhan fasilitas kesehatan anak.
Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, Azhar Jaya, memaparkan lokasi 66 rumah sakit tersebut tersebar di berbagai wilayah.
Penonaktifan peserta PBI JKN dan PBPU dilakukan tanpa ukuran yang jelas dan berpotensi mengorbankan warga miskin.
MASYARAKAT saat ini dinilai tidak hanya menginginkan pengobatan untuk penyakit yang dialami.
KAI Divre I Sumatra Utara saat ini telah mengelola enam titik layanan kesehatan strategis, yaitu Klinik Mediska Medan, Pulobrayan, Binjai, Tebing Tinggi, Kisaran, dan Siantar.
KOLABORASI disebut sebagai salah satu hal utama yang harus dikuatkan untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan lintas negara. khususnya antara Indonesia dan Malaysia.
Agenda transformasi sistem kesehatan nasional yang dicanangkan pemerintah kembali diwujudkan melalui penguatan infrastruktur layanan rumah sakit rujukan.
Transformasi digital dalam pengelolaan kesehatan sejalan dengan semangat pemerintah yang sedang menerapkan digitalisasi menyeluruh pada operasional rumah sakit.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved