Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA bertahun-tahun, kopi sering dianggap sebagai minuman yang dapat memicu detak jantung tidak teratur. Bagi penderita fibrilasi atrium atau A-fib, anjuran untuk menghindari kopi sebagai minuman berkafein sudah menjadi hal umum di kalangan tenaga medis.
Kabar gembira bagi penderita yang ingin minum kopi. Sebuah studi terbaru justru menunjukkan anggapan tersebut mungkin perlu ditinjau kembali.
Fibrilasi atrium adalah gangguan irama jantung yang menyebabkan detak jantung menjadi tidak teratur dan sering kali berdetak lebih cepat dari yang seharusnya. Kondisi ini terjadi ketika sinyal listrik di ruang atas jantung (atrium) menjadi kacau, sehingga membuat jantung berdebar, terasa bergetar, atau berdetak tidak menentu.
Penelitian bertajuk Does Eliminating Coffee Avoid Fibrillation (Decaf) menemukan konsumsi kopi tidak selalu berdampak negatif bagi penderita gangguan irama jantung. Studi yang melibatkan 200 pasien dengan fibrilasi atrium persisten ini menunjukkan kelompok yang tetap mengonsumsi kopi justru memiliki risiko kekambuhan lebih rendah dibanding kelompok yang tidak meminumnya. Persentasenya adalah sebesar 47% dan 64%.
Temuan ini dipublikasikan The Journal of the American Medical Association dan disampaikan dalam konferensi American Heart Association di New Orleans. Hasilnya menantang pandangan lama bahwa kafein dapat memperburuk kondisi jantung. Gregory Marcus, ahli jantung sekaligus profesor kedokteran di University of California, San Francisco, menyebut kopi berkafein tampak memiliki efek perlindungan terhadap risiko kambuhnya fibrilasi atrium.
Uji klinis tersebut berlangsung selama enam bulan dan melibatkan peserta lanjut usia dari Amerika Serikat, Kanada, dan Australia yang sebelumnya merupakan peminum kopi rutin. Para peserta dibagi secara acak menjadi dua kelompok, mereka yang berhenti mengonsumsi kafein dan mereka yang tetap minum setidaknya satu cangkir kopi per hari. Selama penelitian, tim memantau kondisi jantung para peserta melalui pemeriksaan elektrokardiogram dan alat pemantau detak jantung yang dapat dikenakan.
Hasil pengamatan menunjukkan peserta yang tetap minum kopi memiliki kemungkinan 17% lebih rendah mengalami kekambuhan. Mereka juga cenderung memiliki waktu bebas gejala yang lebih panjang dibanding peserta yang tidak mengonsumsi kopi.
Meski demikian, Marcus menekankan hasil tersebut masih perlu diteliti lebih lanjut. Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, seperti tidak memperhitungkan sumber kafein lain selain kopi dan tidak mengamati perbedaan pola makan atau aktivitas fisik peserta.
Johanna Contreras, ahli jantung di Mount Sinai Fuster Heart Hospital, New York, turut menanggapi hasil penelitian ini. Menurutnya, penderita fibrilasi atrium tidak perlu sepenuhnya menghindari kopi, asalkan dikonsumsi secara wajar. “Penelitian ini menunjukkan bahwa Anda masih dapat menikmati secangkir kopi di pagi hari dan tetap baik-baik saja meskipun memiliki A-fib,” ujarnya.
Dengan kata lain, bagi penderita gangguan irama jantung, kopi bukan lagi sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya. Moderasi tetap menjadi kunci karena pada akhirnya, yang membedakan racun dan obat adalah seberapa banyak seseorang mengonsumsinya. (The Guardian/Z-2)
Kita jarang membayangkan bahwa kondisi yang mengancam jiwa, seperti serangan jantung atau stroke, bisa terjadi pada diri sendiri.
Fibrilasi atrium (FA) adalah salah satu gangguan irama jantung yang paling umum ditemui di seluruh dunia. Kondisi ini menyebabkan detak jantung tidak teratur dan cepat
Fibrilasi atrium adalah kondisi ketika serambi (atrium) jantung berdenyut sangat cepat dan tidak beraturan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved