Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Psikolog: Siswa Terduga Pelaku Ledakan SMAN 72 Bisa Jadi Korban dari Sistem yang Gagal

Devi Harahap
09/11/2025 13:50
Psikolog: Siswa Terduga Pelaku Ledakan SMAN 72 Bisa Jadi Korban dari Sistem yang Gagal
Peristiwa ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta, Jumat (7/11).(Antara)

PSIKOLOG anak dan remaja, Sani Budiantini Hermawan menilai dugaan keterlibatan siswa dalam peristiwa ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta tidak bisa semata-mata dilihat sebagai tindakan pelaku tunggal. 

Sani menekankan bahwa anak tersebut justru bisa menjadi korban dari sistem pendidikan yang belum mampu memberikan ruang aman bagi peserta didik.

“Kalau kita berbicara mengenai anak, mari kita berhati-hati. Terduga pelaku yang masih berstatus siswa juga merupakan korban dari sistem. Kita tidak bisa langsung menyalahkan anak, karena mungkin saja sistem di sekitarnya belum terwujud dengan baik,” ujar Sani saat dikonfirmasi, Minggu (9/11).

Menurut Sani, kondisi emosional anak di sekolah sangat dipengaruhi oleh lingkungan, terutama interaksi dengan teman sebaya dan perhatian dari guru. 

Ia menjelaskan, lemahnya sistem pemantauan di sekolah kerap membuat anak rentan menjadi korban perundungan atau mengalami tekanan sosial yang tidak tertangani.

“Ketika anak menjadi korban bully, ia bisa menyimpan emosi yang sangat dalam. Kalau tidak ada tempat aman untuk berdialog dan menyalurkan perasaannya, emosi itu bisa meledak dalam bentuk perilaku agresif,” jelasnya.

Sani menegaskan pentingnya sekolah membangun sistem dukungan psikologis yang nyata bagi siswa, termasuk ruang konsultasi dan pendampingan yang terbuka.

“Saya bilang, sekolah harus menjadi tempat aman bagi anak untuk berdialog tentang apa yang dirasakannya. Jangan sampai anak mencari pelampiasan lewat cara yang salah, apalagi melalui konten atau tindakan agresif,” tutur Sani.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa perilaku agresif pada anak bisa muncul karena pengaruh lingkungan digital yang salah. Anak yang merasa tidak memiliki dukungan emosional bisa meniru perilaku ekstrem yang dilihatnya di internet.

“Bisa jadi anak ini memiliki role model yang keliru, misalnya tokoh-tokoh yang pernah melakukan tindakan kekerasan atau penyerangan. Ketika emosi tidak tersalurkan, anak bisa meniru hal itu sebagai bentuk ekspresi yang salah,” ucapnya.

Selain itu. Sani menambahkan bahwa kondisi kejiwaan anak dipengaruhi dua hal utama yaitu karakter bawaan dan lingkungan sosialnya.

“Anak yang cenderung introvert biasanya lebih sulit terbuka dibandingkan anak ekstrovert. Ditambah lagi kalau sistem di rumah tidak kondusif misalnya orang tua sibuk dan kurang berdialog, maka tekanan itu semakin berat,” ujarnya.

Di samping itu, Sani menilai tindakan ekstrim seperti ledakan bisa memiliki banyak makna dari sisi psikologis.

“Bisa saja itu bentuk pesan, bahwa anak tersebut tidak suka dengan perundungan yang ia alami. Bisa juga sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem sekolah, atau sekadar pelampiasan emosi akibat frustrasi,” kata Sani.

Ia menegaskan bahwa kasus seperti ini menjadi peringatan penting bagi dunia pendidikan untuk memperkuat sistem perlindungan dan kesejahteraan psikologis siswa.

“Anak membutuhkan sistem yang bisa melindungi dirinya, bukan sekadar mengatur perilakunya. Sekolah dan keluarga harus berperan aktif agar anak merasa aman, diterima, dan punya tempat untuk bercerita,” pungkasnya. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik