Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Mengenal PET/CT dan SPECT/CT, Inovasi Teknologi Nuklir untuk Deteksi Dini Kanker

 Gana Buana
07/11/2025 20:10
Mengenal PET/CT dan SPECT/CT, Inovasi Teknologi Nuklir untuk Deteksi Dini Kanker
PET/CT dan SPECT/CT adalah teknologi nuklir canggih yang memungkinkan deteksi dini sel kanker.(Freepik)

Kanker masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia, dengan jumlah kasus yang terus meningkat setiap tahunnya. Padahal, menurut data Kementerian Kesehatan, hingga 50% kasus kanker dapat dicegah apabila dideteksi dan ditangani sejak dini.

Tantangan utama yang dihadapi selama ini adalah keterlambatan diagnosis akibat terbatasnya akses terhadap teknologi pencitraan medis canggih. Teknologi seperti PET/CT dan SPECT/CT akan menjadi game-changer dalam penanganan kanker di Indonesia.

Dokter Spesialis Kedokteran Nuklir RS Mitra Keluarga Bekasi Timur, Esther Devina Panjaitan, menyampaikan, PET Scan bekerja berbeda dari CT scan atau MRI konvensional.

“Kalau pemeriksaan biasa hanya melihat ukuran tumor, apakah mengecil atau membesar, PET Scan bisa melihat aktivitas selnya. Kita bisa tahu apakah sel kanker masih aktif atau sudah tidak aktif lagi,” jelasnya kemarin.

Menurut dia, dengan mendeteksi aktivitas metabolisme sel, PET Scan mampu menilai kondisi organ dengan presisi tinggi, bahkan sebelum terjadi perubahan bentuk. Artinya, potensi kanker bisa diketahui lebih dini, saat masih mudah ditangani.

Namun, kata dia, kekhawatiran masyarakat terhadap teknologi nuklir sering kali muncul, terutama soal paparan radiasi. Namun, Esther memastikan bahwa pemeriksaan PET Scan aman bagi pasien maupun lingkungan.

“Radiofarmaka yang digunakan, seperti F18 FDG, memiliki waktu peluruhan hanya sekitar dua jam. Setelah itu akan hilang dengan sendirinya,” ujarnya.

Sesuai aturan ketat Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), lanjut dia, pasien hanya diminta berganti pakaian untuk mencegah kontaminasi. Setelah diperiksa dan dinyatakan aman, pasien bebas beraktivitas seperti biasa.

Siapa yang Bisa Menjalani PET Scan?

Esther mengatakan, PET/CT dan SPECT/CT dapat digunakan untuk berbagai kondisi, terutama pemeriksaan kanker, baik pada tahap diagnosis, pemantauan terapi, hingga deteksi kekambuhan.

Namun, Esther menambahkan, teknologi ini juga bisa digunakan untuk skrining dini, terutama bagi orang dengan riwayat keluarga kanker atau faktor risiko genetik tinggi.

“Sebelum ada kerusakan struktur organ, PET Scan sudah bisa mendeteksi kelainan pada metabolisme sel. Jadi pemeriksaan ini bisa menjadi bagian dari medical check-up bagi kelompok berisiko tinggi,” jelasnya.

Direktur RS Mitra Keluarga Bekasi Timur, Yudistira Wastu Putra, mengatakan, peningkatan kasus kanker menuntut pihaknya untuk terus berinovasi. Adanya PET/CT dan SPECT/CT lewat kemitraan dengan GE HealthCare, pihaknya kini dapat menghadirkan layanan kedokteran nuklir yang lebih cepat, akurat, dan berpusat pada pasien. 

“Kami berharap teknologi ini dapat mempercepat proses diagnosis sekaligus memberikan kepercayaan lebih besar bagi pasien untuk menjalani pengobatan dengan hasil yang optimal,” kata dia.

Yudistira menjelaskan, rumah sakitnya memastikan layanan berbasis teknologi tinggi ini tetap terjangkau dan sesuai standar internasional.

“Yang kami pastikan bukan sekadar harga, tapi kualitas layanan. Karena ini berkaitan dengan teknologi nuklir, semua proses kami lakukan sesuai standar Bapeten dan IAEA,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa Mitra Keluarga telah menyiapkan tenaga medis lengkap, mulai dari dokter nuklir, radiografer, fisikawan medis, perawat, hingga petugas proteksi radiasi (PPR), agar keamanan dan akurasi hasil terjamin.

Sebelum fasilitas ini hadir, kata Yudistira, pasien yang berdomisili di Bekasi yang membutuhkan pemeriksaan PET Scan harus dirujuk ke Jakarta atau Bandung. Kini, dengan layanan di RS Mitra Keluarga Bekasi Timur, masyarakat bisa mendapatkan akses lebih cepat tanpa harus bepergian jauh.

“Lebih dari sekadar alat canggih, PET Scan membawa harapan baru dalam upaya deteksi dini kanker di Indonesia,  langkah kecil yang bisa membuat perbedaan besar dalam keselamatan pasien,” kata dia

CEO GE HealthCare Indonesia, Kriswanto Trimoeljo, menambahkan, teknologi seperti PET/CT dan SPECT/CT akan menjadi game-changer dalam penanganan kanker di Indonesia. 

“Kolaborasi ini mencerminkan komitmen GE HealthCare untuk mendukung transformasi sistem kesehatan nasional melalui inovasi teknologi dan kemitraan strategis dengan rumah sakit terkemuka seperti Mitra Keluarga,” kata dia.

Kriswanto menyebutkan bahwa GE HealthCare berinvestasi lebih dari US$1,3 miliar dalam penelitian dan pengembangan (R&D) teknologi medis, termasuk artificial intelligence (AI) untuk pencitraan diagnostik.

“Kami ingin membantu mempercepat diagnosis yang lebih akurat dan presisi. Saat ini kami punya lebih dari 100 AI yang sudah diakui secara global,” katanya. (Z-10)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya