Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
PERNAH menyesal memesan makanan terlalu pedas? Kini ada kabar baik: penelitian terbaru menemukan senyawa alami dalam cabai yang berfungsi sebagai “anti-spice” untuk menekan rasa terbakar di lidah. Temuan ini dipublikasikan di Journal of Agricultural and Food Chemistry dan membuka peluang hadirnya bumbu dapur baru untuk meredam pedas berlebih.
Tim ilmuwan dari Ohio State University menganalisis 10 varietas cabai dari empat spesies Capsicum, mulai dari Serrano, Scotch Bonnet, African Bird’s Eye, hingga Wiri Wiri.
Mereka menemukan lima senyawa penting yang berkorelasi negatif dengan rasa pedas, termasuk:
Ketiganya terbukti mampu mengurangi sensasi panas capsaicin, senyawa utama penyebab pedas.
Para peneliti menggunakan time-intensity analysis untuk menilai sensasi terbakar pada lidah hingga 8 menit.
37 relawan diberi uji coba “setengah lidah”: satu sisi dengan larutan capsaicin murni, sisi lain dengan campuran capsaicin dan senyawa penghambat.
Hasilnya: sisi dengan senyawa tambahan terasa lebih ringan, dengan penurunan panas sekitar 0,7–1,2 poin dari skala 15 poin.
Senyawa ini diduga bekerja dengan mengurangi interaksi capsaicin dengan reseptor TRPV1, sensor tubuh yang mendeteksi panas dan rasa sakit.
Uniknya, gingerglycolipid A bisa mengaktifkan TRPV1 tanpa menimbulkan rasa terbakar, seolah “menipu” reseptor agar tidak merespons penuh terhadap capsaicin.
Dengan kata lain, cabai tidak hanya soal kadar capsaicin, tetapi juga komposisi senyawa pendamping yang menentukan tingkat kepedasannya.
Temuan ini bisa berdampak besar pada dunia kuliner:
Profesor Devin Peterson dari Ohio State University menyebut, penggunaan bahan alami sebagai pengendali pedas bisa menjadi inovasi bumbu sehat di masa depan. (Green Stories, Study Finds/Z-10)
Gubernur Bangka Belitung. Hidayat Arsani mengatakan, cabai merupakan salah satu pangan yang menyumbang inflasi di Babel.
Harga cabai rawit dan telur di Pasar Gedhe Klaten turun hari ini 13 Januari 2026. Cek daftar lengkap harga sembako terbaru jelang Ramadan.
Harga bahan kebutuhan pokok masyarakat di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, kembali normal sementara, pasokan maupun stok aman dan lancar menjelang Ramadan.
Harga sejumlah komoditas pangan di Pasar Gedhe Klaten, Jawa Tengah, terpantau mulai stabil dan cenderung menurun, paling signifikan terjadi pada komoditas cabai dan telur ayam.
Kebutuhan cabai besar di Kepri mencapai 12.074 ton per tahun. Namun, produksi lokal saat ini baru berada di angka 4.508 ton.
Telur ayam dijual Rp22 ribu per kg, sementara harga di pasaran Rp28 ribu per kg. Gula pasir dijual Rp14.500 per kg, lebih murah dibanding harga pasar Rp17 ribu per kg.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved