Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
BANYAK penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia. Salah satu yang harus diwaspadai ialah Rift Valley Fever (RVF). Penyakit yang berasal dari Afrika tersebut menyerang hewan domestikasi seperti kambing, sapi, maupun unta. Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Mustofa Helmi Effendi menyebut virus yang berasal dari lembah Rift di Kenya tersebut telah menyebar sampai ke Timur Tengah khususnya Arab dan Yaman.
"Penyakit ini disebabkan oleh Rift Valley Virus yang menyerang pada hewan ternak dan dapat ditularkan ke manusia melalui nyamuk. Meskipun pada manusia umumnya tidak ditemukan gejala, namun pada sebagian kecil penderitanya menunjukkan gejala berat seperti gangguan penglihatan, radang otak dan selaput otak, dan keluar darah seperti DBD," kata Mustofa dalam keterangannya, Selasa (30/9).
Prof Helmi menyebut bahwa RVF memiliki dampak berbahaya bagi hewan seperti menyebabkan adanya kematian pada janin hewan (abortus). Pada hewan dewasa, penyakit RVF dapat menyebabkan gejala klinis yang menyerang organ hati pada hewan dan menyebabkan kerusakan organ seperti kematian sel (nekrosis) hingga penyakit pernafasan.
“Penyebaran virus pada sesama hewan dapat menyebar melalui darah yang disebarkan vektor seperti nyamuk, daging, dan cairan tubuh. Sedangkan pada manusia sering ditemukan transmisi melalui produk daging yang terpapar virus dan dikonsumsi. Namun demikian tidak ada potensi penyebaran penyakit dari manusia ke manusia lain,” ungkapnya.
Prof Helmi menambahkan bahwa untuk menangani penyebaran RFV diperlukan pengendalian vektor penyakit yaitu nyamuk dengan menggunakan sistem fogging dan meminimalisir genangan air yang berpotensi sebagai lokasi bertelur nyamuk. Perlu dilakukan pula penegakkan imunitas dengan proses vaksinasi berkala pada hewan untuk membentuk ketahanan imun hewan terhadap virus.
“Meskipun belum terdapat kasus di Indonesia, kita perlu terus waspada. Harapannya melalui pengenalan penyakit ini kita dapat membuka mata dan lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit yang berasal dari luar negeri. Kita perlu memahami dan mengimplementasikan langkah-langkah pencegahan agar tidak terjadi kasus infeksi kedepannya,” pungkasnya. (H-4)
ANCAMAN kesehatan global kembali muncul dari Tiongkok. Setelah virus corona yang menyebabkan pandemi covid-19, kali ini virus baru influenza D (IDV) ditemukan.
Epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, mengatakan virus influenza D memiliki karakteristik zoonosis seperti Flu Burung atau virus Nipah.
EPIDEMIOLOG Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman menyoroti hasil penelitian terbaru ilmuwan Tiongkok yang menemukan potensi penularan virus flu jenis baru, Influenza D (IDV).
Kelelawar merupakan reservoir berbagai virus berbahaya seperti nipah dan hendra. Sementara tikus, dengan kemampuan reproduksi tinggi, membawa lebih dari 80 jenis patogen.
Kasus persebaran penyakit zoonosis melalui hewan, khususnya tikus, masih belum banyak terungkap di Indonesia.
Menyambut Hari Raya Idul Adha 1446 H/2025 M, Kementerian Pertanian (Kementan) memperketat pengawasan kesehatan hewan kurban.
Pemerintah daerah diminta aktif melaporkan hasil pemeriksaan hewan, baik sebelum (antemortem) maupun sesudah pemotongan (postmortem), melalui aplikasi iSIKHNAS.
Kementan kembali mengimbau pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan dini terhadap penyakit hewan menular strategis (PHMS), termasuk penyakit mulut dan kuku (PMK).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved