Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA 25 tahun terakhir, IPB University mencatat keberadaan 117 jenis burung yang mendiami area Kampus Dramaga, Bogor. Data ini dicatat secara langsung oleh Pakar Ekologi Satwa Liar IPB University Abdul Haris Mustari.
Menurut Haris, catatan ini menegaskan peran penting kampus sebagai habitat satwa liar sekaligus laboratorium hidup bagi pendidikan dan penelitian keanekaragaman hayati.
Dosen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) IPB University itu juga menegaskan bahwa keberadaan burung di lingkungan kampus menjadi indikator penting kualitas ekosistem.
"Biodiversitas burung mencerminkan keseimbangan lingkungan. Jika ekosistem terjaga, satwa liar akan tetap dapat hidup berdampingan dengan aktivitas manusia," ujarnya.
Dari hasil pengamatan Haris, burung yang paling sering ditemukan antara lain cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster), cinenen jawa (Orthotomus sepium), wiwik kelabu (Cocomantis merulinus), ungkut-ungkut (Psilipigon haemacephala), dan tekukur (Streptopelia chinensis).
"Yang paling unik adalah burung kowak malam abu (Nycticorax nycticorax) dengan populasi lebih 100 ekor. Burung ini bisa dengan mudah ditemui di danau LSI dekat rektorat. Saya juga mengamati adanya burung langka seperti beluk jampuk (Bubo sumtranus), dan elang ular bido (Spilornis cheela)," papar Haris.
Lebih lanjut, Haris menyebutkan bahwa kekayaan biodiversitas ini memberikan peluang besar bagi IPB University untuk mengembangkan program edukasi berbasis konservasi.
IPB University, sebutnya, menjadi kampus eco-edutourism, serta dapat menjadi areal untuk kegiatan birdwatching.
Kampus Dramaga memiliki ruang terbuka hijau yang luas dan beragam, menjadikannya salah satu kawasan unik yang memadukan fungsi akademik, konservasi, dan wisata edukasi.
"Kampus ini bukan hanya tempat belajar, tetapi juga pusat pembelajaran tentang bagaimana manusia dapat menjaga keseimbangan dengan alam," tambahnya.
Sejumlah titik penting di area kampus seperti Telaga Inspirasi, Danau SDGs, Arboretum, Hutan Al-Hurriyyah, dan Taman Konservasi berperan signifikan dalam mendukung kelangsungan hidup berbagai jenis burung. Lokasi-lokasi ini menjadi habitat alami yang kaya akan sumber pakan dan perlindungan bagi satwa liar.
Haris menekankan perlunya sinergi antara akademisi, mahasiswa, dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan ekosistem kampus.
"Konservasi bukan hanya tugas peneliti atau pihak kampus. Semua pihak, termasuk masyarakat sekitar, perlu memiliki kesadaran dan kepedulian yang sama," tegasnya.
Melalui penelitian berkelanjutan, IPB University berkomitmen mengembangkan kawasan kampus sebagai living laboratory sekaligus zona konservasi biodiversitas.
Selain sebagai pusat kajian ilmiah, keberadaan burung di kampus juga menjadi sumber daya edukasi bagi publik, khususnya generasi muda, untuk memahami pentingnya menjaga keanekaragaman hayati.
"Data biodiversitas burung yang kami kumpulkan bukan sekadar catatan ilmiah, melainkan juga pesan tentang pentingnya melestarikan ruang hidup makhluk lain," pungkas Haris.
IPB University terus melakukan pemantauan rutin dan penelitian lanjutan guna memastikan kampus tetap menjadi kawasan ramah biodiversitas.
Ke depan, data keanekaragaman burung ini diharapkan dapat menjadi acuan kebijakan untuk pengelolaan ruang terbuka hijau serta pelestarian habitat satwa liar di kawasan kampus. (Z-1)
Menurut Simply Birding, habitat utama Nyctyornis amictus meliputi hutan tropis primer dan sekunder di Thailand, Semenanjung Malaysia, Sumatra, dan Kalimantan.
Burung beo malam (night parrot), salah satu burung paling misterius di dunia, kembali mengejutkan para ilmuwan.
Burung yang paling sering terlihat di punggung badak Afrika adalah oxpecker. Burung ini menghabiskan sebagian besar waktunya di tubuh hewan besar untuk mencari makan.
Burung purba memiliki keunggulan dalam pola makan. Paruh tanpa gigi memungkinkan mereka memakan biji-bijian dan sumber makanan sederhana yang masih tersedia.
Hasil penelitian ini tampaknya mendukung teori yang diajukan pada tahun 1970-an, yaitu bahwa burung liar mungkin mengalami kesalahan navigasi sederhana.
Salah satu hal yang menarik adalah burung wiwik kelabu jarang terlihat, tetapi suaranya sering terdengar. Akibatnya, suaranya kerap dianggap tanda kematian.
Sejumlah mahasiswa IPB University kembali mendapatkan kesempatan langka, tinggal gratis di dekat Kampus Dramaga.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved